TIDAK LAGI MENGEJAR STANDAR
Riki, 26 tahun, seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah, hidupnya tampak tenang. Ia belum menikah, namun hatinya telah lama menetap pada satu nama—Nayla. Gadis lembut lulusan psikologi yang bekerja sebagai tenaga kontrak di sebuah klinik kesehatan di kotanya.
Hubungan mereka sederhana. Tidak mewah, tidak pula penuh tuntutan. Tapi cukup hangat untuk membuat Riki merasa pulang.
Sampai suatu siang, Pak Rahman, pimpinannya, mengusik keyakinannya.
“Riki,” katanya santai, “kalau cari istri sekarang, sebaiknya yang sudah punya pegangan hidup. Biar rumah tangga ringan.”
Riki tersenyum kecil, tapi kalimat itu tidak berhenti di sana.
“Itu si Dina, CPNS baru. Coba kamu dekati.”
Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Riki mulai bergeser.
Malamnya, ia tidak langsung tidur.
Lampu kamar dimatikan, tapi pikirannya tetap terang.
Ia memandangi langit-langit.
Dan tanpa sadar, ia mulai menghitung—bukan tentang cinta, tapi tentang kemungkinan.
Dina—CPNS, masa depan jelas.
Nayla—pegawai honor, sederhana.
Ia menghela napas panjang.
“Kapan aku mulai menghitung seperti ini…?” gumamnya pelan.
Dulu, Nayla cukup.
Tawanya cukup.
Kesederhanaannya cukup.Tapi sekaran—
kenapa kata cukup itu terasa goyah?
Di sudut hatinya, ada suara kecil yang mencoba bertahan.
Kamu sayang Nayla.
Namun suara lain muncul, lebih dingin, lebih logis—Sayang saja tidak cukup untuk hidup.
Riki memejamkan mata.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa—dirinya bukan sedang memilih seseorang,melainkan sedang menimbang masa depan seperti angka-angka.
Hari-hari berikutnya, Riki mulai mendekati Dina. Dina bukan tipe perempuan yang banyak basa-basi. Cara bicaranya lugas, kadang terasa tajam.
“Kalau kerja ya kerja, jangan setengah-setengah,” katanya suatu kali.
Anehnya, Riki justru tertarik.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada kelembutan yang dibuat-buat.
Dina berdiri dengan dirinya sendiri.
Dan di situlah, Riki merasa tertantang—
sekaligus… sedikit terintimidasi.
Ia mulai bertanya dalam hati—Kalau suatu hari aku bersamanya… apakah aku akan tetap berdiri sejajar?
Atau justru…perlahan mengecil tanpa sadar?
Di tengah kedekatan itu, Riki tetap membalas pesan Nayla seperti biasa.
Kata-kata hangat masih ia kirimkan.
Perhatian masih ia berikan.
Namun setiap kali layar ponselnya gelap—
ada rasa bersalah yang muncul pelan.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar.
“Ini salah…” bisiknya.
Tapi ia tidak berhenti.
Karena bagian dari dirinya masih ingin tahu—sejauh apa “standar” bisa membawanya. Dan sejauh apa ia berani meninggalkan rasa.
Suatu sore, Riki memutuskan menemui Dina di rumahnya.
“Rumah cat kuning. Jangan nyasar,” pesan Dina singkat.
Riki datang dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan—antara harap, ragu, dan sesuatu yang mengganjal.
Namun langkahnya terhenti sebelum mengetuk pintu.
Dari dalam, terdengar percakapan.
“Dia kerja di mana?”
“Di kantor pemerintah, Ma.”
“PNS?”
“Iya.”
“Bagus. Kamu harus setara. Kalau kamu PNS, pasanganmu juga harus PNS.”
Riki terdiam.
Kata setara itu seperti memantul di kepalanya.
Setara…
atau sekadar memenuhi ukuran?
Ia menunduk pelan.
Dan untuk pertama kalinya—ia merasa seperti sedang dinilai, bahkan sebelum masuk.
Ia mundur.
Langkahnya pelan, tapi hatinya berisik.
Di perjalanan pulang, malam terasa lebih sunyi. Motor melaju, tapi pikirannya berhenti di satu titik—kenangan lama.
Tentang suami dari sepupu teman dekatnya.
Dulu, lelaki itu menikah dengan bangga.
“Istriku PNS,” katanya.
Seolah itu cukup untuk menjamin segalanya. Ia ingin hidup yang aman.
Ingin masa depan yang ringan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Setiap keputusan diatur.
Setiap pendapat dipatahkan.
“Mas ikut saja. Tanpa aku, Mas tidak akan bisa apa-apa.”
Kalimat itu dulu terdengar seperti cerita.
Sekarang terasa seperti peringatan.
Bahkan di depan keluarga, harga dirinya seperti hilang.
Ia bukan kepala rumah tangga—hanya pelengkap.
Motor Riki melambat.
Dadanya terasa sesak.
“Kalau aku memilih karena status…” bisiknya, “apa aku juga sedang menyiapkan diriku untuk kehilangan sesuatu yang lebih besar?”
Ia tidak takut hidup sederhana.
