Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

RINDU YANG TERTINGGAL DI PUNDAK AYAH

Gambar
Ayah sudah tiada. Kalimat itu sederhana… tapi setiap kali aku mengucapkannya dalam hati, rasanya seperti ada yang runtuh pelan-pelan di dalam dada. Rumah ini masih sama. Kursi di teras itu masih di tempatnya. Pintu yang dulu selalu terbuka saat ayah pulang… masih berdiri seperti biasa. Tapi entah kenapa… semuanya terasa kosong. Dulu, aku selalu menunggu ayah. Setiap sore menjelang malam, aku duduk di dekat pintu. Kadang sambil mengantuk, kadang sambil memandangi jalan yang mulai gelap. Dan ketika sosok itu akhirnya muncul… Langkah pelan… baju yang basah oleh keringat… wajah yang lelah… Aku tahu… itu ayah. “Ayah pulang!” Aku berlari kecil memeluknya. “Ayah capek?” tanyaku. Ayah hanya tersenyum. “Kalau kamu senang… capek ayah hilang.” Dulu aku percaya. Sekarang aku tahu… ayah hanya tidak ingin kami ikut merasakan lelahnya. Ayah bukan siapa-siapa di mata orang lain. Ia bukan pegawai. Tidak punya gaji tetap. Tidak punya jaminan hidup. Yang ia punya… hanya tekad. Setiap ...

REUNI YANG MENGHIDUPKAN CINTA TERLARANG

Gambar
Disebuah  SMA ternama di kota besar, nama sekolah itu selalu dibanggakan. Gedungnya megah, siswanya cerdas, dan sebagian besar berasal dari keluarga berada. Di antara keramaian itu, ada Yuan—sosok yang biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak pula buruk. Ia hanya… ada. Berbeda dengan Raran. Raran adalah pusat perhatian. Cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak yang mengaguminya, tapi tak semua berani mendekat. Termasuk Yuan. Entah sejak kapan, Yuan mulai memperhatikan Raran. Dari cara ia tertawa hingga keseriusannya saat belajar. Diam-diam, Yuan menyimpan rasa. Tidak untuk dimiliki, cukup untuk disadari. Beberapa kali Yuan mencoba mendekat, sekadar menyapa. Tapi Raran tak benar-benar merespons. Bukan jahat—hanya tidak tertarik. Dunia mereka terasa berbeda. Hari-hari berlalu hingga tiba masa perpisahan. Suasana haru memenuhi aula sekolah. Semua sibuk berfoto, mengabadikan kenangan terakhir. Yuan berdiri agak jauh, memandangi Raran yang dik...

LEBIH BAIK DISINI

Gambar
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering di halaman rumah tua itu. Suaranya lirih—seperti bisikan yang tak pernah selesai, seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi. Di ambang pintu, Sariyah berdiri diam, memandangi jalan tanah yang perlahan sepi. Tak ada yang datang. Tak ada yang mengetuk. Dan ia telah lama belajar berdamai dengan itu. Rumah itu nyaris rapuh. Dindingnya retak, catnya memudar, atapnya kerap bocor saat hujan turun deras. Namun entah bagaimana, rumah itu tetap berdiri—teguh, seperti dirinya. Sendiri. Namun tak runtuh. Dari kejauhan, suara dua perempuan melintas bersama angin. “Kasihan ya… sudah tua begitu, ditinggal anak-anaknya.” “Iya… anaknya pada ke kota semua. Tidak ada yang mau urus." Sariyah mendengar. Jelas. Namun ia tak menoleh. Tak marah. Tak pula tersenyum. Ia tahu—tak semua yang tampak di luar adalah kebenaran. Dan tak semua kesendirian lahir dari ditinggalkan. Langkah kaki tergesa memecah sunyi. “Mak!” Sariyah menoleh ce...

AKU TIDAK PERLU TAHU

Gambar
Aku capek… bukan karena hidup berat, tapi karena aku ingin tahu semua jawabannya. Subuh itu datang seperti biasa—sunyi, pelan, nyaris tak terasa. Namun pagi itu, ada yang berbeda. Aku terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Seperti ada yang memanggil, lembut, tapi tak memberi pilihan untuk diabaikan. Mataku terbuka, menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Hening. Bahkan detak waktu terasa melambat. Aku duduk di tepi ranjang. Ada yang mengganjal di dada. Bukan luka yang jelas bentuknya, bukan pula kesedihan yang bisa langsung kusebut. Lebih seperti kumpulan rasa yang selama ini kutahan—lelah, kecewa, cemas, dan entah kenapa… kosong. Aku menarik napas panjang, lalu berdiri. Air wudhu menyentuh wajahku. Dingin. Menyadarkan. Tapi yang lebih terasa adalah sesuatu di dalam—seperti perlahan diluruhkan, meski belum sepenuhnya hilang. Aku membentangkan sajadah. Sholat Subuh itu terasa berbeda. Tidak tergesa, tidak sekadar menggugurkan kewaj...

SENYUM YANG SALAH ARAH

Gambar
Ria dan Salsa bukan sekadar teman. Mereka adalah bagian dari masa kecil yang sama—bermain di halaman sempit, berbagi rahasia kecil, dan tumbuh bersama mimpi-mimpi sederhana. Namun waktu memisahkan mereka. Ria pindah ke kota lain, meninggalkan Salsa bersama kenangan yang tak sempat diucapkan sebagai perpisahan. Tahun-tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali—di kota yang sama, bahkan di perusahaan yang sama. Perusahaan besar dengan jabatan yang diimpikan banyak orang. Saat pertama kali bertemu lagi, mereka hanya saling menatap… lalu tertawa, seolah waktu tak pernah memisahkan. Hari itu, seorang karyawan baru diperkenalkan. “Ini Rony, dipindahkan dari cabang pusat,” ujar Rahma. Rony tersenyum ramah. Salsa hanya mengangguk dengan senyum tipis. Biasa saja. Hari berganti bulan. Ria semakin dekat dengan Rony. Perhatian kecil darinya—cemilan, tumpangan, sapu tangan saat hujan—menjadi hal besar bagi Ria. Salsa hanya memperhatikan. Ia ikut bahagia… namun diam-diam khawatir....

SAAT DUNIA SIBUK BERCERITA, KAMI MEMILIH MENJAGA SURGA

Gambar
Gosip itu datang tanpa permisi. Pelan, berbisik dari mulut ke mulut, lalu tumbuh menjadi cerita yang seolah-olah benar. Nama Raka mulai disebut-sebut—tentang perempuan lain, tentang kedekatan yang katanya tak biasa. Di luar rumah, cerita itu membesar. Tapi di dalam rumah, Nisa memilih diam… bukan karena lemah, melainkan karena ia tahu: tidak semua yang terdengar harus dipercaya, dan tidak semua yang diguncang harus runtuh. Malam itu, Raka pulang seperti biasa. Langkahnya tetap tenang. Begitu pintu dibuka, suara tawa kecil langsung menyambut. “Ayah pulang!” seru anak bungsunya, berlari memeluk kakinya. Raka tersenyum lebar. Lelahnya seketika luruh. Di dalam, Nisa berdiri di ambang dapur, menatap hangat. “Abang pulang,” ucapnya. “Iya… pulang ke tempat paling tenang,”  jawab Raka. Rumah itu sederhana. Tidak luas, tidak mewah. Tapi penuh kehidupan. Di sanalah mereka saling menjaga. Setiap keluar rumah, Raka selalu berpamitan. “Nisa, aku keluar dulu ya.” “Hati-hati. Kami tun...