RINDU YANG TERTINGGAL DI PUNDAK AYAH
Ayah sudah tiada.
Kalimat itu sederhana… tapi setiap kali aku mengucapkannya dalam hati, rasanya seperti ada yang runtuh pelan-pelan di dalam dada.
Rumah ini masih sama. Kursi di teras itu masih di tempatnya. Pintu yang dulu selalu terbuka saat ayah pulang… masih berdiri seperti biasa. Tapi entah kenapa… semuanya terasa kosong.
Dulu, aku selalu menunggu ayah.
Setiap sore menjelang malam, aku duduk di dekat pintu. Kadang sambil mengantuk, kadang sambil memandangi jalan yang mulai gelap.
Dan ketika sosok itu akhirnya muncul…
Langkah pelan…
baju yang basah oleh keringat…
wajah yang lelah…
Aku tahu… itu ayah.
“Ayah pulang!”
Aku berlari kecil memeluknya.
“Ayah capek?” tanyaku.
Ayah hanya tersenyum.
“Kalau kamu senang… capek ayah hilang.”
Dulu aku percaya.
Sekarang aku tahu… ayah hanya tidak ingin kami ikut merasakan lelahnya.
Ayah bukan siapa-siapa di mata orang lain.
Ia bukan pegawai.
Tidak punya gaji tetap.
Tidak punya jaminan hidup.
Yang ia punya… hanya tekad.
Setiap hari ayah pergi, menjemput rezeki dengan cara yang kadang tak pasti.
Kadang pulang dengan uang… kadang hanya dengan harapan.
Tapi anehnya… kami tidak pernah merasa kekurangan.
Karena ayah selalu pulang… membawa kebahagiaan.
Dari kantong plastik kecil yang kusut…
ayah mengeluarkan kue-kue sederhana.
Kadang hanya gorengan dingin, kadang kue manis yang sudah tidak utuh, kadang hanya sepotong roti yang ia bagi untuk kami semua.
“Nih… untuk anak-anak ayah…”
Kami berebut dengan tawa.
Tanpa pernah tahu… mungkin ayah tidak makan hari itu.
Suatu malam, hujan turun sangat deras.
Angin dingin masuk sampai ke dalam rumah. Aku mulai khawatir.
“Ayah belum pulang…”
Jam terus berjalan.
Hingga akhirnya… pintu diketuk pelan.
Aku berlari.
Ayah berdiri di sana…
basah kuyup…
tubuhnya menggigil…
bajunya menempel di kulitnya.
Tapi… tangannya masih menggenggam plastik kecil itu.
Aku menangis saat ayah membukanya.
Kue-kue itu… masih utuh.
“Biar nggak basah…” katanya pelan.
Saat itu… aku ingin waktu berhenti.
Aku ingin memeluk ayah lebih lama.
Aku ingin mengatakan terima kasih… lebih sering.
Tapi aku tidak melakukannya.
Waktu berlalu…
Aku tumbuh dewasa.
Dan perlahan… aku mulai melihat kenyataan yang dulu tidak kupahami.
Wajah ayah yang semakin keriput.
Punggungnya yang mulai membungkuk.
Langkahnya yang tidak lagi sekuat dulu.
Namun ayah tetap pergi setiap pagi…
dan pulang setiap malam…
seolah lelah tidak pernah berhak menghentikannya.
Sampai suatu hari… ayah jatuh sakit.
Untuk pertama kalinya… aku melihat ayah terbaring lemah.
Ayah yang dulu selalu kuat…
kini hanya bisa tersenyum dari tempat tidurnya.
Aku duduk di sampingnya.
Tangannya kuraih.
Dingin… tapi hangat di hatiku.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Ayah… sekarang aku ingin menggantikan langkahmu…
meski aku tahu… aku tak akan pernah benar-benar bisa menggantikanmu…”
Suara itu keluar… patah.
Ayah tersenyum.
Senyum yang tidak pernah berubah…
meski tubuhnya sudah tidak lagi sama.
Ia menatapku lama.
Lalu… dengan suara pelan yang hampir hilang…
“Nak… sekarang kamu sudah dewasa…”
Dadaku sesak.
“Kamu akan hidup di dunia yang tidak selalu baik…akan ada orang yang jujur… dan ada yang tidak…”
Tangannya menggenggam tanganku… lebih erat dari sebelumnya.
“Kalau kamu ingin selamat… dengarkan pesan ayah…”
Aku menangis… tapi aku mengangguk.
“Jangan pernah tinggalkan salat
dalam keadaan apa pun… ingat Allah…”
“Jangan ambil… jangan makan… yang bukan hak kita…
walaupun kamu sangat membutuhkannya…karena yang bukan hak… tidak akan membawa berkah…”
“Jadilah orang yang jujur…
meskipun itu sulit… meskipun itu menyakitkan…”
“Selalu baik dengan saudara…
jangan pernah putus silaturahmi…”
“Jaga lisan…
luka dari kata-kata… lebih dalam dari luka lainnya…”
“Dan ingat…
lebih baik tangan di atas… daripada di bawah…”
Aku tidak sanggup lagi menahan tangis.
Tanganku menggenggam tangan ayah… seolah aku bisa menahan waktu.
Beberapa hari kemudian…
ayah pergi.
Tanpa suara.
Tanpa keluhan.
Tanpa sempat aku berkata… “jangan pergi…”
Wajahnya damai.
Seolah semua lelah yang ia sembunyikan selama ini…akhirnya benar-benar beristirahat.
Sejak hari itu… rumah tidak pernah sama.
Aku masih sering duduk di dekat pintu…
tanpa sadar menunggu.
Padahal aku tahu…
tidak akan ada lagi langkah itu.
Suatu hari aku membeli kue kecil.
Aku memegangnya lama.
Air mataku jatuh.
Aku baru sadar…
selama ini… kebahagiaan kami sesederhana itu.
Dan ayah… memberikan semuanya.
Anakku pernah bertanya,
“Ayah… kakek ke mana?”
Aku menoleh, tersenyum… sambil menahan hati yang kembali retak.
“Kakek lagi istirahat… di tempat yang sangat indah…”
Kini aku menjalani hidup… dengan membawa pesan ayah.
Aku berusaha menjaga salat…
menjaga kejujuran…
menjaga yang halal…
menjaga lisan…
dan tetap berbuat baik.
Namun… aku manusia.
Tidak selalu aku mampu menjalankannya dengan sempurna.
Ada saat aku hampir lalai dalam salat…
ada waktu aku tergoda oleh sesuatu yang bukan hakku…ada kalanya lisanku terpeleset… tanpa sadar melukai orang lain…
Dan setiap kali itu terjadi…
hatiku langsung terasa jatuh.
Seolah aku melihat kembali wajah ayah…
yang dulu berjuang tanpa lelah demi kami.
Aku terdiam.
Menyesal.
Lalu perlahan… aku kembali memperbaiki diri.
Karena aku tahu…
aku tidak ingin menjadi anak…yang melupakan pesan terakhir ayahnya.
Di setiap doa… nama ayah selalu ada.
“Ya Allah… ampuni ayahku…
jadikan setiap lelahnya sebagai pahala…
lapangkan kuburnya…
dan pertemukan kami kembali di surga-Mu…”
Kini aku mengerti…
Ayah mungkin telah tiada.
Namun cintanya… tidak pernah pergi.
Ia hidup… dalam setiap langkahku.
Dalam setiap keputusan yang kuambil.
Dalam setiap doa yang kupanjatkan.
Karena rindu ini… tidak akan pernah hilang.
Ia tinggal…di setiap langkahku…dan di pundak ayah…tempat di mana dulu aku merasa…dunia ini aman dan baik-baik saja.
Ayah… aku rindu… sangat rindu… đź’”
******
Komentar
Posting Komentar