DI BALIK PINTU OPERASI , CINTA YANG TAK PERNAH BERPINDAH
Lampu di atas pintu ruang operasi menyala tanpa suara. Warnanya pucat, tapi bagi seorang bapak dan ibu, cahaya itu seperti matahari yang menggantung terlalu lama di ufuk—tak tenggelam, tak juga memberi hangat.
Kami duduk berdampingan di bangku besi yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, tapi di telinga kami bunyinya seperti palu yang memukul-mukul dada. seakan menahan gelombang cemas yang tak ingin ia perlihatkan. Sesekali, di sela napas yang tertahan, terdengar lirih suaranya menyebut nama Allah—pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ingin didengar langit. Dalam diamnya, kami sedang berperang dengan rasa takut, dan dalam setiap asma yang terucap, kami menitipkan harap agar semuanya baik-baik saja.Sedangkan aku menunduk, bibirku komat-kamit, menyebut nama Tuhan di sela napas yang tidak teratur.
Di balik pintu itu, anak perempuan ku sedang berjuang.
Anak yang dulu digendong dengan dua tangan gemetar. Anak yang pertama kali memanggil kami “Ayah” dan “Ibu”. Anak yang kini telah bersuami, telah memiliki rumah dan kehidupannya sendiri.
Namun bagi kami , ia tetap anak kecil yang pernah takut pada gelap, yang pernah demam di tengah malam dan tidur di dada ayahnya, yang pernah menangis memeluk ibu ketika lututnya terluka.
Statusnya mungkin telah berubah—menjadi istri seseorang.
Tetapi di hati kami , ia tidak pernah berpindah tempat.
“Dia memang sudah ada yang menjaga,” bisik ku pelan, menahan tangis. “Tapi hati ini tetap saja… tak bisa tenang.”
Suami ku mengangguk.
“Suaminya bisa menggenggam tangannya di dalam sana. Tapi doa kita… tetap menyelimutinya.”
Kami tahu, kini ada lelaki lain yang menjadi pelindung anak kami. Ada bahu lain tempat bersandar. Namun cinta orang tua tidak pernah pensiun. Tidak pernah berkurang hanya karena akad telah terucap.
Justru hari itu mereka merasakan sesuatu yang lebih dalam.
Bukan sekedar menunggu cucu.
Kami sedang menunggu keselamatan separuh jiwa kami.
“Ya Allah… lindungi anak kami,” bisik ku
Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu. Menunggu adalah ujian paling
sunyi.
Lalu—
Tangis.
Suara itu kecil, namun menggema seperti kabar dari langit. Tangis seorang bayi memecah ketegangan yang menjerat dada kami sejak tadi.
Aku spontan berdiri. Suamiku menatap pintu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Alhamdulillah… ya Allah… telah Engkau berikan kami rezeki…”
Pintu terbuka. Seorang perawat keluar sambil menggendong bayi mungil yang dibungkus kain bedong putih. Wajahnya merah, matanya terpejam, tangisnya masih tersisa di sela napas kecilnya.
Aku mendekat dengan langkah ragu. Mata ku tak berhenti memandangi si kecil. Mengamati garis hidungnya. Bentuk keningnya. Bibir mungil yang bergerak pelan.
“Cucu kita…” bisikku.
Suamiku menyentuh ujung kain bedong itu dengan hati-hati. Hatinya penuh. Namun di tengah rasa lega itu, ada satu kegelisahan yang belum luruh.
Bagaimana keadaan anakku, ya Allah?
Mata kami kembali menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
“Bagaimana ibunya, Sus?” tanya suamiku dengan suara yang ditahan.
“Masih dalam penanganan, Pak. Mohon doanya,” jawab perawat singkat.
Kata-kata itu menggantung.
Aku memandang bayi itu tanpa berkedip. Air mataku jatuh perlahan.
“Anakku… kamu sudah jadi ibu sekarang,” bisik ku lirih. “Tapi bagi ku… kamu tetap anak kecil yang harus dijaga.”
Suami ku menengadah, suaranya berat. “Kalau perlu, biar Ayah saja yang menggantikan sakitmu nak .”
Cinta orang tua memang tak pernah logis.
Walau anaknya telah bersuami, telah dewasa, telah mampu berdiri sendiri—hatik kami tetap bergetar setiap kali anak itu terluka.
Pernikahan mungkin memindahkan tanggung jawab, tetapi tidak pernah memindahkan rasa.
Di lorong rumah sakit itu, kami menyadari satu hal:
Cucu adalah anugerah.
Namun keselamatan anak adalah napas.
“Ya Allah,” doa sang bapak pelan, “jangan Kau beri kami kebahagiaan separuh. Sempurnakanlah… kembalikan anak kami dalam keadaan sehat.”
Kami tetap menunggu.
Dengan doa yang tak pernah putus.
Dengan cinta yang tak pernah berkurang—meski dunia telah menganggap anak itu milik orang lain.
Komentar
Posting Komentar