DI BAWAH MEJA BESAR

Di sebuah kantor , ada sebuah meja besar di ujung ruangan. Di belakangnya duduk seorang pimpinan yang merasa dirinya adalah arah mata angin. Apa pun yang ia ucapkan adalah perintah, dan apa pun yang terjadi adalah kesalahan bawahan.

Jika suasana hatinya baik, ruangan terasa terang. Jika hatinya keruh, awan tebal menggantung di langit-langit kantor. Suaranya bisa berubah tajam, menunjuk siapa saja yang dianggap tidak sejalan. Anehnya, bila keputusan yang ia buat keliru, kesalahan itu selalu jatuh ke kursi-kursi kecil di hadapannya.
Di antara kursi-kursi kecil itu, duduklah Raka.

Raka bukan pegawai yang paling vokal. Ia bekerja rapi, datang tepat waktu, dan jarang membantah. Namun entah mengapa, ketika ada berkas yang terlambat, ketika ada laporan yang tidak sesuai, namanya sering disebut lebih dulu.

“Ini tanggung jawab kamu,” kata sang pimpinan suatu hari, di depan rekan-rekannya.
Padahal Raka tahu, instruksi berubah-ubah tanpa arahan jelas. Ia juga tahu, keputusan diambil tanpa pertimbangan matang. Tapi di tempat itu, membela diri sering dianggap melawan. Dan melawan berarti siap disingkirkan.

Raka pulang hari itu dengan dada sesak. Ia bisa saja membalas dengan kata-kata. Ia bisa saja membuka semua fakta. Namun ia teringat pesan ayahnya, “Kesabaran bukan berarti lemah. Ia hanya memilih waktu yang tepat untuk berbicara.”

Maka Raka memilih diam—bukan diam yang pasrah, tetapi diam yang bekerja. Ia mulai mencatat setiap instruksi, menyimpan setiap pesan, merapikan setiap bukti pekerjaan. Ia memperbaiki apa yang bisa ia perbaiki, meski itu bukan kesalahannya.

Hari-hari berlalu. Beberapa rekan memilih diam, Beberapa memilih memberi saran dan ada yang melawan lalu tersingkir.

 Raka tetap di kursinya, tenang seperti akar pohon yang tak terlihat, tetapi menguatkan batang.
Hingga suatu waktu, datanglah pemeriksaan dari atasan yang lebih tinggi. Mereka menelusuri alur kerja, memeriksa keputusan, mencocokkan laporan. Di situlah semua catatan Raka berbicara—tanpa emosi, tanpa amarah.
Kebenaran tidak berteriak. Ia hanya berdiri.

Namun yang mengejutkan, meski hasil pemeriksaan mulai menampakkan kenyataan, sang pimpinan tetap duduk dengan wajah tak berubah. Nada bicaranya masih tinggi. Sikapnya masih seolah tanpa cela. Ia berbicara seperti tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Seakan-akan tembok kesombongan lebih tebal daripada fakta yang terpampang.

Ruangan kembali berjalan seperti biasa. Meja besar itu tetap di tempatnya.
Sebagian orang kecewa. Sebagian lagi putus asa. Tetapi Raka mengerti satu hal: tidak semua kebenaran langsung menjatuhkan yang salah. Ada yang masih diberi waktu. Ada yang masih diberi kesempatan untuk sadar—atau semakin menunjukkan dirinya.

Raka tidak bersorak. Ia juga tidak membalas. Ia tetap bekerja seperti biasa.

Baginya, harga diri tidak dibangun dengan teriakan, melainkan dengan integritas. Ia percaya, mungkin hari ini yang salah tampak tetap berdiri. Namun waktu adalah hakim yang tidak bisa dibohongi.

Di bawah meja besar itu, kursi kecil tetap ada. Namun kini, semua orang tahu—yang membuat bangunan kokoh bukanlah meja besar, melainkan fondasi yang tak terlihat.

Dan fondasi itu bernama kesabaran, kejujuran, dan hati yang tetap lurus meski dipersalahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu