KETIKA NAFSU INGIN MENANG
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Vano. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi orang terpandang. Ia ingin rumah besar, pakaian bagus, dan dihormati banyak orang. Setiap kali melihat teman-temannya berhasil, hatinya berbisik, “Aku juga harus punya. Aku tidak boleh kalah.”
Namun kenyataannya tak mudah. Usahanya sering gagal. Modal terbatas, relasi sedikit, dan keluarganya pun sederhana. Berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula ia terjatuh. Dalam kelelahan itu, muncul suara lain dalam dirinya—suara yang tak terlihat, tapi kuat menggoda.
“Ambil jalan pintas saja,” bisik suara itu.
“Sedikit saja berbohong, sedikit saja curang. Nanti juga berhasil.”
Vano tahu itu salah. Ia pernah membaca tentang jiwa yang condong kepada kejahatan, tentang bagaimana manusia harus mengekang nafsunya agar selamat. Tetapi nafsunya begitu keras. Ia ingin cepat sampai. Ia ingin segera terlihat berhasil.
Suatu malam, setelah kegagalan yang kesekian, ia duduk sendirian di beranda rumahnya. Hujan turun pelan. Dalam sunyi itu, ia bertanya pada dirinya sendiri,
“Mengapa aku begitu ingin semua ini? Apakah karena Allah, atau karena ingin dipuji manusia?”
Pertanyaan itu menampar hatinya.
Ia sadar, selama ini ia mengejar kehendak tanpa menimbang kemampuan dan tanpa memperhatikan jalan yang ditempuh. Ia ingin hasil, tapi lupa memperbaiki diri. Ia ingin dihormati, tapi belum belajar rendah hati. Ia ingin kaya, tapi belum sabar dalam proses.
Di situlah ia mengerti: bukan semua keinginan harus dituruti. Ada keinginan yang harus dididik. Ada nafsu yang harus dikekang.
Keesokan harinya, Vano memulai lagi—bukan dengan ambisi membara, tapi dengan niat yang diluruskan. Ia bekerja sesuai kemampuan, jujur walau lambat, sabar walau sedikit. Ia berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia mulai memperbaiki salatnya, memperbanyak doa, dan menyerahkan hasil kepada Allah.
Perlahan, hidupnya berubah. Bukan karena tiba-tiba ia menjadi kaya raya, tetapi karena hatinya menjadi tenang. Ia tak lagi gelisah melihat keberhasilan orang lain. Ia tak lagi tergoda jalan pintas. Ia merasakan kepuasan yang berbeda—kepuasan jiwa yang berdamai dengan takdir.
Beberapa tahun kemudian, usahanya memang berkembang. Rezekinya cukup, bahkan lebih dari yang dulu ia bayangkan. Namun yang paling ia syukuri bukanlah harta atau pujian, melainkan kemenangan terbesar yang pernah ia raih: kemenangan atas dirinya sendiri.
Vano akhirnya memahami, kehendak memang boleh tinggi, cita-cita boleh besar. Tetapi jika jalan untuk mencapainya tak diridhai, maka keberhasilan itu hanya akan menjadi kehampaan.
Dan ia pun belajar satu hal penting:
Bukan semua yang kita mau harus kita kejar dengan paksa. Terkadang yang perlu kita taklukkan bukan keadaan, melainkan nafsu dalam dada.
Karena ketika jiwa berhasil dikendalikan, di situlah kehendak yang sejati benar-benar tergapai.
Komentar
Posting Komentar