KESIBUKAN LAMPU MERAH

Pagi datang perlahan seperti orang membuka jendela hari dengan hati-hati. Cahaya matahari mulai muncul dari balik perbukitan, menyebarkan warna keemasan yang hangat. Udara masih terasa segar. Di perpohonan burung-burung berkicau saling bersautan, seolah saling menyapa setelah malam panjang. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar. 

Tak lama kemudian, suara mesin kendaraan mulai terdengar dari berbagai arah. Motor keluar dari gang-gang kecil, mobil meninggalkan halaman rumahnya, angkutan kota dan taxi online melaju di jalan utama. Jalan yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi riuh.

Semua orang tampak sibuk. Ada yang berangkat ke kantor, ada yang mengantar anak ke sekolah, ada yang menuju pasar, ada yang memulai membuka usaha sejak subuh buta.  Seolah seluruh kota bergerak bersama sama mengejar waktu.

Ana juga termasuk di dalamnya.
 Dengan helm yang terpasang rapi ia mengendari motor scoopy menuju kantor. Jalan yang ia lewati setiap hari, pagi itu sudah mulai  padat. Ia melaju mengikuti arus kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi.

Angin pagi menerpa wajahnya, namun pikirannya tetap fokus pada jalan di depan.

Tak lama kemudian ia tiba di sebuah persimpangan besar. Lampu  lalu lintas berubah merah .

Semua kendaraan berhenti. Motor-motor berjajar rapat di depan garis berhenti
 Mobil mengantre di belakangnya. Dari arah kiri dan kanan, kendaraan terus bedatangan sehingga antrean semakin panjang.

Ana menghentikan  motornya di tengah barisan itu. Awalnya suasana terlihat biasa saja. Semua orang menunggu lampu berubah hijau.

Namun tidak lama kemudian,  Ana mulai memperhatikan sesuatu. Beberapa pengendara tampak tidak sabar. Sesorang pria dengan  motor besar tiba-tiba menyelip  dari sisi kiri, memotong antrean untuk berada lebih depan. Di sisi lain pengendara yang sedang membonceng anak permpuan berpakain seragam sekolah maju perlahan melewati garis berhenti, seolah berharap jarak yang lebih  dekat akan membuatnya lebih cepat  melaju. Di belakang Ana, seorang menekan klakson pendek-pendek. Padahal lampu masih berwarna merah. Beberapa pengendara  memutar gas motornya berulang kali. Suara mesin meraung di udara pagi.

Ana melihat wajah-wajah yang terlihat tegang. Mata mereka berulang-ulang menatap lampu lalu lintas, seolah menunggu detik-detik perubahan warna. Seakan satu menit  menunggu adalah sesuatu yang sangat berat.

Ana hanya diam memperhatikan semua itu. Di antara deru mesin dan suara klakson, pikirannya mulai mengembara.

Ia melihat bagaimana manusia begitu bersemangat mengejar urusan dunia. Mereka rela berdesakan di jalan. Mereka memotong antrean, melanggar garis, bahkan  terkadang melanggar aturan demi mempercepat perjalanan. Semua dilakukan agar tidak terlambat sampai tujuan.

Ana menatap lampu merah. Kemudian sebuah pertanyaan kecil muncul dalam hatinya.

" Mengapa manusia begitu takut terlambat dalam urusan dunia?"

Ia kembali melihat sekelilingnya. Motor-motor yang berjejer antrean. Wajah-wajah yang gelisah, tangan-tangan yang siap memutar gas begitu lampu merah berubah hijau. Lalu dalam benaknya muncul sebuah bayangan lain, bola matanya menatap sebuah bagunan mesjid yang berdiri megah di persimpangan lampu lalu lintas.

"Seandainya setiap kali panggilan salat terdengar, orang-orang meninggalkan kesibukan mereka. Melangkah cepat menuju mesjid. Bahkan mungkin berlari kecil agar tidak tertinggal. Seperti kendaraan yang menunggu lampu hijau. Seandainya jalan menuju masjid seramai jalan menuju kantor. Seandainya orang-orang takut terlambat salat sebagaimana mereka takut terlambat bekerja. Seandainya hati bergetar mendengar panggilan azan".

Ana tersenyum kecil dengan pikirannya sendiri, ia sadar dan belajar tentang hari ini.

Di dunia ini, kita manusia sering berlomba mengejar hal-hal yang bersifat sementara. Mereka berlari mengejar waktu, pekerjaan, jabatan dan berbagai urusan dunia. Namun sering kita santai ketika panggilan ibadah datang.  Kita sering sangat takut tertinggal dalam urusan dunia.
Tetapi belum tentu memiliki ketakutan yang sama ketika tertinggal dalam memenuhi panggilan Tuhannya.

Lampu lalu lintas berubah hijau.  kendaraan di depan Ana langsung melaju. Motor dan mobil bergerak serentak. Deru mesin kembali memenuhi udara. Ana pun memutar gas motornya perlahan mengikuti arus kendaraan yang melaju kedepan.

Persimpangan itu kembali kosong, tapi mengajarkan satu hal  kepada Ana :

"Jika kita sebagai manusia bisa bergegas mengejar dunia, seharusnya kita juga mampu bergegas menuju panggilan kebaikan".














Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu