RUANG TANPA PINTU "Part" 1
Catatan Redaksi: Seluruh nama tokoh, instansi, jabatan, dan detail peristiwa dalam cerpen ini telah disamarkan. Cerita ini tidak merujuk pada individu, lembaga, atau kejadian tertentu. Kesamaan dengan peristiwa nyata adalah kebetulan semata.
"Part" 1
Lala bekerja di sebuah perusahaan yang, bagi sebagian orang, tampak biasa saja. Pekerjaannya tidak berat—bahkan bisa dibilang teratur dan jelas. Namun, yang paling melelahkan bukanlah tumpukan berkas atau jam kerja, melainkan tekanan batin yang setiap hari ditempa perlahan oleh sikap pimpinan dan lingkaran kecil yang sengaja dibentuk untuk menciptakan ketidaknyamanan bagi siapa pun yang dianggap menghalangi kepentingan mereka.
Lala dikenal rajin. Ia bekerja dengan sepenuh hati dan kehati-hatian. Baginya, bekerja adalah ibadah. Dari keyakinan itulah ide-idenya mengalir tanpa diminta. Hampir seluruh waktunya di instansi dihabiskan untuk bekerja, bukan untuk berkumpul atau bergosip seperti sebagian sesama pegawai.
Justru karena itulah Lala kerap menjadi sasaran. Gosip beredar tanpa jeda, fitnah tumbuh tanpa bukti. Anehnya, ketika pekerjaan orang lain tak berjalan sesuai rencana, nama Lala selalu disebut. Ia dimintai bantuan, dimintai solusi, dan selalu memberi dengan tulus—meski kebaikannya sering dipelintir menjadi cerita lain di belakangnya.
Suatu hari, Lala dipanggil ke ruangan pimpinan penjuala yang bukan atasan langsung Lala. Ia melangkah dengan hati ringan. Dua hari sebelumnya, ia membantu menyukseskan sebuah seminar besar dengan ratusan peserta. Ia mengira pemanggilan itu adalah bentuk evaluasi atau ucapan terima kasih.
Namun begitu Lala masuk, langkahnya terhenti.
Di dalam ruangan sudah ada beberapa orang. Pintu ditutup rapat. Jantungnya berdegup cepat.
Tanpa pembuka, tanpa penjelasan, Lala seperti diseret ke sebuah sidang tak resmi. Satu per satu sesama pegawai melontarkan tuduhan: ia disebut membocorkan rahasia instansi, menyebarkan aib orang lain. Sebuah jari menekan punggungnya dengan kasar. Suara keras menggema. Dada Lala sesak, air mata menggenang, tetapi ia menahannya—malu bukan karena bersalah, melainkan karena dipermalukan.
Ia tidak diberi kesempatan bicara. Pertanyaan datang bertubi-tubi hingga kesabarannya runtuh.
“Apa yang saya bocorkan?” suaranya bergetar, namun tegas. “Aib apa yang saya sebar? Sebutkan.”
Sunyi menggantung. Tak satu pun tuduhan terbukti. Pintu akhirnya dibuka, dan Lala keluar dengan langkah gontai.
Namun penderitaannya tak berhenti di sana. Fitnah justru dipelintir ulang. Sindiran halus, tatapan, dan bisikan terus mengiringinya. Hari itu, Lala pulang dengan tubuh utuh, tetapi jiwa yang retak.
Di rumah, ia bercerita kepada suaminya. Dengan suara lirih, dengan air mata yang akhirnya jatuh.
“Kebenaran tidak selalu menang hari ini,” kata suaminya pelan, “tapi ia tidak pernah benar-benar kalah.”
Kalimat itu tak menyembuhkan apa pun.
Keesokan harinya, pesan dari pejabat tertinggi muncul di grup perusahaan. Kalimat-kalimatnya resmi dan dingin, menyudutkan tanpa menyebut nama. Semua orang tahu arah tudingannya. Grup mendadak sunyi. Tak ada yang membela. Tak ada yang bertanya.
Lala menutup ponselnya. Ia tahu, membela diri di ruang yang telah condong pada prasangka hanya akan mengubah kebenaran menjadi perdebatan yang timpang.
Siang itu, di depan cermin kamar kecil, ia bertanya pada bayangannya sendiri: salah apa aku bekerja dengan jujur?
Di sanalah ia mulai paham—masalah ini bukan tentang kesalahan, melainkan tentang kuasa. Tentang siapa yang didengar, dan siapa yang sengaja dibungkam.
Malam-malam berikutnya, Lala mengingat tempat kerja lamanya. Di tempat kerja lamanya, dengan latar keyakinan yang beragam, ia justru dihargai sebagai manusia. Karyanya diakui, pengabdiannya dihormati.
“Di sana aku diterima,” gumamnya lirih. “Tapi di sini, di tempat orang-orang yang mengaku paling mengenal kebenaran, ke mana keadilan itu pergi?”
Sebelum melangkah lebih jauh, Lala kembali mengadu pada suaminya.
“Aku sudah tidak sanggup,” katanya pelan. “Aku dirundung, difitnah, dipermalukan. Aku butuh kamu berdiri di sisiku.”
“Aku kenal pimpinanmu,” jawab suaminya. “Dia temanku."
Lala terdiam. Luka lama kembali terbuka.
“Aku pernah dihormati,” katanya dengan suara gemetar. “Sekarang aku diinjak, dan kamu memintaku bersabar?”
Kata cerai melayang di antara mereka. Suaminya diam. Bungkam. Tak ada pelukan.
Malam itu, Lala melapor ke pihak berwajib. Ia menemui psikolog, berharap menemukan ruang aman. Namun setelah sesi demi sesi, dadanya tetap sesak.
“Jika hukum tak berpihak, keluarga menutup mata, dan lingkungan membiarkan,” tanyanya pada diri sendiri, “di mana keadilan itu berada?”
Kasus itu sempat sampai ke meja polisi. Namun demi ketenangan rumah tangga, dan permohonan suaminya Lala diminta mencabut laporan. Pimpinan pucuk juga menyarankan hal yang sama, menjanjikan rapat dan penyelesaian secara kekeluargaan.
Rapat itu tak pernah datang.
Sebaliknya, tawa dan sindiran semakin lantang.
“Kapan kita dipanggil polisi?”
“Ibadah kuat, tapi hati busuk.”
Lala menunduk. Ia bertahan bukan karena lemah, melainkan karena di rumah ada keluarga yang menunggunya.
Dan di antara tawa-tawa itu, Lala belajar satu hal: kadang keberanian terbesar bukan melawan dengan suara keras, melainkan tetap berdiri—meski dunia memilih menertawakan lukanya.
Kisah Lala belum selesai.
Keren👍
BalasHapus