"Part 8" Kisah Lala DIANTARA TUDUHAN DAN TANGGUNG JAWAB
Sebulan telah berlalu sejak Abel mengikuti lomba promosi produk tingkat provinsi. Namun, bagi Lala, tugas belum benar-benar usai. Masih ada satu pekerjaan besar yang menantinya: promosi produk internasional perusahaan, dengan pembicara dari Malaysia, Eropa, dan juga dari dalam negeri.
Malam itu mata Lala tak kunjung terpejam. Waktu sudah larut, tetapi pikirannya terus berkelana pada rangkaian kegiatan yang harus ia susun. Semakin diingat, tubuhnya terasa tidak nyaman. Hingga akhirnya, menjelang subuh, Lala tertidur dalam lelah yang belum benar-benar reda.
Pagi tiba. Seperti biasa, Lala memulai harinya di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga.
“Ma, ada telepon,” ujar anaknya
“Ini, Ma, sudah Dino angkat,” tambah Dino sambil menyerahkan telepon genggam.
Lala mengambil ponsel itu. “Terima kasih, Nak,” sapanya lembut.
Dari seberang terdengar suara Putri.
“Assalamualaikum, La.”
“Waalaikumsalam, Put.”
“La, soal kegiatan promosi internasional itu jangan lupa, ya. Kemarin sore aku sempat berteduh di kantor kebetulan Pak Anto masih ada di kanto. Beliau juga mengingatkan agar kamu segera mulai merancang kegiatan itu.
Katanya, ini acara besar dan cukup menyita pikiran.”
“Iya, Put. Terima kasih sudah mengingatkan. Nanti Lala rancang. Tolong dibantu juga, ya.”
“Oke, La.”
Telepon pun ditutup.
Setibanya di kantor, Lala duduk di kursinya dan membuka dokumen satu per satu tentang kegiatan yang selama ini diam-diam sudah ia pikirkan.
“Hai, La…” sapa Putri yang baru datang dan langsung duduk di kursinya.
“Pak Anto di mana? Yang lain ke mana?”
“Pak Anto di ruang Kepala. Yang lain tadi ada di sini, mungkin ke kamar kecil.”
“Put, ini rangkaian kegiatan promosi internasional. Bagaimana menurutmu?”
Putri membaca sekilas. “Wah… keren! Salut, La.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar panggilan dari luar.
“Bu Lala, dipanggil Bapak Kepala. Pak Anto juga sudah menunggu di ruangan.”
“La, kamu dipanggil,” ujar Putri.
Lala berdiri dan melangkah menuju ruang Kepala
Tok… tok… tok…
“Masuk, La,” terdengar suara Kepala Kantor.
“Ada apa, Pak?” tanya Lala dengan suara tenang.
“Ini ada Pak Anto. Katanya kamu tidak mau melaksanakan kegiatan promosi internasional. Coba jelaskan.
Lala terdiam sejenak, lalu berkata tegas.
“Izin, Pak. Kapan saya mengatakan tidak mau melaksanakan kegiatan ini? Saya tidak pernah menyampaikan hal itu.”
Kepala Kantor menoleh ke Pak Anto. “Pak Anto, tolong jelaskan.
Pak Anto terlihat gugup. “Begini, Pak. Saya melihat satu bulan ini semangat kerja Lala sedikit berkurang. Jadi saya menilai mungkin Lala tidak ingin mengerjakannya.”
Kepala Kantor menghela napas. “Kalau begitu, itu belum bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan Lala tidak mau menjalankan kegiatan ini.”
“Bagaimana, La?” tanya beliau.
“Pak, kalau memang Bapak ingin mengganti saya, silakan tunjuk teman yang lain.”
“Bukan begitu, La,” sahut Pak Anto cepat.
“La, mulailah rancang kegiatan ini. Kalau diberikan ke yang lain, mungkin tidak akan terkoordinasi dengan baik. Kamu sudah terbiasa menangani event besar.” Sela Kepala Kantor.
