RUMAH YANG KEMBALI BERDUA

Ramadan kali ini terasa berbeda.
Bukan karena tak ada azan. