AKU TIDAK PERLU TAHU
Aku capek…
bukan karena hidup berat,
tapi karena aku ingin tahu semua jawabannya.
Subuh itu datang seperti biasa—sunyi, pelan, nyaris tak terasa.
Namun pagi itu, ada yang berbeda.
Aku terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Seperti ada yang memanggil, lembut, tapi tak memberi pilihan untuk diabaikan. Mataku terbuka, menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Hening. Bahkan detak waktu terasa melambat.
Aku duduk di tepi ranjang.
Ada yang mengganjal di dada. Bukan luka yang jelas bentuknya, bukan pula kesedihan yang bisa langsung kusebut. Lebih seperti kumpulan rasa yang selama ini kutahan—lelah, kecewa, cemas, dan entah kenapa… kosong.
Aku menarik napas panjang, lalu berdiri.
Air wudhu menyentuh wajahku. Dingin. Menyadarkan. Tapi yang lebih terasa adalah sesuatu di dalam—seperti perlahan diluruhkan, meski belum sepenuhnya hilang.
Aku membentangkan sajadah.
Sholat Subuh itu terasa berbeda.
Tidak tergesa, tidak sekadar menggugurkan kewajiban. Setiap gerakan kulakukan lebih pelan, lebih sadar. Takbir pertama terasa seperti membuka pintu yang lama tertutup. Bacaan ayat mengalir lirih, nyaris bergetar.
Rukuk. Sujud. Duduk di antara dua sujud.
Semua terasa lebih dalam.
Di sujud terakhir, aku berhenti lebih lama dari biasanya. Tidak banyak kata yang kupanjatkan. Bahkan hampir tak ada.
Hanya satu kalimat yang akhirnya keluar, lirih dan jujur:
“Aku lelah…”
Bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena aku terlalu lama memaksakan diri untuk kuat.
Aku menyelesaikan sholat, lalu tetap duduk. Sajadah masih terbentang. Ruangan itu masih sama. Namun hatiku tidak lagi berada di tempat yang sama.
Tanganku meraih Al-Qur’an di sampingku.
Sudah lama aku membacanya, tetapi pagi itu aku ingin benar-benar mendengarkan.
Halaman demi halaman kubuka perlahan, hingga mataku berhenti pada satu ayat:
Surat Al-Ma'idah ayat 109
Aku membaca.
Pelan.
Lalu kubuka terjemahannya, kuresapi setiap katanya.
Tentang hari ketika Allah mengumpulkan para rasul. Tentang pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Dan tentang jawaban mereka—jawaban yang sederhana, namun mengguncang:
mereka tidak mengetahui.
Bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Aku terdiam.
Ayat itu terasa seperti cermin.
Aku mengulangnya. Lalu membuka tafsirnya. Kalimat demi kalimat terasa menembus lebih dalam—tentang keterbatasan manusia, tentang kerendahan hati para rasul, tentang penyerahan total kepada Yang Maha Mengetahui.
Dan di situlah, sesuatu dalam diriku runtuh.
Selama ini aku terlalu sibuk ingin memahami segalanya.
Aku ingin tahu mengapa hidup berjalan seperti ini. Mengapa orang-orang bersikap demikian. Mengapa harapan tak selalu menjadi kenyataan.
Aku ingin jawaban.
Aku menuntut penjelasan.
Padahal bahkan para rasul tidak mengklaim mengetahui.
Air mataku jatuh, perlahan.
Bukan karena luka yang baru, melainkan karena kesadaran yang datang terlambat.
Aku terlalu memaksakan diri.
Aku ingin mengendalikan hal-hal yang bukan bagianku.
Aku lupa bahwa aku hanyalah manusia.
“Aku tidak harus tahu semuanya…” bisikku.
Kalimat itu terasa asing, namun menenangkan.
Untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku tidak mengerti.
Aku membiarkan diriku berhenti bertanya.
Dan di situlah, aku menemukan sesuatu yang tak pernah kudapat dari semua jawaban yang kucari:
ketenangan.
Langit di luar mulai berubah. Gelap yang pekat perlahan retak oleh cahaya. Subuh benar-benar datang.
Aku menatap Al-Qur’an di tanganku.
Bukan lagi sekadar bacaan, melainkan penunjuk arah.
Aku tersenyum kecil.
Mungkin selama ini aku mencari di tempat yang salah—pada manusia, pada keadaan, pada logika yang terbatas. Padahal jawabannya sederhana:
tidak semua harus kupahami.
Yang penting, aku tetap berjalan.
Aku tetap berusaha.
Dan aku percaya.
Aku berdiri, melipat sajadah.
Gerakanku ringan, seolah sesuatu yang lama kupikul akhirnya kulepaskan.
Di depan jendela, cahaya pagi menyentuh wajahku. Dunia terlihat sama, tetapi aku tidak lagi memandangnya dengan cara yang sama.
Aku tidak harus mengerti semuanya hari ini.
Aku tidak harus memiliki semua jawaban.
Aku hanya perlu melangkah.
Satu hari.
Satu usaha.
Dan menyerahkan sisanya.
Subuh itu mengajarkanku sesuatu yang sederhana, namun selama ini sulit kuterima:
bahwa ketenangan bukan datang dari mengetahui segalanya,
melainkan dari menerima bahwa aku tidak perlu tahu segalanya.
Bahwa hidup bukan tentang mengendalikan, melainkan tentang percaya.
Dan bahwa semua yang kulalui hari ini bukan hanya untuk dunia yang sementara,
melainkan untuk hari yang abadi.
Aku tersenyum.
Kali ini, tanpa beban.
Subuh itu, di antara ayat, terjemahan, dan tafsir yang kuhayati, aku tidak sekadar membaca.
Aku pulang.
Dan dari situlah, aku mulai menyiapkan bekal—bukan untuk dunia yang singkat,
melainkan untuk kehidupan yang abadi.
*****
“Aku tidak harus tahu segalanya. Cukup berjalan, percaya, dan berserah—karena yang kutuju bukan dunia, melainkan hari yang abadi.”
Komentar
Posting Komentar