SAAT IBU MENJUAL KENANGAN TERAKHIR DEMI ANAK
Azan subuh berkumandang ketika Rahma membuka pintu rumah kayunya perlahan. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Kabut tipis masih menggantung di jalan kecil depan rumah. Dengan langkah pelan, ia membawa baskom besar berisi adonan gorengan ke dapur kecil di samping rumah. Sudah hampir sepuluh tahun Rahma menjalani hidup seperti itu. Bangun sebelum subuh. Menyalakan tungku. Menggoreng pisang, bakwan, dan tahu isi. Lalu menjualnya di depan sekolah dasar dekat pasar. Sejak suaminya meninggal karena kecelakaan kerja, Rahma menjadi ibu sekaligus ayah bagi dua anaknya: Arif dan Nisa. Orang-orang sering kasihan melihat hidupnya. Tetapi Rahma jarang mengeluh. “Allah tidak pernah salah memberi ujian,” begitu jawabnya setiap kali ada yang bertanya. Pagi itu, Arif membantu mengangkat meja jualan ke depan rumah. “Bu, biar Arif saja yang angkat.” Rahma tersenyum kecil. “Kau sudah mau kuliah nanti. Jangan terlalu capek.” Arif tertawa pelan. “Belum tentu jadi kuliah, Bu.” Kalimat itu me...