Lala terdiam. Banyak kata ingin ia sampaikan, tetapi ia memilih menahan diri.
“Baik, Pak,” jawabnya singkat.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Izin, Pak. Ini rancangan kegiatan yang sudah saya siapkan.”
Pak Kepala membaca dengan saksama. Kepalanya mengangguk-angguk.
“La, bagaimana cara menghubungi para pembicara nanti?
Lala menjelaskan secara rinci: alur komunikasi, jadwal, hingga teknis koordinasi.
“Izin, Pak. Siang ini saya akan menghubungi asisten para pembicara. Kontaknya sudah ada. Sebenarnya pagi ini saya ingin melapor ke Pak Anto, tetapi beliau sudah berada di sini.”
Pak Anto diam dengan wajah merah karena apa yang disampaikan ke Pimpinan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Baik, La. Jalankan saja. Semoga sukses. Pak Anto, tolong dibantu sebagai kepala ruangan.”
“Ya, Pak,” jawab Pak Anto dengan nada datar.
“Izin, Pak, saya kembali ke ruangan.”
Setelah kembali, Putri langsung menghampirinya.
“La, ada apa? Kenapa dipanggil?”
“Pak Anto melaporkan bahwa Lala tidak mau melaksanakan kegiatan ini. Untung rancangan sudah Lala siapkan sejak satu bulan lalu, setelah kita mengantar Abel ke tingkat provinsi.”
“Pak Anto itu memang—”
“Memang apa Put,” potong Lala lembut. sambil tersenyum tipis.
Lala dan Putri tersenyum sambil berpandangan.
“Sekarang mau ke mana La?”
“Aku mau hubungi narasumber lewat email dan telepon. Kalau Putri mau ikut, ayo.”
“Putri di sini saja, La. Nanti tidak enak kalau dilihat orang.”
Lala memahami maksud sahabatnya itu. Putri adalah rekan yang selama ini diam-diam selalu menguatkannya. Di tengah tekanan dan prasangka yang kadang datang tanpa alasan, Putri hadir sebagai penenang. Namun, kebersamaan mereka di kantor tak pernah ditunjukkan secara berlebihan. Lala tidak ingin kedekatan itu menjadi bahan pembicaraan atau menambah kebencian yang mungkin sudah ada.
Bagi Lala, dukungan tak harus terlihat. Cukup dirasakan, cukup menguatkan.
“Baik.” jawab Lala dengan tenang.
Lala mengambil laptopnya dan melangkah ke gazebo kecil di halaman kantor. Di sana, ia membuka laptop dan mulai bekerja. Email dikirim satu per satu kepada calon narasumber. Balasan pun berdatangan.
Dengan proposal yang telah ia siapkan dengan matang, calon pembicara dari Malaysia dan Belanda menyatakan kesediaan hadir dalam kegiatan promosi internasional tersebut.
Hati Lala terasa lega. Satu per satu langkah mulai menemukan titik terang.
Namun, di balik rasa senangnya, terselip kegelisahan. Ia sudah sering merasakan hal yang sama: di awal kegiatan, semua terasa manis. Ia dipuji, diperhatikan, bahkan disanjung. Tetapi ketika acara mendekati hari pelaksanaan, kesalahan sekecil apa pun kerap dibebankan kepadanya. Ia seolah menjadi tempat pelampiasan jika ada yang tidak berjalan sesuai harapan.
Lala menutup laptopnya perlahan. Angin siang berembus lembut menyentuh wajahnya.
Ia menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa,” gumamnya pelan. “Selama niatku bekerja adalah amanah, bukan pujian, aku harus tetap berdiri.”
Di tengah keraguan dan tekanan, Lala memilih tetap melangkah. Karena baginya, integritas tidak dibuktikan dengan banyak bicara, melainkan dengan kerja nyata yang tak perlu diumbar.
Komentar
Posting Komentar