labuhan hati
Rumah iti berdiri sisebuat komleks kecil yang sederhana. Dindingnya tidak mewah, halaman depannya sempit, tetapi selalu bersih. Disanalah Vano tumbuh bersama keluarganha. Rumah itu sering dipenuhi suara tawa. Di dasana ada papanya, Hasan, pegawai yang bekerja setiap hari dengan gaji yang tidak pernah benar cukup untuk banyak hal. Ada ibunya Salma, yang juga seorang pegawai di kantor di kota yang sama. Paga-pagi Salma sudah berangkat bekerja, kadang masih dengan wajah yang memyimpan sisa kantuk, tetapi Salama selalu membawa semangat. Dan di rumah itu juga ada anak perempuan kecil yang selalu mengikuti Valno kemana-mana. Namanya Valni, adik Valno.
Sejak kecil Valni selalu menganggap Valno sebagai pahlawannya. Jika Valni takut, ia mencari Valno. Jika Valni ingin bermain, ia memanggil Valno. Jika Valni menangis, VAlno yang pertama datang menghiburnya.
"Bang Valno nanti jangan jauh-jauh ya," kata Valni suatu hari ketika mereka masih kecil.
Valno ketawa sambil mengacak rambuk adiknya.
"Tidak akan"
Namun waktu berjalan cepat. Valno tumbuh menjadi pemuda yang giat dan Valni menjadi gadis yang rajin. Orang tuanya bekerja tanpa lelah agar ia bisa kulia. Banyak hal yang mereka korban diam-diam. Ketika Valno akhirnya lulus sebagai sarja, Salma menangis lama di kamar. Ia teringathari-hari ketika mereka harus menghitung uang dengan sangat hati-hati agat Valno tetap bisa melanjutkan pendidika. Kebahagian itu bertambaj ketika Valno diterima beksrja sebagai pegawai kontat di sebuah BUMN. Di kampung kecil itu, kabar kecil seperti.kabar besar.
"Anaknya Bu Salma.sudah kerja di BUMN ya," kata orang-orang. Salama tersenyum setiap kali mendengarkan itu. Namun di dalam hatinya ia berharap satu hal: semoga anaknya hidup dengan baik.
Tetapi Valno menyimpan satu hal di hatinya yaitu kegelisahan yang tidak mudah ia ceritakan. Status kontrak membuat masadepannya terasa seperti kabut. Tidak tahu kapan ia dianggkat sebagai pegawai tetap. Tidak ada yang tahu sampaikapan ia bertahan.
Suatu malam di ruangan tamu rumah sederhana itu, ia duduk bersama papa dan mamanya..
"Pa...Maa... Vanlno mencoba merantau ke Jakarta ,"
Kata-kata itu membuat ruangan terasa sangat sunyi.
Valni yang duduk di sudut ruangan langsung menatap kakaknya.
“Abang mau pergi?” tanyanya pelan.
Ardi menunduk.
“Abang ingin mencoba mengubah nasib.”
Salma menatap wajah anaknya lama sekali. Ia tahu keputusan itu pasti sudah dipikirkan Valno dengan matang.
Namun tetap saja, hatinya terasa berat.
Beberapa minggu kemudian Valno benar-benar pergi.
Hari itu Valni menangis ketika mengantar Valno sampai pintu pagar sambil memandang sopir travel memasukan tas Valno ke bagasi.
“Bang Valno jangan lama-lama di sana,” katanya sambil memegang tangan kakaknya.
Valno tersenyum dan mengusap kepala adiknya.
“Abang pasti pulang, jaga papa dan mama kita ya."
Ketika travel mulai bergerak, Salma melambaikan tangan dengan mata yang mulai basah. Putra berdiri di sampingnya, mencoba terlihat kuat.
Namun begitu travel itu hilang dari pandangan, Salma tidak lagi mampu menahan air matanya.
Sejak hari itu rumah kecil di kompleks itu terasa lebih sepi.
Valni sering duduk di kamar Valno. yang sekarang kosong.
Salma menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap bekerja di kantor. Menyusun berkas, mengetik laporan, menjalani pekerjaan yang sama setiap hari.
Namun setiap selesai salat, ia selalu berdoa lebih lama dari biasanya.
Tangannya terangkat, bibirnya bergetar.
“Ya Allah… lindungi anak kami di perantauan.”
Air mata sering jatuh di sajadahnya.
Di Jakarta, Valno menjalani hidup yang keras.
Awalnya ia mencoba berjualan pakaian. Ia membeli beberapa potong baju dari pasar lalu menjualnya kembali.
Sering kali tidak laku.
Namun Valno tidak mau menyerah.
Ia belajar melihat peluang. Ia memperhatikan model pakaian yang disukai orang. Ia mengamati cara orang berdagang.
Suatu hari ia berkata kepada beberapa temannya yang juga merantau.
“Bagaimana kalau kita membuat pakaian sendiri?”
Mereka akhirnya berpatungan. Modal mereka kecil, tetapi harapan mereka besar.
Sedikit demi sedikit usaha itu dimulai.
Mereka membuat pakaian sendiri dan menjualnya.
Pelan-pelan usaha itu berkembang.
Di tengah kesibukannya, Valno tidak pernah lupa satu hal.
Setiap hari ia video call dengan keluarganya.
Di layar kecil ponselnya ia melihat wajah ibunya yang selalu tersenyum.
“Ibu sehat, Val,” kata Salma.
Padahal sering kali setelah telepon itu selesai, Salma kembali meneteskan air mata di kamarnya.
Valni juga selalu muncul di layar.
“Bang Valno , kapan pulang?” tanyanya.
Valno hanya tersenyum.
“Sebentar lagi.”
Beberapa tahun berlalu.
Usaha Valno sedikit mulai berkembang. Kehidupannya mulai lebih baik.
Suatu hari ia pulang ke kampung.
Valni adalah orang pertama yang berlari memeluknya.
“Abang pulang!”
Salma berdiri di pintu rumah, matanya penuh air.
Malam itu Alno memberikan sejumlah uang kepada orang tuanya.
“Ini untuk Ayah dan Ibu.”
Salma langsung menggeleng.
“Tidak usah, Nak.”
“Tapi Bu…”
Salma menutup tangan Ardi dengan lembut.
“Simpan saja. Ibu tahu hidup di Jakarta tidak mudah.”
Putra juga berkata pelan,
“Kami masih bisa bekerja.”
Valno terdiam.
Saat itu ia baru benar-benar mengerti.
Orang tuanya tidak pernah menunggu uangnya.
Yang mereka tunggu hanyalah dirinya pulang.
Malam itu Valno berdiri di halaman rumah kecil di kompleks itu. Angin malam berhembus pelan.
Di dalam rumah ia mendengar suara Valni tertawa bersama ibunya.
Valno menatap langit yang penuh bintang.
Jakarta mungkin tempatnya bertarung.
Tetapi rumah sederhana di kompleks kecil itu…
selalu menjadi tempat ia kembali.
Tempat seorang ibu yang bekerja setiap hari masih menyebut namanya dalam doa.
Tempat seorang ayah yang diam-diam selalu menunggu kabarnya.
Dan tempat seorang adik yang tidak pernah berhenti menunggu kakaknya pulang.
Di situlah…
labuhan hatinya.
Komentar
Posting Komentar