Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

TIDAK LAGI MENGEJAR STANDAR

Gambar
Riki, 26 tahun, seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah, hidupnya tampak tenang. Ia belum menikah, namun hatinya telah lama menetap pada satu nama—Nayla. Gadis lembut lulusan psikologi yang bekerja sebagai tenaga kontrak di sebuah klinik kesehatan di kotanya. Hubungan mereka sederhana. Tidak mewah, tidak pula penuh tuntutan. Tapi cukup hangat untuk membuat Riki merasa pulang. Sampai suatu siang, Pak Rahman, pimpinannya, mengusik keyakinannya. “Riki,” katanya santai, “kalau cari istri sekarang, sebaiknya yang sudah punya pegangan hidup. Biar rumah tangga ringan.” Riki tersenyum kecil, tapi kalimat itu tidak berhenti di sana. “Itu si Dina, CPNS baru. Coba kamu dekati.” Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Riki mulai bergeser. Malamnya, ia tidak langsung tidur. Lampu kamar dimatikan, tapi pikirannya tetap terang. Ia memandangi langit-langit. Dan tanpa sadar, ia mulai menghitung—bukan tentang cinta, tapi tentang kemungkinan. Dina—CPNS, masa depan jelas. Nayla—pegawai honor,...

DI BALIK PINTU OPERASI , CINTA YANG TAK PERNAH BERPINDAH

Gambar
Lampu di atas pintu ruang operasi menyala tanpa suara. Warnanya pucat, tapi bagi seorang bapak dan ibu, cahaya itu seperti matahari yang menggantung terlalu lama di ufuk—tak tenggelam, tak juga memberi hangat. Kami duduk berdampingan di bangku besi yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, tapi di telinga kami  bunyinya seperti palu yang memukul-mukul dada. seakan menahan gelombang cemas yang tak ingin ia perlihatkan. Sesekali, di sela napas yang tertahan, terdengar lirih suaranya menyebut nama Allah—pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ingin didengar langit. Dalam diamnya, kami sedang berperang dengan rasa takut, dan dalam setiap asma yang terucap, kami menitipkan harap agar semuanya baik-baik saja.Sedangkan aku menunduk, bibirku komat-kamit, menyebut nama Tuhan di sela napas yang tidak teratur. Di balik pintu itu, anak perempuan ku sedang berjuang. Anak yang dulu digendong dengan dua tangan gemetar. Anak yang pertama kali memanggil kami “Ayah” dan “Ibu”. Anak yang...

SAPU TUA YANG TETAP SETIA

Gambar
Di sebuah rumah sederhana, ada satu benda yang hampir tak pernah diperhatikan—sebatang sapu tua yang bersandar di sudut dinding. Bulunya mulai jarang, gagangnya kusam, bahkan sedikit miring. Ia bukan lagi pilihan utama. Ia hanya ada… sebagai pelengkap yang terlupakan. Padahal dulu, ia adalah yang paling sibuk. Setiap pagi, ia menari di lantai, menghapus jejak debu, menyatukan sisa-sisa kehidupan yang tercecer. Ia mengenal seluruh sudut rumah itu—dari bawah meja makan hingga celah sempit di balik lemari. Ia tahu di mana tawa pernah jatuh, dan di mana air mata diam-diam disembunyikan. Namun waktu tak pernah berpihak. Sapu baru datang. Lebih indah, lebih kokoh, lebih “layak dilihat”. Sejak itu, sapu tua perlahan ditinggalkan. Ia hanya menjadi saksi—diam, tak bersuara—melihat perannya diambil alih. Hari demi hari, debu justru menempel di tubuhnya. “Aku yang dulu membersihkan… kini menjadi yang kotor,” gumamnya lirih. Ia mulai mempertanyakan keberadaannya.  “Apakah i...

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu

Gambar
Menjadi seorang ibu bukanlah peran yang mudah. Di balik lelah dan doa  yang tidak pernah putus, Allah menitipkan rahasia besar : Surga berada di telapak kaki ibu. Sebuah pintu surga yang terbuka melalui kasih sayang, sabar,  serta pengorbannya. Seorang ibu adalah anugerah terindah dan terbesar yang Allah titipkan dalam kehidupan. Dari rahim dan pelukannya, lahir generasi penerus yang kelak akan menjalani perjuangan hidupnya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat awal mereka mengenal kasih sayang, adab, dan nilai keimanan. Allah SWT. memuliakan peran ibu sebagaimana  dalam Al Quran " Dan kami perintahkan kepada manusia (agar  berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tamba..." (QS. Luqman : 14) Untuk mempersiapkan masa depan anak-anaknya, seorang ibu perlu merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalani peran pengasuhan. Kebahagiaan ibu bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan...

KETIKA ALAM BERSUJUD DI UJUNG RAMADAN

Gambar
Langit belum benar-benar terang ketika aku terbangun oleh suara yang tak biasa—bukan suara manusia, bukan pula kendaraan yang lalu-lalang. Hanya desir angin yang panjang, seolah membawa pesan dari tempat yang jauh.  Aku membuka jendela perlahan, dan di sana, dunia tampak berbeda. Lebih sunyi. Lebih tunduk. Pepohonan yang biasanya berdiri angkuh kini seperti merunduk, daunnya bergetar pelan, seakan ikut bertasbih. Burung-burung tak berkicau riang seperti biasanya; mereka hanya melintas rendah, diam, seolah menjaga sesuatu yang tak terlihat oleh mata. Aku berdiri di teras rumah kecil sederhana, memandang jalan yang masih lengang. Pagi itu terasa berbeda—bukan karena suasananya saja, tapi karena hatiku yang seakan diajak diam lebih dalam. Seolah-olah aku sedang berada di antara makhluk-makhluk yang sedang bersujud. Angin menyentuh wajahku lembut, dingin tapi menenangkan. Di kejauhan, gunung berdiri kokoh, diselimuti kabut tipis. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa ia b...

PULANG KE LABUHAN HATI VALDO

Gambar
Namaku Valno. Aku lahir di sebuah rumah kecil di sebuah kota sederhana. Rumah itu tidak besar, tidak mewah, tetapi di situlah semua kehangatan hidupku berasal.  Ayah dan Ibu hanyalah pegawai biasa. Gaji mereka tidak besar, namun mereka selalu berusaha agar aku dan adikku, Valni, bisa tumbuh dengan pendidikan yang baik. Sejak kecil ayah selalu berkata kepadaku, “Ilmu adalah bekal paling mahal, Nak. Ayah dan Ibu mungkin tidak punya harta, tapi kami ingin kamu punya masa depan.” Kata-kata itu selalu teringat di hatiku. Suatu malam setelah aku lulus sekolah, aku memberanikan diri menyampaikan keinginanku kepada ayah dan ibu. “Ayah, Ibu… Valno ingin kuliah di luar provinsi.” Ibu terdiam. Ayah menatapku lama. Ruang tamu kecil kami terasa sunyi beberapa saat. Akhirnya ayah berkata dengan suara pelan, “Nak, kalau kamu kuliah jauh dari ayah , keuangan kita mungkin tidak cukup. Kalau nanti kamu mengalami kesulitan di sana, ayah dan ibu akan sulit menemui kamu.” Ibu menambahkan de...

MAMA...TIDAK ADA YANG BISA MENGGANTIKANMU

Gambar
Rumahku besar. Bersih. Rapi. Di rumah ini tidak pernah benar-benar kosong. Ada bibi yang setiap hari memasak, membersihkan rumah, dan menyiapkan semua kebutuhanku. Ada juga Nenek yang tinggal bersama kami. Nenek sering duduk di kursi dekat jendela sambil merajut atau membaca Al-Qur’an. Orang-orang mungkin berpikir aku anak yang sangat beruntung. Tapi mereka tidak tahu… hatiku sering terasa sangat sepi. Setiap pagi rumah ini selalu sibuk. Mama berdiri di depan cermin merapikan jilbabnya. Papa juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Bibi sibuk di dapur menyiapkan sarapan. “Nak, sarapannya sudah siap,” panggilnya. Aku duduk di meja makan. Nenek duduk di sampingku. “Cepat makan, nanti terlambat sekolah,” kata Nenek lembut. Mama datang menghampiri, mencium keningku. “Belajar yang rajin ya, Nak Papa menepuk bahuku. “Jadi anak yang hebat.” Beberapa menit kemudian mereka keluar rumah. Pintu terbuka. Langkah mereka menjauh. Lalu pintu itu tertutup kembali. Rumah masih ramai. Ada Bi...

LABUHAN HATI VALNO

Gambar
Rumah  itu berdiri di sebuah kota  kecil yang sederhana. Dindingnya tidak mewah, halaman depannya sempit, tetapi selalu bersih. Di sanalah Valno tumbuh bersama keluarganya. Rumah itu sering dipenuhi suara tawa. Di dalamnya ada papanya, Hasan , seorang pegawai yang bekerja setiap hari dengan gaji yang tidak pernah benar-benar cukup untuk banyak hal. Ada ibunya, Salma, yang juga seorang pegawai di kantor di kota yang sama. Pagi-pagi sekali Salma sudah berangkat bekerja. Kadang wajahnya masih menyimpan sisa kantuk, tetapi ia selalu membawa semangat. Di rumah itu juga ada seorang anak perempuan kecil yang selalu mengikuti Valno ke mana-mana. Namanya Valni. Sejak kecil Valni selalu menganggap Valno sebagai pahlawannya. Jika Valni takut, ia mencari Valno. Jika Valni ingin bermain, ia memanggil Valno. Jika Valni menangis, Valno yang pertama datang menghiburnya. “Bang Valno, nanti jangan jauh-jauh ya,”  kata Valni suatu hari ketika mereka masih kecil. Valno te...

