KEPADA SIAPA AKU MENGADU "Part" 2

Kepada Siapa Aku Mengadu
Kisah Lala belum berakhir. "Part" 2

Pagi itu, Lala tetap melangkahkan kakinya menuju tempat kerja. Langkahnya goyah, namun dipaksakan tegak. Bisik-bisik halus dan tawa kecil yang sinis kembali menyambutnya—datang dari sekelompok rekan kerja yang berkumpul di sudut ruangan.

Lala duduk di kursinya. Tangannya gemetar saat membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sesekali, rekan satu ruangan melirik dari balik alis, seolah bertanya tanpa suara, “Apakah kamu tidak malu?”

Lala menarik napas panjang.
Biarkan saja. Aku harus kuat. Sebentar lagi Ramadan akan datang. Semoga hati orang-orang bisa berubah.

Namun, doa itu tak serta-merta mengusir sesak di dadanya. Perasaan tertekan justru semakin berat, apalagi setiap kali ingat perlakuan suaminya yang sejak kejadian itu berubah dingin. 

Hubungan mereka membeku. Rumah yang dulu hangat kini terasa seperti diselimuti salju.

Selama ini, Lala adalah istri yang patuh. Semua keperluan suaminya ditangani dengan  rapi, teliti dan tanggung jawab. Namun, Lala juga manusia—punya batas dan titik rapuh. Sejak peristiwa itu, ia sering mengabaikan kewajibannya. Ia lebih sering duduk termenung, menatap kosong, ditemani rintik air mata yang jatuh tanpa tujuan.

Ramadan pun tiba.

Lala mencoba menghampiri rekan-rekannya, mengulurkan salam dan ajakan bermaafan. Ada yang menjawab dengan senyum tipis, ada pula yang berlalu begitu saja, seolah mencari sesuatu yang tak pernah ada. Dada Lala kembali terasa sesak. Ia menghela napas perlahan.
Beginilah rasanya tak punya pelindung, batinnya.

Dunia terasa hampa.

Ia pulang ke rumah. Rumah yang dulu penuh tawa kini diselimuti awan gelap yang pekat. Ramadan datang membawa kegembiraan bagi banyak orang, namun tidak bagi Lala. Hatinya kosong. Bahkan Tuhan pun terasa begitu jauh.

Hari ketiga Ramadan, pukul empat sore, Lala masih terbaring di tempat tidur dengan selimut tebal. Suaminya masuk ke kamar.
“Lala, kamu sudah tidak seperti dulu. Biasanya jam segini sudah sibuk di dapur, dan bertanya mau bukaannya  apa hari ini,” katanya.

“Sekarang, kamu baru turun dari tempat tidur saat suara azan Magrib hampir berkumandang.”
Lala diam. Air matanya mengalir deras di balik selimut yang menutupi wajah dan kepalanya.

Suaminya kembali bertanya.

Sesak di dada Lala tak tertahankan lagi.
Ia bangkit, meraih ponselnya, lalu membuka rekaman CCTV—bukti bagaimana ia diperlakukan oleh rekan-rekan kantornya.“.Coba lihat,” suaranya bergetar.“ Betapa sakitnya diriku ini. Kepada siapa aku harus mengadu?”

Ponsel itu disambar cepat oleh suaminya. Jemarinya yang panjang membuka satu per satu rekaman. Matanya menatap tajam, menyaksikan bagaimana istrinya diperlakukan tanpa jeda.

Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dadanya naik turun menahan perasaan yang bergolak.
Ia menarik selimut yang menyelimuti istrinya.

“Yuk, La. Kita cari takjil. Tidak usah bersedih lagi,” katanya lirih sambil meletakkan ponsel di samping Lala.

Ia tersenyum tipis,  dengan raut wajah sedih.

“Ayo bangkit. Kita jalan sore. Hari ini tidak usah memasak, kita beli saja. Kita lihat ramainya orang di pasar Ramadan.”

Lala bangkit dengan tubuh lemas. Tangannya ditarik lembut—bukan sekadar ajakan berjalan, melainkan isyarat penguatan.

Di dalam mobil, Lala diam seribu bahasa. Setiap pertanyaan dijawab pelan, seolah suaranya tertahan di tenggorokan. Pandangannya terus tertuju ke jendela kiri. Air mata kembali jatuh.

Sejak kejadian itu, dunia terasa asing. Setiap melihat orang, kecemasan datang—seolah semua mata sedang menertawakannya.

Sepulang salat tarawih, suaminya menghampiri Lala yang duduk di tepi ranjang, memunggunginya.
“Lala… sudah ya,” ucapnya pelan.
“Maafkan aku. Kita hadapi ini bersama. Bukan aku tidak mau membelamu, tapi kekuatanku belum sampai.”

Ia memegang kepala Lala, menariknya ke bahu.
Lala tetap diam.
“Semoga Tuhan membalas semuanya,” lanjutnya.

Suaminya berdiri, menghela napas panjang. Air matanya jatuh ke lantai.
“Kenapa menangis?” tanya Lala lirih.
Ia tak menjawab.

Keesokan harinya, Lala bersiap berangkat kerja. Saat hendak melangkah keluar, terdengar suara memanggil.

“La, biar Abang yang mengantar. Mulai hari ini kita berangkat bersama.”
Lala terdiam. Kunci motor di tangannya diambil pelan. Ia menurut, perlahan berdamai dengan dirinya sendiri untuk kembali menerima kehadiran suaminya.

Lala adalah manusia biasa. Meski kini dirangkul, hatinya belum sepenuhnya pulih. Masih ada kehampaan yang tersisa.

Melihat wajah kosong itu, hati suaminya teriris. Namun ia memilih menyembunyikannya. 

Ia mengajak Lala berbelanja, mencicipi makanan sederhana, mencoba menyalakan kembali cahaya kecil di hati istrinya.

Lala belajar satu hal:
bahwa luka tidak selalu sembuh seketika,
bahwa kuat bukan berarti tidak menangis,
dan bahwa mengadu kepada Tuhan kadang dilakukan dalam diam—sambil terus melangkah.

Kisah Lala belum berakhir.
Namun hari itu, ia memilih untuk tetap hidup

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu