TIGA JAM KARENA SATU PERTANYAAN

Raka adalah pengusaha yang punya usaha di Kota A. Jarak dari Kota A ke rumahnya sekitar tiga jam perjalanan.
Tiga jam kalau jalan lancar.
Kalau macet? Bisa sambil menanam cabai dulu di pinggir jalan.

Sementara istrinya, Rara, tinggal di kota kelahiran mereka bersama tiga anak. Rara bekerja sebagai pegawai swasta. Hidup mereka harmonis walaupun berjauhan.
Banyak orang heran melihat Raka.

“Ka, serius kau kuat jauh dari istri?”

Raka mengangguk.

“Kuat.”

“Godaan banyak loh di Kota A.”

Raka santai minum kopi. “Yang menggoda memang banyak.”

“Nah kan.”

“Tapi yang transfer uang sekolah anak cuma istri.”

Sejak itu teman-temannya diam.

Malam itu sekitar pukul delapan, Rara menelepon seperti biasa.

“Bang…”

“Iya sayang.”

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Capek ya hari ini?”

“Lumayan.”

Hening sebentar.

Lalu keluarlah pertanyaan rutin itu.

“Abang pulang hari ini?”

Raka langsung berdiri dari kursinya.
Telepon ditutup.
Temannya yang sedang duduk di kantor heran.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Sekarang?!”

“Iya.”

“Lah tadi bilang besok ada rapat.”

“Masih ada.”

“Terus kenapa pulang?”

Raka memasukkan laptop ke tas. “Istri nyuruh pulang.”

Padahal… Rara merasa dirinya cuma bertanya biasa.
Tiga jam kemudian…
Jam sebelas malam.
Rara sedang duduk santai sambil makan mangga muda pakai garam.
Tiba-tiba terdengar suara pagar.

“Kreeeek…”

Rara melongok ke luar.
Dan hampir tersedak mangga.

“YA ALLAH! ABANG?!”

Raka muncul sambil senyum lebar.

“Iya.”

“Kok pulang?!”

“Kan disuruh.”

“Siapa yang nyuruh?!”

“Kamu.”

“Rara cuma nanya!”

Bagi Raka, itu bukan pertanyaan.
Itu panggilan jiwa.
Anak sulung mereka keluar sambil tertawa.

“Fix. Ayah kena ilmu pelet Mama.”

Raka langsung bangga. “Nah. Anak paham.”

Rara memukul jidat.

“Bang… masa gara-gara satu pertanyaan abang nyetir tiga jam?!”

“Iya.”

“Kalau tadi Rara cuma basa-basi?”

“Mana ada istri basa-basi.”

“ADA!”

“Tidak percaya.”

Rara mulai emosi.

“Kalau gitu besok Rara gak akan nanya lagi!”

“Oke."

Besok subuh pukul empat, Raka sudah siap kembali ke Kota A.
Sebelum pergi ia berkata santai:

“Nanti malam jangan tanya macam-macam.”

Rara kesal. “Iya iya.”

Hari itu Rara benar-benar tidak menelepon.
Jam delapan malam…
Tidak ada telepon.
Jam sembilan…
Tidak ada chat.
Jam sepuluh…
Rara mulai gelisah sendiri.

“Aduh… udah makan belum ya…”

Akhirnya ia menelepon.

“Halo bang…”

“Halo.”

“Lagi apa?”

“Masih kerja.”

“Oh…”

Hening.

Rara sebenarnya ingin bertanya: “Abang pulang hari ini?”

Tapi ia tahan.
Karena takut suaminya langsung nyetir tiga jam lagi.
Akhirnya Rara bertanya hati-hati:

“Bang… jalanan ke sini macet gak?”

Di seberang sana tiba-tiba terdengar suara kursi digeser.

“Iya, agak macet.”

“Loh kok tahu?”

“Aku lagi di jalan pulang.”

“AAAAAA! KENAPA LAGI?!”

“Kan istri mulai bahas jalan ke rumah.”

“ITU CUMA NANYA MACET!”

“Bagi suami setia, itu kode.”

Rara hampir menangis.

“Bang… abang ini sebenarnya pengusaha atau cenayang?”

Raka tertawa puas.
Sementara anak-anak di rumah sudah bersorak:

“AYAH PULAAAANG!”

Sejak saat itu, Rara jadi trauma menelepon.
Kalau mau bicara dengan suaminya, ia harus menyusun kalimat dulu seperti mau ujian negara.
Karena salah satu kata saja…
Bisa membuat seorang pengusaha menempuh perjalanan tiga jam tengah malam hanya demi sebuah “kode” yang sebenarnya tidak ada.


                            *******

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REUNI YANG MENGHIDUPKAN CINTA TERLARANG

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR