LEBIH BAIK DISINI
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering di halaman rumah tua itu. Suaranya lirih—seperti bisikan yang tak pernah selesai, seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi. Di ambang pintu, Sariyah berdiri diam, memandangi jalan tanah yang perlahan sepi. Tak ada yang datang. Tak ada yang mengetuk. Dan ia telah lama belajar berdamai dengan itu. Rumah itu nyaris rapuh. Dindingnya retak, catnya memudar, atapnya kerap bocor saat hujan turun deras. Namun entah bagaimana, rumah itu tetap berdiri—teguh, seperti dirinya. Sendiri. Namun tak runtuh. Dari kejauhan, suara dua perempuan melintas bersama angin. “Kasihan ya… sudah tua begitu, ditinggal anak-anaknya.” “Iya… anaknya pada ke kota semua. Tidak ada yang mau urus." Sariyah mendengar. Jelas. Namun ia tak menoleh. Tak marah. Tak pula tersenyum. Ia tahu—tak semua yang tampak di luar adalah kebenaran. Dan tak semua kesendirian lahir dari ditinggalkan. Langkah kaki tergesa memecah sunyi. “Mak!” Sariyah menoleh ce...