Postingan

SAAT IBU MENJUAL KENANGAN TERAKHIR DEMI ANAK

Gambar
Azan subuh berkumandang ketika Rahma membuka pintu rumah kayunya perlahan. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Kabut tipis masih menggantung di jalan kecil depan rumah. Dengan langkah pelan, ia membawa baskom besar berisi adonan gorengan ke dapur kecil di samping rumah. Sudah hampir sepuluh tahun Rahma menjalani hidup seperti itu. Bangun sebelum subuh. Menyalakan tungku. Menggoreng pisang, bakwan, dan tahu isi. Lalu menjualnya di depan sekolah dasar dekat pasar. Sejak suaminya meninggal karena kecelakaan kerja, Rahma menjadi ibu sekaligus ayah bagi dua anaknya: Arif dan Nisa. Orang-orang sering kasihan melihat hidupnya. Tetapi Rahma jarang mengeluh. “Allah tidak pernah salah memberi ujian,” begitu jawabnya setiap kali ada yang bertanya. Pagi itu, Arif membantu mengangkat meja jualan ke depan rumah. “Bu, biar Arif saja yang angkat.” Rahma tersenyum kecil. “Kau sudah mau kuliah nanti. Jangan terlalu capek.” Arif tertawa pelan. “Belum tentu jadi kuliah, Bu.” Kalimat itu me...

TIGA JAM KARENA SATU PERTANYAAN

Gambar
Raka adalah pengusaha yang punya usaha di Kota A. Jarak dari Kota A ke rumahnya sekitar tiga jam perjalanan. Tiga jam kalau jalan lancar. Kalau macet? Bisa sambil menanam cabai dulu di pinggir jalan. Sementara istrinya, Rara, tinggal di kota kelahiran mereka bersama tiga anak. Rara bekerja sebagai pegawai swasta. Hidup mereka harmonis walaupun berjauhan. Banyak orang heran melihat Raka. “Ka, serius kau kuat jauh dari istri?” Raka mengangguk. “Kuat.” “Godaan banyak loh di Kota A.” Raka santai minum kopi. “Yang menggoda memang banyak.” “Nah kan.” “Tapi yang transfer uang sekolah anak cuma istri.” Sejak itu teman-temannya diam. Malam itu sekitar pukul delapan, Rara menelepon seperti biasa. “Bang…” “Iya sayang.” “Sudah makan?” “Sudah.” “Capek ya hari ini?” “Lumayan.” Hening sebentar. Lalu keluarlah pertanyaan rutin itu. “Abang pulang hari ini?” Raka langsung berdiri dari kursinya. Telepon ditutup. Temannya yang sedang duduk di kantor heran. “Mau ke mana?” “Pulang.” “Sekarang?!”...

BILA DIRI INGIN DIKENANG, TABURILAH BENIH DI TENGAH SAWAH

Gambar
Kabut pagi masih menggantung di atas hamparan sawah. Embun menempel di ujung daun padi, berkilau diterpa cahaya matahari yang baru saja menyembul dari balik bukit. Burung-burung pipit beterbangan rendah, sementara suara kodok yang semalam bersahutan mulai menghilang, digantikan desir angin yang membelai tanaman muda. Di sebuah pematang sempit, seorang lelaki tua melangkah perlahan sambil membawa sebakul benih padi. Punggungnya telah membungkuk dimakan usia, kulitnya legam karena bertahun-tahun bersahabat dengan matahari. Namun langkahnya tetap mantap. Tangannya yang keriput menebarkan benih ke sawah yang baru selesai dibajak. Tidak jauh dari sana, seorang pemuda bernama Arga duduk termenung di atas batu besar. Matanya kosong memandang hamparan hijau yang luas. Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih tua karena beban pikiran. Beberapa bulan terakhir hidupnya terasa seperti runtuh sedikit demi sedikit. Usaha kecil yang dirintisnya bangkrut. Teman-te...

