MEREKA PERGI , KITA MENUNGGU GILIRAN



Subuh itu sunyi terasa berbeda.
Belum ada cahaya yang benar-benar menembus langit. Angin berhembus pelan, dan tiba-tiba pengeras suara masjid memecah keheningan.

"Innalillahi wa innalillahi raji’un…"

Suara pak guru terdengar berat. Tidak seperti biasanya. Ada jeda panjang sebelum nama itu disebut.
Dan ketika nama itu terucap, jantung Ana seperti berhenti sesaat.

Itu nama seorang anak muda.
Masih gagah.
Masih tegap.
Masih sering terlihat tersenyum lebar.
Kemarin ia masih berjalan melewati gang.
Kemarin ia masih menyapa.
Kemarin ia masih hidup.
Tak ada yang menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhirnya menghirup udara dunia.

Ana terduduk lemas. Pikirannya kosong. Ia membuka ponsel. Grup WhatsApp penuh dengan ucapan duka.

“Tidak ada sakit…”
“Tiba-tiba…”
“Subhanallah…”

Air mata Ana jatuh perlahan.
Ia membayangkan tubuh gagah itu kini terbujur tak bernyawa. Mata yang dulu memandang masa depan kini tertutup untuk selamanya. Tangan yang dulu kuat kini terlipat diam di atas dada.
Mimpi-mimpi yang belum sempat tercapai… selesai.
Rencana-rencana yang belum sempat dimulai… berhenti.
Kata-kata yang belum sempat diucapkan… tertinggal.

Dan yang paling menggetarkan hati Ana adalah satu kenyataan:
Yang telah dipanggil tidak pernah kembali.

Tidak pernah ada yang bangkit dari liang kubur untuk berkata, “Beri aku waktu satu hari saja untuk memperbaiki salatku.”
Tidak pernah ada yang kembali untuk berkata, “Izinkan aku meminta maaf kepada ibuku.”

Tidak pernah ada yang pulang untuk berkata, “Aku belum siap…”
Ketika waktu itu tiba, semuanya selesai.

Ana memegang dadanya.
Ia masih bernapas.
Dada itu masih naik dan turun. Jantung itu masih berdetak. Tubuh itu masih hangat.
Berarti Allah masih memberinya kesempatan.
Kesempatan yang tidak lagi dimiliki oleh anak muda gagah itu.

Dan tiba-tiba Ana merasa malu.
Selama ini ia sering menunda taubat.
Sering berkata, “Nanti saja…”
Sering merasa masih muda, masih kuat, masih panjang waktu.

Padahal usia bukan jaminan.
Anak muda itu lebih kuat darinya. Lebih sehat darinya. Namun ia lebih dulu pergi.
Ana menunduk dalam-dalam.

“Ya Allah… kalau Engkau panggil aku hari ini, apa yang bisa kubawa?”
Ilmunya? Masih sedikit.
Jabatannya? Tidak ada artinya.
Hartanya? Tidak cukup untuk membeli satu detik tambahan umur.

Semua yang dibanggakan di dunia runtuh dalam satu kenyataan: kematian meratakan segalanya.
Ia membayangkan suasana ketika tubuh itu dimandikan. Air mengalir membasuh tubuh yang tak lagi bernyawa. Lalu kain kafan membungkus tanpa menyisakan gelar, tanpa menyisakan status, tanpa menyisakan kebanggaan.

Hanya amal yang setia.
Hanya doa yang mengiringi.
Hanya kebaikan yang menjadi cahaya.

Ana sadar… kematian orang lain bukan sekadar kabar duka. Itu adalah pelajaran yang Allah kirimkan kepada yang masih hidup.

Seakan Allah berkata,
“Lihatlah. Suatu hari nanti kamu juga akan seperti itu. Maka bersiaplah.”
Betapa sayangnya Allah.
Dia tidak langsung memanggil kita tanpa peringatan. Dia memperlihatkan kematian di sekitar kita agar kita belajar sebelum giliran itu tiba.

Kita yang masih hidup ini sebenarnya sedang diberi waktu tambahan. Waktu untuk memperbaiki. Waktu untuk meminta maaf. Waktu untuk sujud lebih lama. Waktu untuk menangis dalam taubat.
Yang sudah dipanggil tidak bisa kembali.
Tetapi kita… masih bisa berubah.

Beberapa hari setelah kepergian anak muda gagah itu, Ana mulai berusaha menata hatinya. Ia mencoba lebih khusyuk dalam salat. Ia mencoba lebih lembut dalam berbicara.
Namun ternyata, ujian kesadaran itu belum berhenti.

Beberapa hari setelah kepergian anak muda gagah itu, Ana mencoba menenangkan hatinya. Ana berusia 50 tahun. Rambutnya mulai ditumbuhi uban. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Ia berpikir, mungkin kematian memang semakin dekat pada usia seperti dirinya.
Namun sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga redup, ponselnya kembali bergetar.
Grup WhatsApp kantor ramai.

“Innalillahi wa innalillahi raji’un…”
“Telah berpulang rekan kerja kita…”
Ana membaca perlahan. Tangannya terasa dingin.
Rekan sekantornya.
Masih berusia 43 tahun.
Lebih muda darinya.
Masih aktif bekerja. Masih penuh tenaga. Masih terlihat sehat beberapa hari lalu.

Ana terdiam lama.

Dadanya kembali sesak.
Yang lebih muda darinya telah dipanggil.
Yang masih kuat telah pergi.
Yang masih sibuk bekerja mencari nafkah telah menyelesaikan hidupnya lebih dulu.
Ana semakin menggigil.

Ia yang sudah 50 tahun masih berdiri di sini. Masih bernapas. Masih diberi waktu. Padahal menurut hitungan manusia, justru ia yang seharusnya merasa lebih dekat dengan batas itu.
Ternyata usia bukan urutan.
Kematian bukan soal siapa yang lebih tua.
Bukan pula siapa yang lebih lemah.
Anak muda gagah telah pergi.
Rekan kerja yang lebih muda darinya juga telah pergi.
Ana menatap kosong ke arah jendela. Langit sore terasa sendu.

“Ya Allah… Engkau perlihatkan kematian dari segala arah. Dari yang muda. Dari yang lebih muda dariku. Agar aku benar-benar sadar.”

Hatinya bergetar hebat.
Ia menyadari satu hal yang begitu jelas: daftar yang dipanggil itu tidak mengikuti usia. Nama bisa disebut kapan saja. Dan namanya, entah di urutan ke berapa, pasti ada.
Ana memegang dadanya lagi.
Masih ada detak di sana.
Masih ada napas.
Berarti masih ada kesempatan.
Kesempatan yang tidak lagi dimiliki anak muda itu.
Kesempatan yang tidak lagi dimiliki rekan kantornya yang 43 tahun itu.

Ana menunduk dalam-dalam.
“Selama aku masih diberi waktu, aku tidak ingin menyia-nyiakannya.”
Karena suatu hari nanti, ketika pengeras suara masjid kembali berbunyi,
ketika kalimat itu kembali dilantunkan,
ketika nama itu disebut—
mungkin itu adalah namanya.
Dan saat itu tiba, tidak ada lagi kesempatan.
Tidak ada lagi napas.
Tidak ada lagi perbaikan.
Maka selagi masih 50 tahun dan masih diberi hidup, ia ingin benar-benar hidup untuk mempersiapkan pulang.
Entah sampai kapan waktu itu tersisa

                      ********

Dunia bukan tujuan akhir.
Ilmu, jabatan, dan harta tidak akan ikut masuk ke liang kubur. Yang menemani hanyalah amal dan doa. Maka hiduplah dengan menanam kebaikan, bukan sekadar mengejar kebanggaan

Selama kita masih hidup, itu tanda kasih sayang Allah — memberi waktu untuk bersiap sebelum benar-benar pulang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu