BERANI BENAR, MESKI HARUS SENDIRIAN
Di sebuah kantor pelayanan masyarakat, Rahma dikenal sebagai pegawai yang tegas namun lembut. Senyumnya ramah, tutur katanya santun. Tetapi siapa pun tahu, ketika menyangkut keputusan, ia tak pernah bermain-main dengan kebenaran. Suatu siang, berkas penting mendarat di mejanya. Nama yang tertera membuat jantungnya berdegup lebih cepat—pamannya sendiri. Ia mengajukan bantuan dengan data yang “dirapikan”. Tidak sepenuhnya benar. “Rahma,” bisik rekan kerjanya, “ini keluargamu. Tak apa sedikit dilonggarkan.” Rahma menatap lembar demi lembar kertas itu. Ia teringat firman Allah dalam Al-Qur'an, pada Surah An-Nisa ayat 135—perintah untuk menjadi penegak keadilan, bahkan jika itu terhadap diri sendiri atau kaum kerabat. Di dalam hatinya terjadi pergulatan. Ia mencintai keluarganya. Ia tak ingin dianggap durhaka atau tak tahu balas budi. Namun ia juga sadar, jabatan adalah amanah. Dan amanah bukan milik keluarga—ia milik Allah. Sore itu, Rahma mendatangi pamannya dengan wajah t...