PELAJARAN DARI RASA IRI

Abzah terlahir dari keluarga sederhana. Papanya seorang guru negeri dengan gaji yang tak seberapa, dan mamanya seorang ibu rumah tangga yang menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Mereka tinggal di rumah kecil yang tak pernah benar-benar lengkap, namun selalu dipenuhi kehangatan. Abzah adalah anak pertama dari empat bersaudara—dua laki-laki dan dua perempuan—yang sejak kecil telah akrab dengan kata “cukup”, bukan “lebih”.

Masa kecilnya dipenuhi keterbatasan. Gaji sang ayah sering tak mampu mengejar kebutuhan. Beras jatah yang kadang berbau apek tetap dimasak, tetap dimakan, karena itulah yang ada. Tak ada keluhan yang diucapkan orang tuanya, tetapi Abzah kecil bisa merasakan semuanya.

Di sekolah, dunia terasa berbeda. Ia melihat teman-temannya datang diantar motor, bahkan mobil. Sementara ia berjalan kaki, dengan tas yang mulai kusam. Namun, bukan itu yang paling menyakitkan baginya.

Yang paling menusuk adalah saat jam istirahat tiba.

Kantin sekolah dipenuhi kue berwarna-warni. Aromanya menggoda. Teman-temannya membeli dengan mudah, tertawa riang, menikmati masa kecil tanpa beban. Abzah hanya berdiri di kejauhan, menatap, menelan ludah, dan bertanya dalam hati, “Kenapa hidupku seperti ini?”

Keinginan sederhana untuk membeli satu kue pun terasa begitu jauh.
Hingga suatu hari, ia teringat pada Bu Murni, tetangganya yang pandai membuat kue. Dengan keberanian yang ia kumpulkan perlahan, Abzah mendatangi rumah itu.

“Bu… kalau kue yang tidak habis dijual, biasanya diapakan?” tanyanya pelan.
Bu Murni tersenyum hangat. “Kadang dibuang, Nak. Kadang dimakan sendiri.”
Abzah menunduk, lalu berkata lirih, “Kalau… boleh, Abzah minta… yang tidak habis itu…”

Sejak hari itu, Bu Murni selalu menyisihkan kue untuknya. Kebahagiaan kecil itu menjadi titik balik. Abzah tak hanya memakan kue itu, tetapi mulai berpikir lebih jauh. Ia mengambil kue untuk dijual kembali di sekolah.

Rasa gengsi yang dulu membelenggu, perlahan ia lepaskan.
Ia belajar satu hal penting: lebih baik menahan malu daripada menahan lapar, selama itu untuk jalan yang halal.

Hari demi hari ia jalani. Ia tetap berjualan hingga SMA. Orang tuanya kadang menahan sedih, tetapi juga bangga diam-diam melihat keteguhan hati anak sulung mereka.

Waktu berlalu, Abzah lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Namun, cobaan datang tanpa aba-aba.

Ayahnya meninggal dunia.

Dunia Abzah seolah runtuh. Sosok yang selama ini menjadi penopang keluarga telah tiada. Namun di tengah duka, ibunya tetap berdiri tegak.

“Nak, hidup harus terus jalan,” ucap ibunya lirih.

Abzah mengangguk, meski hatinya hancur. Ia kembali berdiri, melanjutkan perjuangan. Ia tetap berjualan kue, tetap kuliah, tetap berusaha kuat.
Hingga suatu hari, kesempatan datang—penerimaan CPNS.
Dengan doa ibunya yang tak pernah putus, Abzah mengikuti ujian itu. Dan ia lulus.
Ia resmi menjadi pegawai negeri, melanjutkan jejak ayahnya.
Kehidupan perlahan membaik. Ia bisa membantu ibunya, menyokong adik-adiknya. Namun, di dalam hatinya, masih ada ruang yang belum sepenuhnya sembuh.

Ia masih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Terutama dengan Santi.

Santi, teman sebayanya, hidup dalam kemewahan. Apa yang ia inginkan, seolah selalu ada. Rumah bagus, kehidupan mapan, suami berkecukupan. Dari luar, hidup Santi tampak sempurna.

Abzah diam-diam iri.

“Kenapa hidupnya mudah sekali…” bisiknya dalam hati. 

Rasa iri itu perlahan tumbuh, bahkan berubah menjadi kebencian yang tak pernah ia akui.
Hingga suatu hari, kabar itu datang.

“Santi sakit parah,” kata seorang teman.

Abzah terdiam.

Beberapa minggu kemudian, suara pengumuman dari masjid menggema.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia, Santi…”

Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam diri Abzah.

Ia pulang dengan langkah berat. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Ya Allah… aku iri dengan hidupnya… tapi Engkau uji dia dengan sakit yang begitu berat…”

Ia menatap dirinya sendiri.

“Sedangkan aku… hidup sederhana… tapi Engkau beri kesehatan…”

Di situlah ia tersadar.
Bahwa ia selama ini hanya melihat permukaan. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang dialami orang lain. Ia lupa, setiap kehidupan punya ujian masing-masing.

Sejak saat itu, Abzah belajar bersyukur.
Ia berhenti membandingkan. Ia berhenti iri.
Namun, perjalanan hati manusia tidak pernah benar-benar lurus.

Tahun demi tahun berlalu. Abzah kini menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia telah membantu keluarganya, memiliki pekerjaan tetap, dan hidup yang lebih layak dari masa kecilnya dulu.

Namun, ada saat-saat tertentu…
Saat ia melihat orang lain lebih sukses. Saat ia merasa hidupnya berjalan di tempat. Saat harapan tak sesuai kenyataan.
Perasaan itu datang lagi—iri, kecewa, merasa kurang.

Dan setiap kali itu terjadi…
Ingatannya selalu kembali.
Kembali ke masa kecilnya di depan kantin sekolah. Kembali pada kue yang hanya bisa ia pandang. Kembali pada langkah kecilnya menuju rumah Bu Murni. Kembali pada perjuangan menjual kue dengan menahan gengsi.
Dan… kembali pada Santi.

Wajah Santi yang dulu ia iri, kini hadir dalam ingatan sebagai pelajaran.
Pelajaran yang tidak pernah ia lupakan.
Bahwa hidup bukan tentang siapa yang terlihat paling bahagia.

Bahwa harta tidak menjamin ketenangan.
Bahwa kesehatan, keluarga, dan keteguhan hati adalah nikmat yang sering terlupakan.

Setiap kali hatinya mulai goyah, Abzah akan menarik napas panjang, lalu berkata dalam hati:

“Aku pernah merasa tidak punya apa-apa… tapi ternyata aku punya banyak hal yang tak ternilai.”

Ia tersenyum kecil.
Dan perlahan, rasa iri itu menghilang, digantikan oleh syukur yang lebih dalam.
Kini, Abzah menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi mengejar apa yang dimiliki orang lain. Ia lebih memilih menjaga apa yang sudah ada di tangannya.

Karena ia telah belajar…
Bahwa luka masa lalu bukan untuk disesali, tetapi untuk diingat—agar hati tetap tahu arah pulang.
Dan bagi Abzah, arah itu adalah satu:
bersyukur, sebelum semuanya benar-benar hilang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu