MAMA...TIDAK ADA YANG BISA MENGGANTIKANMU


Rumahku besar.
Bersih.
Rapi.

Di rumah ini tidak pernah benar-benar kosong. Ada bibi yang setiap hari memasak, membersihkan rumah, dan menyiapkan semua kebutuhanku. Ada juga Nenek yang tinggal bersama kami. Nenek sering duduk di kursi dekat jendela sambil merajut atau membaca Al-Qur’an.

Orang-orang mungkin berpikir aku anak yang sangat beruntung.
Tapi mereka tidak tahu…
hatiku sering terasa sangat sepi.

Setiap pagi rumah ini selalu sibuk. Mama berdiri di depan cermin merapikan jilbabnya. Papa juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Bibi sibuk di dapur menyiapkan sarapan.

“Nak, sarapannya sudah siap,” panggilnya.

Aku duduk di meja makan. Nenek duduk di sampingku.

“Cepat makan, nanti terlambat sekolah,” kata Nenek lembut.

Mama datang menghampiri, mencium keningku.

“Belajar yang rajin ya, Nak

Papa menepuk bahuku.
“Jadi anak yang hebat.”

Beberapa menit kemudian mereka keluar rumah.
Pintu terbuka.
Langkah mereka menjauh.
Lalu pintu itu tertutup kembali.

Rumah masih ramai. Ada Bibi yang membersihkan rumah. Ada Nenek yang kadang memanggilku.
Tapi tetap saja…
ada sesuatu yang hilang.

Mama.

Setelah sarapan aku pergi ke sekolah. Di sekolah aku tertawa bersama teman-temanku. Aku bermain, belajar, dan bercanda seperti anak-anak lainnya

Namun setiap kali pulang ke rumah…
perasaan itu datang lagi.
Aku membuka pintu rumah. Bibi  menyambutku.

“Sudah pulang, Nak?”

Aku mengangguk.

“Mama masih kerja,” katanya lagi.

Kalimat itu sudah sangat sering kudengar.

Aku mengganti pakaian.
Aku makan siang.
Bibi menyiapkan semuanya. Nenek sering menemaniku makan.

“Bagaimana sekolah hari ini?” tanya Nenek.

Aku tersenyum kecil.

“Baik, Nek.”

Nenek sangat menyayangiku. Ia sering memelukku atau bercerita tentang masa lalu. Pembantu rumah juga baik.

Tapi tetap saja…
mereka bukan Mama.

Kadang aku ingin bercerita banyak hal. Tentang temanku yang membuatku tertawa hari ini. Tentang guruku yang memujiku di kelas. Tentang kejadian kecil yang membuatku senang.
Tapi ketika ingin bercerita…
aku sering berhenti.

Karena yang sebenarnya ingin kudengar suaranya adalah Mama.

Sore hari adalah waktu yang paling panjang bagiku.
Aku sering duduk di tangga depan rumah sambil melihat jalan. Menunggu Mama pulang.
Kadang Nenek memanggilku.

“Nak, masuk dulu. Anginnya dingin.”

Aku menjawab pelan,

“Sebentar lagi, Nek.”

Padahal aku tahu… Mama mungkin masih lama pulangnya.

Langit berubah warna.
Dari terang menjadi jingga…
lalu perlahan gelap.

Mama belum juga datang.
Nenek pernah berkata lembut,

“Mamamu bekerja keras supaya kamu bahagia.”

Aku mengangguk.

Tapi di dalam hatiku selalu ada pertanyaan.
Kalau Mama bekerja supaya aku bahagia…
kenapa aku justru merasa sangat sepi?

Malam hari Mama akhirnya pulang. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ketika melihatku, Mama tersenyum.

“Sudah makan?”

Aku mengangguk.

Padahal yang sebenarnya ingin kukatakan adalah:
Ma… aku menunggumu seharian.

Papa biasanya pulang lebih malam lagi. Ketika mereka berdua ada di rumah, aku sering ingin bercerita banyak hal.
Tapi melihat wajah mereka yang begitu lelah…
aku memilih diam.
Aku tidak ingin menambah beban mereka.

Namun suatu malam… hatiku tidak sanggup lagi menyimpan semuanya.
Setelah makan malam, aku memandang Mama lama sekali. Ada kelelahan yang sangat dalam di wajahnya.

Aku berkata pelan,
“Ma…

Mama menoleh.

“Iya, Nak?”

Suaraku mulai gemetar.

“Di rumah ada Bibi… dia baik.”

Mama mengangguk.

“Dia memasakkan makanan untukku. Dia membersihkan rumah.”

Air mataku mulai jatuh.

“Ada juga Nenek… Nenek sangat sayang padaku."

Mama masih diam mendengarkan.
Aku menunduk sebelum melanjutkan.

“Tapi, Ma…”

Suaraku hampir hilang.