Tapi ia takut kehilangan dirinya sendiri.
Takut suatu hari nanti—ia berdiri di rumah tangganya sendiri, tapi tidak benar-benar punya tempat. Dan di situlah, sesuatu dalam dirinya runtuh.
Bukan perasaannya pada Dina.
Tapi keyakinannya pada alasan mendekati Dina. Ia sadar—ia tidak sedang jatuh cinta sepenuhnya.
Ia hanya sedang tergoda oleh kemungkinan hidup yang lebih “aman”.
Dan itu… bukan alasan yang cukup untuk membangun sebuah rumah.
Keesokan harinya, Dina menunggu.
Namun Riki tidak datang.
Tidak ada kabar.
Ia memilih diam.
Karena menjelaskan berarti harus jujur—
dan jujur berarti mengakui bahwa ia pernah menjadikan seseorang sebagai perbandingan.
Dan itu terlalu kejam untuk diucapkan.
Ketika Dina akhirnya bertanya—
“Kamu kenapa berubah?"
Riki hanya menjawab pendek,
“Enggak kok.”
Padahal dalam dirinya, jawabannya
berisik.
Aku takut.
Aku ragu.
Aku tidak sekuat yang kamu kira.
Akhirnya, ia meminta bantuan Leni.
“Kak… tolong sampaikan ke Dina,” ucapnya pelan,
“aku minta maaf… sampai di sini saja pendekatan kita.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi di dalamnya, ada banyak hal yang tidak ia sanggup jelaskan—tentang takut,
tentang harga diri, tentang rasa yang tidak cukup kuat untuk melawan logika.
Saat pesan itu sampai, Dina hanya diam.
“Alasannya?” tanyanya singkat.
“Dia cuma bilang… sampai di sini saja.”
Dina mengangguk.
“Ya sudah.”
Namun saat tak ada siapa-siapa, ia akhirnya menyerah.
Air matanya jatuh pelan, dan hatinya terasa retak—bukan karena kehilangan, tapi karena tak pernah benar-benar dimiliki.
Dan untuk pertama kalinya, Riki kehilangan sesuatu—bukan karena tidak memilih,tapi karena tidak cukup berani untuk jujur.
Malam itu, Riki mendatangi Nayla.
Di hadapan perempuan yang selalu ia sebut “rumah”, ia justru merasa seperti orang yang baru kembali dari perjalanan panjang.
“Minggu ini… aku mau ke rumah orang tuamu.”
Nayla terdiam.
“Aku mau melamarmu.”
Riki diam.
Dan dalam diam itu, Riki bertanya pada dirinya sendiri—Ini karena cinta… atau karena aku ingin kembali ke sesuatu yang terasa aman?
Ia tidak menemukan jawaban pasti.
Tapi kali ini, ia memilih berhenti mencari pembanding.
Pernikahan berlangsung sederhana.
Hangat.
Tenang.
Cukup.
Seperti yang selalu ia bayangkan bersama Nayla.
Hari-hari berjalan.
Tidak selalu mudah.
Ada hari-hari sempit.
Ada rencana yang tertunda.
Ada lelah yang datang tanpa aba-aba.
Namun Nayla tetap sama.
Tidak banyak menuntut.
Tidak pernah membuat Riki merasa kecil.
Justru di saat-saat paling sulit, Nayla berkata pelan— “Kita jalani saja sama-sama, ya.”
Dan kalimat sederhana itu—entah kenapa terasa lebih kuat daripada segala “standar” yang pernah ia pikirkan.
Suatu malam, saat hujan turun pelan di luar rumah, Riki duduk terdiam.
Nayla tertidur di sampingnya.
Untuk sesaat, kenangan itu kembali datang—rumah bercat kuning,
suara tentang “setara”, dan wajah Dina yang tidak sempat ia hadapi dengan jujur.
Dulu, kenangan itu terasa mengganggu.
Seperti pertanyaan yang tidak selesai.
Namun malam ini berbeda.
Riki tersenyum kecil.
Bukan karena ia lupa—tapi karena akhirnya ia mengerti.
Bahwa semua itu bukan kesalahan yang harus disesali,melainkan jalan yang membuatnya lebih paham—tentang apa yang ia butuhkan, dan apa yang harus ia jaga.
Ia menatap Nayla.
Perempuan yang tidak menawarkan kemewahan,tidak menjanjikan kemudahan—tapi memberi ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Dan di situlah, Riki merasa tenang.
Bukan karena hidupnya sempurna.
Tapi karena ia tidak lagi merasa harus menjadi orang lain untuk bisa dicintai.
Ia menarik napas panjang.
Hangat.
Utuh.
Dan untuk pertama kalinya, tanpa keraguan—ia tahu, ia tidak sedang hidup sesuai standar, melainkan sedang hidup sesuai pilihannya. Dan pilihan itu… terasa cukup.
*****
Standar boleh menjadi pertimbangan, tapi bukan penentu.
Sebab yang akan membuat hubungan bertahan bukan siapa yang paling “aman” secara ekonomi,
melainkan siapa yang tetap memilih bertahan saat keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Komentar
Posting Komentar