RINDU YANG TERTINGGAL DI PUNDAK AYAH
Ayah sudah tiada. Kalimat itu sederhana… tapi setiap kali aku mengucapkannya dalam hati, rasanya seperti ada yang runtuh pelan-pelan di dalam dada. Rumah ini masih sama. Kursi di teras itu masih di tempatnya. Pintu yang dulu selalu terbuka saat ayah pulang… masih berdiri seperti biasa. Tapi entah kenapa… semuanya terasa kosong. Dulu, aku selalu menunggu ayah. Setiap sore menjelang malam, aku duduk di dekat pintu. Kadang sambil mengantuk, kadang sambil memandangi jalan yang mulai gelap. Dan ketika sosok itu akhirnya muncul… Langkah pelan… baju yang basah oleh keringat… wajah yang lelah… Aku tahu… itu ayah. “Ayah pulang!” Aku berlari kecil memeluknya. “Ayah capek?” tanyaku. Ayah hanya tersenyum. “Kalau kamu senang… capek ayah hilang.” Dulu aku percaya. Sekarang aku tahu… ayah hanya tidak ingin kami ikut merasakan lelahnya. Ayah bukan siapa-siapa di mata orang lain. Ia bukan pegawai. Tidak punya gaji tetap. Tidak punya jaminan hidup. Yang ia punya… hanya tekad. Setiap ...