BILA DIRI INGIN DIKENANG, TABURILAH BENIH DI TENGAH SAWAH
Kabut pagi masih menggantung di atas hamparan sawah. Embun menempel di ujung daun padi, berkilau diterpa cahaya matahari yang baru saja menyembul dari balik bukit. Burung-burung pipit beterbangan rendah, sementara suara kodok yang semalam bersahutan mulai menghilang, digantikan desir angin yang membelai tanaman muda.
Di sebuah pematang sempit, seorang lelaki tua melangkah perlahan sambil membawa sebakul benih padi. Punggungnya telah membungkuk dimakan usia, kulitnya legam karena bertahun-tahun bersahabat dengan matahari. Namun langkahnya tetap mantap. Tangannya yang keriput menebarkan benih ke sawah yang baru selesai dibajak.
Tidak jauh dari sana, seorang pemuda bernama Arga duduk termenung di atas batu besar. Matanya kosong memandang hamparan hijau yang luas. Usianya baru tiga puluh tahun, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih tua karena beban pikiran.
Beberapa bulan terakhir hidupnya terasa seperti runtuh sedikit demi sedikit.
Usaha kecil yang dirintisnya bangkrut. Teman-teman yang dulu selalu memujinya menghilang tanpa kabar. Orang-orang yang pernah dibantunya bahkan berpura-pura tidak mengenalnya ketika ia membutuhkan pertolongan.
"Hidup ini ternyata hanya soal untung dan rugi," gumamnya pelan.
Lelaki tua itu mendengar keluhan tersebut. Ia berhenti menabur benih, lalu menghampiri Arga.
"Kenapa wajahmu muram sekali, Nak?"
Arga menghela napas panjang.
"Saya capek, Kek. Rasanya percuma berbuat baik. Saat saya punya uang, semua orang datang. Saat saya jatuh, semua pergi."
Kakek itu tersenyum lembut.
Tanpa menjawab, ia mengambil segenggam benih, lalu menebarkannya ke sawah.
"Kalau ingin dikenang," katanya perlahan, "tabarilah benih di tengah sawah."
Arga mengernyit.
"Apa hubungannya dengan hidup saya?"
Kakek tertawa kecil.
"Benih ini tidak semuanya akan tumbuh. Ada yang hanyut, dimakan burung, bahkan membusuk. Tapi apakah karena itu aku berhenti menanam?"
Arga menggeleng.
"Karena seorang petani tidak pernah menghitung benih yang hilang. Ia percaya pada benih yang bertahan."
Kalimat itu sederhana, tetapi menghentak hati Arga.
Hari demi hari berlalu.
Ucapan lelaki tua itu terus berputar di kepalanya.
Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya berbuat baik dengan harapan dikenang, dipuji, dan dibalas.
Padahal kebaikan yang menunggu balasan hanyalah sebuah transaksi.
Sejak hari itu, Arga mengubah cara hidupnya.
Ia tidak lagi mengejar tepuk tangan manusia.
Setiap sore ia mengajari anak-anak kampung membaca.
Ia memperbaiki jembatan bambu bersama warga tanpa meminta bayaran.
Ketika ada tetangga sakit, dialah yang pertama mengantar ke puskesmas.
Saat panen tiba, ia membantu petani yang kekurangan tenaga.
Orang-orang menganggap semua itu biasa.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada piagam.
Tidak ada ucapan terima kasih yang istimewa.
Namun hati Arga justru semakin damai.
Ia merasa seperti petani yang menanam tanpa pernah memaksa hujan turun.
Suatu sore, Arga kembali bertemu dengan lelaki tua itu.
"Kek, saya sudah melakukan banyak hal. Tapi tetap saja tidak ada yang mengingat saya."
Kakek tersenyum.
"Lihat pohon mangga itu."
Arga menoleh.
Pohon besar berdiri kokoh di pinggir sawah.
"Apa yang kamu lihat?"
"Buah."
"Lalu apakah pohon itu memakan buahnya sendiri?"
"Tidak."
"Begitulah hidup. Pohon memberi tanpa pernah menikmati hasilnya. Tapi justru karena memberi, ia dilempari batu agar buahnya jatuh."
Arga terdiam.
"Tidak semua lemparan batu adalah kebencian. Kadang itu tanda bahwa kita sedang berbuah."
Musim berganti.
Arga semakin dikenal sebagai orang yang ringan tangan.
Namun hidupnya tetap sederhana.
Rumahnya kecil.
Pakaiannya biasa.
Sepeda motornya tua.
Tetapi hampir setiap hari ada orang yang datang meminta nasihat atau bantuan.