“Mereka bukan Mama.”

Ruang itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Aku melanjutkan dengan suara yang seperti rintihan dari hati kecil seorang anak.

“Setiap hari aku pulang ke rumah yang tetap terasa sepi."

“Aku makan tanpa Mama.”

“Aku belajar tanpa Mama.”

Tangisku pecah.

“Aku tahu Mama bekerja untuk masa depanku…”

Aku terisak.

“Tapi Ma… masa kecilku juga sedang berjalan sekarang.”

Mama mulai menangis.

Aku menatapnya dengan penuh air mata.

“Aku tidak butuh rumah besar.”

“Aku tidak butuh barang mahal.”

“Aku tidak butuh semua ini…”

Aku menarik napas sebelum berkata lagi.

“Aku hanya butuh Mama.”

Tanggisku semakin keras.

“Karena Mama… tidak bisa digantikan oleh siapa pun.”

Mama terdiam dan memandangku.

Seketika Mama beranjak dari duduknya dan menghampiriku. Kedua tangannya membentang lebar, lalu memelukku erat.
Tangisnya pecah di bahuku.

“Maafkan Mama, Nak…

Mama tidak pernah tahu kamu merasa seperti ini.”

Malam itu kami menangis dalam satu pelukan.

Namun beberapa hari kemudian… sesuatu terjadi.
Mama tidak pergi bekerja lagi.
Ia lebih sering di rumah. Ia menemaniku makan. Ia menemaniku belajar.
Aku sangat bahagia.
Rumah itu akhirnya terasa hangat.

Suatu malam aku bertanya kepada Nenek.

“Nek… kenapa sekarang Mama selalu di rumah?”

Nenek menatapku lama. Matanya terlihat berkaca-kaca. Ia mengusap kepalaku dengan lembut.

Lalu berkata pelan,
“Karena beberapa hari yang lalu… dokter mengatakan Mama sangat sakit.”

Dadaku terasa seperti berhenti berdetak.

“Sekarang Mama ingin menghabiskan waktunya… bersama kamu.”

Aku terdiam.

Air mataku jatuh perlahan.

Saat itu aku baru mengerti sesuatu yang sangat menyakitkan.

Kadang…

kita baru benar-benar memiliki waktu bersama orang yang kita cintai…
ketika waktu itu hampir habis.

Malam itu aku memeluk Mama sangat erat.
Karena aku tahu…
tidak ada yang bisa menggantikan seorang Mama.

Sejak hari itu Mama selalu berada di rumah.
Ia menemaniku makan.
Ia menemaniku belajar.
Kadang kami hanya duduk berdua di ruang tamu tanpa banyak bicara.

Tapi anehnya…

justru saat Mama selalu ada di dekatku, aku mulai merasa takut.

Mama semakin sering terlihat lelah.
Tubuhnya semakin kurus.
Kadang ia harus berhenti berbicara karena napasnya terasa berat.

Suatu malam aku bertanya pelan.

“Ma… Mama akan sembuh, kan?”

Mama menatapku lama sekali.
Lalu ia tersenyum.
Senyum yang sangat lembut… tapi juga sangat sedih.

“Mama hanya ingin punya lebih banyak waktu dengan kamu."

Aku tidak benar-benar mengerti maksudnya saat itu.
Yang aku tahu hanya satu hal.
Aku sangat bahagia karena Mama akhirnya selalu di rumah.
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Suatu pagi rumah ini terasa sangat berbeda.

Tidak ada suara Mama di dapur.
Tidak ada langkah kakinya di lorong rumah.
Semua orang terlihat sangat diam.
Nenek memelukku erat.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat Nenek menangis sangat keras.

Saat itu aku baru mengerti.
Mama tidak sedang tidur.
Mama tidak sedang beristirahat.
Mama… sudah pergi.

Rumah ini masih besar.
Masih bersih.
Masih rapi.
Ada Nenek.
Ada Bibi.

Tapi sekarang rumah ini benar-benar terasa kosong.

Karena satu orang yang membuat rumah ini hangat...
sudah tidak ada lagi.

Kini setiap sore aku masih duduk di tangga depan rumah.
Melihat jalan yang dulu selalu kutatap saat menunggu Mama pulang.

Dulu aku menunggu Mama datang.
Sekarang…
aku hanya menunggu kenangan itu datang kembali.

Dan setiap kali angin sore menyentuh wajahku,
aku selalu berbisik pelan,
“Ma… maafkan aku…

aku baru benar-benar mengerti betapa berharganya waktu bersama Mama.”
Air mataku jatuh lagi.

Karena sekarang aku tahu satu hal yang sangat menyakitkan.
Mama memang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

Tapi waktu bersama Mama…
ternyata juga tidak bisa diulang kembali.

                             ******


Pelajaran hari ini :
Jangan menunda untuk menyayangi, karena waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu