CINTA YANG TAK PERNA DIMILIKI
Telepon itu berdering di siang yang biasa.
Aku menatap layar ponsel cukup lama. Nomor tak dikenal. Tidak ada nama, tidak ada petunjuk. Hanya deretan angka yang terasa asing.
Entah kenapa, hatiku sedikit ragu. Namun akhirnya kuangkat juga.
“Assalamu’alaikum…”
Suara laki-laki terdengar dari seberang, pelan namun jelas.
“Wa’alaikumussalam… maaf, ini siapa ya?”
“Aku Liam… teman SMP dulu.”
Nama itu seperti mengetuk pintu ingatanku yang sudah lama tertutup. Samar-samar, wajah seorang anak laki-laki muncul—tinggi, rapi, dan selalu terlihat percaya diri. Tapi kami… tidak pernah benar-benar dekat.
“Oh… Liam,” jawabku pelan. “Apa kabar?”
Percakapan pertama itu sederhana. Ia hanya menanyakan kabarku, lalu bercerita tentang kehidupannya. Istrinya, anak-anaknya, pekerjaannya yang stabil. Tidak ada yang istimewa, namun entah kenapa ada kehangatan yang terselip di antara kata-katanya.
Sejak itu, ia sesekali menghubungiku.
Tidak sering, tapi cukup untuk membuat namanya kembali akrab di telingaku.
Sebulan kemudian, telepon itu datang lagi.
Kali ini, percakapan kami lebih panjang. Ia bercerita tentang masa lalu—tentang teman-teman lama, tentang kota besar tempat ia tinggal sekarang, dan tentang seseorang yang sangat kukenal.
“Naira masih di sini,” katanya. “Dia kerja di rumah sakit. Kamu pasti ingat, kan?”
Aku tersenyum kecil. Tentu saja aku ingat. Naira adalah bagian dari masa kecilku—teman mengaji, teman sekolah, teman yang dulu selalu ada di hari-hari sederhana.
“Kalau kamu ke sini, kabari aku ya,” lanjutnya. “Kita bisa kumpul lagi.”
Aku hanya mengiyakan, tanpa benar-benar berpikir akan mewujudkannya.
Takdir ternyata punya rencananya sendiri.
Beberapa waktu kemudian, aku mendapat tugas dinas ke kota tempat Liam tinggal. Perjalanan itu tidak terlalu lama, hanya beberapa hari. Namun entah kenapa, saat duduk di dalam taksi menuju hotel, aku teringat pesan itu.
Perlahan, aku menghubungi nomor Liam.
Namun ia tidak berada di kota. Ia sedang di luar daerah.
Meski begitu, ia tetap bertanya banyak hal—seperti seseorang yang sangat peduli.
“Kamu sendiri?” tanyanya.
“Iya.”
“Nginep di mana?”
Aku menyebutkan nama hotel.
Ia terdiam sejenak, lalu berkata tegas,
“Nanti aku minta Naira temani kamu. Tidak boleh sendirian."
Aku terkesiap.
“Tidak usah, aku sudah biasa sendiri,” jawabku mencoba menolak.
“Tidak bisa,” katanya singkat.
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.
Tak lama kemudian, Naira menghubungiku. Sore itu, pintu kamarku diketuk. Saat kubuka, seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya berubah, lebih dewasa, lebih matang. Namun matanya masih sama—hangat dan lembut seperti dulu.
“Naira…”
Ia langsung memelukku.
Pelukan itu terasa lama. Seolah menghapus jarak puluhan tahun yang memisahkan kami.
Sejak hari itu, Naira selalu menemaniku. Kami makan bersama, bercerita, mengenang masa lalu. Ia bahkan menginap di kamarku.
Namun ada satu hal yang terus mengusik pikiranku.
Liam.
Ia selalu menelepon. Menanyakan apakah Naira sudah datang, apakah aku baik-baik saja, apakah aku keluar kamar atau tidak. Perhatiannya terasa… berlebihan.
Aku mulai bertanya dalam hati, kenapa dia seperti ini?
Hari kepulanganku tiba.
Di ruang tunggu bandara, aku kembali menerima telepon darinya.
“Sudah di bandara?”
“Sudah.”
“Naira bagaimana?”
Aku tersenyum. “Dia sangat baik. Menjagaku seperti orang penting.”
Ia tertawa kecil.
Percakapan itu tidak lama. Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa belum selesai.
Waktu berlalu.
Kami jarang berkomunikasi. Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Hingga suatu hari, satu setengah tahun kemudian, telepon itu kembali datang.
Kali ini, suaranya berbeda.
“Aku mau bicara sesuatu,” katanya.
Aku terdiam.
Ia mulai bercerita. Perlahan. Seperti seseorang yang sedang membuka pintu yang telah lama ia kunci.