labuhan hati

Rumah iti berdiri sisebuat komleks kecil yang  sederhana. Dindingnya tidak mewah, halaman depannya sempit, tetapi selalu bersih. Disanalah Vano tumbuh bersama keluarganha. Rumah itu sering dipenuhi suara tawa. Di dasana ada papanya, Hasan, pegawai yang bekerja setiap hari dengan gaji yang tidak pernah benar cukup untuk  banyak hal. Ada ibunya Salma, yang juga seorang pegawai  di kantor di kota yang sama. Paga-pagi Salma sudah berangkat  bekerja, kadang masih dengan wajah yang memyimpan sisa kantuk, tetapi Salama selalu membawa semangat. Dan di rumah itu juga ada anak perempuan kecil yang selalu mengikuti Valno kemana-mana. Namanya Valni, adik Valno. Sejak kecil Valni selalu menganggap Valno sebagai pahlawannya. Jika Valni takut, ia mencari Valno. Jika Valni ingin  bermain, ia memanggil Valno. Jika Valni menangis, VAlno yang pertama datang menghiburnya. "Bang Valno nanti jangan jauh-jauh ya," kata Valni  suatu hari ketika mereka masih kecil. Valno ketawa sam...

KESIBUKAN LAMPU MERAH

Gambar
Pagi datang perlahan seperti orang membuka jendela hari dengan hati-hati. Cahaya matahari mulai muncul dari balik perbukitan, menyebarkan warna keemasan yang hangat. Udara masih terasa segar. Di perpohonan burung-burung berkicau saling bersautan, seolah saling menyapa setelah malam panjang. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar.  Tak lama kemudian, suara mesin kendaraan mulai terdengar dari berbagai arah. Motor keluar dari gang-gang kecil, mobil meninggalkan halaman rumahnya, angkutan kota dan taxi online melaju di jalan utama. Jalan yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi riuh. Semua orang tampak sibuk. Ada yang berangkat ke kantor, ada yang mengantar anak ke sekolah, ada yang menuju pasar, ada yang memulai membuka usaha sejak subuh buta.  Seolah seluruh kota bergerak bersama sama mengejar waktu. Ana juga termasuk di dalamnya.  Dengan helm yang terpasang rapi ia mengendari motor scoopy menuju kantor. Jalan yang ia lewati setiap hari, pa...

MEREKA PERGI , KITA MENUNGGU GILIRAN

Gambar
Subuh itu sunyi terasa berbeda. Belum ada cahaya yang benar-benar menembus langit. Angin berhembus pelan, dan tiba-tiba pengeras suara masjid memecah keheningan. "Innalillahi wa innalillahi raji’un…" Suara pak guru terdengar berat. Tidak seperti biasanya. Ada jeda panjang sebelum nama itu disebut. Dan ketika nama itu terucap, jantung Ana seperti berhenti sesaat. Itu nama seorang anak muda. Masih gagah. Masih tegap. Masih sering terlihat tersenyum lebar. Kemarin ia masih berjalan melewati gang. Kemarin ia masih menyapa. Kemarin ia masih hidup. Tak ada yang menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhirnya menghirup udara dunia. Ana terduduk lemas. Pikirannya kosong. Ia membuka ponsel. Grup WhatsApp penuh dengan ucapan duka. “Tidak ada sakit…” “Tiba-tiba…” “Subhanallah…” Air mata Ana jatuh perlahan. Ia membayangkan tubuh gagah itu kini terbujur tak bernyawa. Mata yang dulu memandang masa depan kini tertutup untuk selamanya. Tangan yang dulu kuat kini terlipat diam ...

KETIKA NAFSU INGIN MENANG

Gambar
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Vano. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi orang terpandang. Ia ingin rumah besar, pakaian bagus, dan dihormati banyak orang. Setiap kali melihat teman-temannya berhasil, hatinya berbisik, “Aku juga harus punya. Aku tidak boleh kalah.” Namun kenyataannya tak mudah. Usahanya sering gagal. Modal terbatas, relasi sedikit, dan keluarganya pun sederhana. Berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula ia terjatuh. Dalam kelelahan itu, muncul suara lain dalam dirinya—suara yang tak terlihat, tapi kuat menggoda. “Ambil jalan pintas saja,” bisik suara itu. “Sedikit saja berbohong, sedikit saja curang. Nanti juga berhasil.” Vano tahu itu salah. Ia pernah membaca tentang jiwa yang condong kepada kejahatan, tentang bagaimana manusia harus mengekang nafsunya agar selamat. Tetapi nafsunya begitu keras. Ia ingin cepat sampai. Ia ingin segera terlihat berhasil. Suatu malam, setelah kegagalan yang kesekian, ia duduk sendirian di beranda rumah...