KETIKA ALAM BERSUJUD DI UJUNG RAMADAN
Langit belum benar-benar terang ketika aku terbangun oleh suara yang tak biasa—bukan suara manusia, bukan pula kendaraan yang lalu-lalang. Hanya desir angin yang panjang, seolah membawa pesan dari tempat yang jauh.
Aku membuka jendela perlahan, dan di sana, dunia tampak berbeda. Lebih sunyi. Lebih tunduk.
Pepohonan yang biasanya berdiri angkuh kini seperti merunduk, daunnya bergetar pelan, seakan ikut bertasbih. Burung-burung tak berkicau riang seperti biasanya; mereka hanya melintas rendah, diam, seolah menjaga sesuatu yang tak terlihat oleh mata.
Aku berdiri di teras rumah kecil sederhana, memandang jalan yang masih lengang. Pagi itu terasa berbeda—bukan karena suasananya saja, tapi karena hatiku yang seakan diajak diam lebih dalam. Seolah-olah aku sedang berada di antara makhluk-makhluk yang sedang bersujud.
Angin menyentuh wajahku lembut, dingin tapi menenangkan. Di kejauhan, gunung berdiri kokoh, diselimuti kabut tipis. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa ia bukan sekadar tumpukan tanah dan batu—melainkan saksi diam dari waktu yang panjang, yang tak pernah lelah menghadap kepada-Nya.
Aku berhenti. Menatap langit.
Awan bergerak perlahan, membentuk garis-garis yang indah, seperti barisan yang rapi. Tiba-tiba aku merasa kecil. Sangat kecil. Selama ini aku sibuk dengan urusan dunia, dengan luka-luka kecil yang kuanggap besar, dengan kata-kata orang yang menyakitkan, hingga lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih agung.
Tiba-tiba terlintas firman-Nya dalam hatiku:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka."
(QS. Al-Isra: 44)
Air mataku jatuh tanpa suara.
Pepohonan yang bergoyang, angin yang berhembus, bahkan tanah yang kupijak—semuanya ternyata sedang mengingat-Nya. Hanya aku yang sering lupa.
Suara lain kembali hadir dalam ingatanku:
"Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..."
(QS. Al-Hajj: 18)
Dadaku terasa sesak, tapi bukan karena luka—melainkan karena kesadaran yang datang perlahan.
“Jika alam saja bersujud… lalu aku ini apa?” bisikku lirih.
Aku teringat hari-hari yang telah kulewati sepanjang Ramadan. Puasa yang kadang hanya sekadar menahan lapar, doa-doa yang terburu-buru, dan ibadah yang terasa seperti kebiasaan, bukan kebutuhan.
Ramadan hampir pergi… sementara aku masih di tempat yang sama.
Angin pagi itu seakan berbisik lebih dalam.
Bahwa waktu tidak pernah menunggu. Bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Bahwa Ramadan yang akan pergi belum tentu akan kembali kutemui.
Aku menutup mata.
Di ujung Ramadan ini, aku akhirnya mengerti—bahwa bersujud bukan hanya tentang dahi yang menyentuh bumi, tapi hati yang benar-benar tunduk. Bahwa kembali kepada-Nya bukan menunggu sempurna, tapi tentang keberanian untuk benar-benar berubah.
Air mataku mengalir lebih deras.
“Ya Allah… jika ini Ramadan terakhirku, terimalah segala ibadahku yang penuh kekurangan ini. Ampuni aku yang sering lalai, yang tak lagi punya banyak waktu untuk mengulang,” bisikku pelan.
Suaraku lirih, hampir tak terdengar, tapi hatiku terasa lebih jujur dari sebelumnya.
Aku sadar… usia tak lagi panjang seperti dulu. Hari-hari yang tersisa bukan untuk menunda, tapi untuk benar-benar kembali.
Dan di pagi yang sunyi itu, ketika alam bersujud…
Aku tidak lagi hanya mau menjadi penonton.
Aku memilih untuk mau pulang… dengan hati yang ingin tunduk.
Komentar
Posting Komentar