Tentang masa lalu.
Tentang bagaimana ia sering melewati rumahku.
Tentang bagaimana ia mendekati teman-temanku, hanya untuk bisa lebih dekat denganku.
“Aku menyukai kamu sejak dulu,” ucapnya akhirnya.
Dunia seakan berhenti sejenak.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Kamu istimewa,” lanjutnya. “Aku takut kalau aku mengungkapkan, aku justru akan mengecewakanmu.”
Aku menghela napas panjang.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
Ia tertawa kecil di seberang telepon. Tawa yang ringan, tapi entah kenapa terasa menyimpan sesuatu yang dalam.
“Mungkin aku tidak cukup berani.”
Aku ikut tersenyum, meski hatiku mulai merasa ada yang berbeda dari percakapan ini.
Selama ini… aku menganggapnya biasa saja.
Liam hanyalah teman SMP—satu kelas, sesekali bercanda, tidak pernah benar-benar dekat. Tidak pernah ada cerita istimewa. Tidak pernah ada tanda-tanda bahwa ia menyimpan sesuatu.
Bagiku, ia sama seperti teman-teman lainnya. Tidak lebih.
Namun malam itu, semua berubah.
Ia menarik napas sejenak, lalu mengatakan sesuatu yang membuatku benar-benar terdiam.
“Istriku tahu.”
“Ha?” Aku spontan terkejut.
“Aku sudah cerita ke dia,” lanjutnya tenang, seolah itu hal yang sederhana.
Aku tidak bisa langsung menjawab. Pikiranku kosong.
“Dia bahkan ingin bertemu kamu suatu hari nanti.”
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku tidak tahu harus merasa apa. Bingung, kaget, atau… tersentuh oleh kejujuran yang datang terlalu tiba-tiba ini.
“Aku hanya ingin jujur,” katanya pelan. “Cinta ini masih ada… tapi aku tahu, tidak semua cinta harus dimiliki.”
Aku terdiam cukup lama.
Namun anehnya… setelah semua itu ia katakan, hatiku tidak berubah seperti yang seharusnya.
Aku tetap melihatnya sebagai teman.
Teman biasa… namun kini terasa istimewa.
Bukan karena cinta yang ia ungkapkan, tapi karena keberaniannya untuk jujur. Karena ketulusannya menjaga perasaan itu dalam diam selama bertahun-tahun, lalu melepaskannya dengan cara yang begitu tenang.
Ada rasa hangat yang berbeda—bukan cinta, tapi penghargaan yang dalam.
Aku tersenyum kecil, meski ia tidak bisa melihatnya.
“Iya… benar.”
Percakapan itu berakhir sederhana. Tanpa drama. Tanpa janji.
Namun setelah itu, hatiku tidak lagi sama.
Ada sesuatu yang tertinggal. Bukan cinta yang tumbuh, tapi kesadaran… bahwa ada seseorang yang pernah menempatkanku begitu dalam di hatinya, sementara aku tidak pernah benar-benar menyadarinya.
Seminggu kemudian, sebuah pesan masuk di grup alumni.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Aku membaca nama itu berulang kali.
Liam.
Tanganku gemetar. Nafasku terasa berat.
Seakan tidak percaya, aku segera menghubungi Naira.
“Benar,” katanya pelan. “Dia meninggal mendadak. Sakit perut… sampai di rumah sakit, sudah tidak ada.”
Dunia seakan berhenti.
Aku terduduk lemas.
Percakapan terakhir itu kembali terputar di kepalaku. Tawa kecilnya. Nada suaranya. Kejujurannya.
Dan kini… semuanya terasa jauh lebih berat.
Aku memang tidak mencintainya.
Namun aku kehilangan seseorang yang pernah mencintaiku dengan tulus.
Dan itu… ternyata menyakitkan.
Seolah percakapan itu adalah pesan perpisahan… yang tidak pernah kusadari saat itu.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Ada perasaan yang akhirnya terungkap…
Namun tidak sempat menjadi apa-apa.
Tidak sempat diulang.
Tidak sempat diberi arti yang lebih lama.
Malam itu, aku menatap langit.
Dalam diam, aku berdoa.
Semoga hatinya tenang.
Semoga semua perasaan yang ia simpan bertahun-tahun itu kini telah menjadi ringan.
Dan aku pun akhirnya mengerti—
bahwa tidak semua perasaan harus dibalas untuk menjadi berarti.
Tidak semua cinta harus dimiliki untuk menjadi tulus.
Kadang, seseorang tetaplah teman…
namun menjadi istimewa, karena kejujurannya.
Dan cinta…
kadang hanya perlu diungkapkan…
sebelum waktu diam-diam mengambil semuanya.
Komentar
Posting Komentar