Ia tidak pernah menolak.
Suatu hari banjir besar melanda desa.
Air sungai meluap hingga merendam rumah-rumah.
Tanpa berpikir panjang Arga turun membantu.
Ia menggendong anak-anak.
Mengangkat orang tua.
Menyelamatkan beras dan pakaian warga.
Selama tiga hari tiga malam ia hampir tidak tidur.
Saat banjir surut, tubuhnya demam tinggi.
Beberapa minggu kemudian dokter menyatakan ginjalnya mengalami kerusakan akibat kelelahan dan infeksi yang terlambat ditangani.
Arga hanya tersenyum.
"Kalau memang umur saya sampai di sini, saya ikhlas."
Beberapa bulan kemudian, lelaki itu meninggal dunia.
Pemakamannya berlangsung sederhana.
Tidak ada pejabat.
Tidak ada karangan bunga mewah.
Hanya keluarga, tetangga, dan beberapa sahabat.
Namun setelah pemakaman selesai, orang-orang mulai berdatangan.
Seorang guru menangis di depan makam.
"Kalau bukan karena Bang Arga yang mengajari saya membaca saat kecil, saya mungkin tidak pernah menjadi guru."
Datang seorang polisi.
"Beliau yang membayar formulir sekolah saya."
Seorang dokter berkata lirih,
"Ketika ayah saya meninggal, Bang Arga diam-diam mengirim beras setiap minggu."
Seorang ibu tua memeluk batu nisan.
"Setiap bulan beliau mengantarkan obat untuk saya tanpa pernah meminta uang."
Lalu datang puluhan anak kecil.
Mereka membawa bunga liar yang dipetik dari pinggir sawah.
"Terima kasih, Om Arga..."
Tangis pecah di mana-mana.
Barulah semua sadar.
Selama ini mereka hidup dari benih-benih kebaikan yang ditanam seorang lelaki sederhana.
Lelaki tua yang dahulu memberi nasihat berdiri dari kejauhan.
Ia memandang hamparan sawah yang menguning.
Sambil tersenyum ia berbisik,
"Benihmu telah tumbuh, Nak."
Angin berembus pelan.
Bulir-bulir padi bergoyang seperti menganggukkan kepala.
Seakan alam pun ikut menjadi saksi.
Manusia sering berlomba meninggalkan nama di gedung-gedung tinggi.
Ada yang ingin dikenang karena jabatan.
Ada yang ingin dikenang karena kekayaan.
Ada yang ingin dikenang karena ketenaran.
Namun waktu adalah penghapus paling setia.
Nama yang dipahat di batu bisa lapuk.
Foto yang dipajang bisa memudar.
Gedung megah bisa runtuh.
Harta bisa berpindah tangan.
Tetapi satu hal yang tidak pernah mati adalah manfaat.
Satu ilmu yang diajarkan akan terus hidup dalam muridnya.
Satu pertolongan yang tulus akan melahirkan pertolongan lain.
Satu senyuman mampu menguatkan hati yang hampir menyerah.
Satu kebaikan kecil mampu mengubah arah hidup seseorang.
Begitulah benih.
Ia kecil.
Ia sering tak terlihat.
Bahkan kadang diinjak.
Namun ketika waktunya tiba, ia tumbuh menjadi kehidupan.
Jika suatu hari nanti dunia melupakan nama kita, jangan bersedih.
Barangkali nama kita memang tidak tertulis dalam buku sejarah.
Namun jika masih ada seseorang yang tersenyum karena pernah kita bantu, masih ada anak yang berhasil karena pernah kita ajari, masih ada orang yang bangkit karena pernah kita kuatkan, maka sesungguhnya kita belum pernah benar-benar pergi.
Sebab manusia terbaik bukanlah yang paling banyak dipuji, melainkan yang paling banyak meninggalkan manfaat.
Karena hidup bukan tentang seberapa lama kita bernapas.
Bukan pula tentang seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih.
Melainkan tentang seberapa banyak benih yang kita taburkan di ladang kehidupan.
Maka, bila diri ingin dikenang, taburilah benih di tengah sawah. Taburlah benih ilmu, benih kasih sayang, benih kejujuran, benih kepedulian, benih pengorbanan, dan benih keikhlasan.
Sebab ketika jasad telah kembali menjadi tanah, benih-benih kebaikan itulah yang akan terus tumbuh, menguning seperti padi yang siap dipanen, memberi kehidupan bagi banyak orang, dan menghadiahkan doa-doa yang tak pernah putus untuk kita. Itulah warisan sejati manusia.
*****
Komentar
Posting Komentar