100 TAHU JAM GADANG: DENTANG WAKTU YANG TAK PERNAH LELAH

Gambar
Di tengah kota Bukittinggi berdiri sebuah bangunan yang bukan hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga menjadi penanda sejarah, budaya, dan perjalanan kehidupan masyarakat Minangkabau.  Jam Gadang telah berdiri selama seratus tahun, tetap kokoh menghadapi perubahan zaman, tetap setia berdentang di tengah hiruk-pikuk kehidupan manusia yang terus berubah dari masa ke masa. Bagi banyak orang, Jam Gadang hanyalah sebuah menara jam tua yang menjadi ikon wisata. Orang datang untuk berfoto, menikmati suasana kota, atau sekadar duduk di taman sambil melihat lalu lalang manusia. Namun bagi mereka yang mau merenung lebih dalam, Jam Gadang adalah sebuah pengingat tentang waktu, tentang kehidupan, dan tentang perjalanan manusia yang tidak pernah berhenti. Seratus tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam waktu selama itu, dunia telah berubah berkali-kali. Generasi datang dan pergi. Anak-anak tumbuh menjadi dewasa, lalu menjadi tua. Banyak orang lahir, banyak pula yang meninggal...

BERANI MENJADI DIRI SENDIRI

Gambar
Nayla berdiri lama di depan cermin kamar kosnya. Tangannya menarik pelan bagian baju yang terasa sempit di pinggang. “Kenapa sih badanku nggak kayak Dita?” gumamnya pelan. Ia memandangi tubuhnya dengan wajah kecewa. Menurutnya, tubuhnya terlalu berisi. Tidak gemuk, tetapi juga tidak kurus seperti perempuan-perempuan yang sering ia lihat di media sosial atau teman-temannya di kantor. Padahal banyak orang mengatakan Nayla cukup menarik. Kulitnya bersih, wajahnya manis, dan senyumnya hangat. Namun, semua pujian itu seolah tidak pernah masuk ke dalam hatinya. Yang Nayla lihat setiap bercermin hanyalah kekurangan. Di kantor, Nayla bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta. Ia dikenal ramah dan teliti. Namun di balik itu, Nayla selalu kurang percaya diri, terutama soal penampilan. Suatu pagi, pengumuman besar ditempel di papan informasi kantor. “Acara Gathering Nasional Perusahaan akan dilaksanakan di Hotel Grand Mahkota…” Sorak gembira terdengar di mana-mana....

LEBIH BAIK DISINI

Gambar
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering di halaman rumah tua itu. Suaranya lirih—seperti bisikan yang tak pernah selesai, seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi. Di ambang pintu, Sariyah berdiri diam, memandangi jalan tanah yang perlahan sepi. Tak ada yang datang. Tak ada yang mengetuk. Dan ia telah lama belajar berdamai dengan itu. Rumah itu nyaris rapuh. Dindingnya retak, catnya memudar, atapnya kerap bocor saat hujan turun deras. Namun entah bagaimana, rumah itu tetap berdiri—teguh, seperti dirinya. Sendiri. Namun tak runtuh. Dari kejauhan, suara dua perempuan melintas bersama angin. “Kasihan ya… sudah tua begitu, ditinggal anak-anaknya.” “Iya… anaknya pada ke kota semua. Tidak ada yang mau urus." Sariyah mendengar. Jelas. Namun ia tak menoleh. Tak marah. Tak pula tersenyum. Ia tahu—tak semua yang tampak di luar adalah kebenaran. Dan tak semua kesendirian lahir dari ditinggalkan. Langkah kaki tergesa memecah sunyi. “Mak!” Sariyah menoleh ce...

REUNI YANG MENGHIDUPKAN CINTA TERLARANG

Gambar
Disebuah  SMA ternama di kota besar, nama sekolah itu selalu dibanggakan. Gedungnya megah, siswanya cerdas, dan sebagian besar berasal dari keluarga berada. Di antara keramaian itu, ada Yuan—sosok yang biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak pula buruk. Ia hanya… ada. Berbeda dengan Raran. Raran adalah pusat perhatian. Cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak yang mengaguminya, tapi tak semua berani mendekat. Termasuk Yuan. Entah sejak kapan, Yuan mulai memperhatikan Raran. Dari cara ia tertawa hingga keseriusannya saat belajar. Diam-diam, Yuan menyimpan rasa. Tidak untuk dimiliki, cukup untuk disadari. Beberapa kali Yuan mencoba mendekat, sekadar menyapa. Tapi Raran tak benar-benar merespons. Bukan jahat—hanya tidak tertarik. Dunia mereka terasa berbeda. Hari-hari berlalu hingga tiba masa perpisahan. Suasana haru memenuhi aula sekolah. Semua sibuk berfoto, mengabadikan kenangan terakhir. Yuan berdiri agak jauh, memandangi Raran yang dik...