AKU TIDAK PERLU TAHU
Aku capek… bukan karena hidup berat, tapi karena aku ingin tahu semua jawabannya. Subuh itu datang seperti biasa—sunyi, pelan, nyaris tak terasa. Namun pagi itu, ada yang berbeda. Aku terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Seperti ada yang memanggil, lembut, tapi tak memberi pilihan untuk diabaikan. Mataku terbuka, menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Hening. Bahkan detak waktu terasa melambat. Aku duduk di tepi ranjang. Ada yang mengganjal di dada. Bukan luka yang jelas bentuknya, bukan pula kesedihan yang bisa langsung kusebut. Lebih seperti kumpulan rasa yang selama ini kutahan—lelah, kecewa, cemas, dan entah kenapa… kosong. Aku menarik napas panjang, lalu berdiri. Air wudhu menyentuh wajahku. Dingin. Menyadarkan. Tapi yang lebih terasa adalah sesuatu di dalam—seperti perlahan diluruhkan, meski belum sepenuhnya hilang. Aku membentangkan sajadah. Sholat Subuh itu terasa berbeda. Tidak tergesa, tidak sekadar menggugurkan kewaj...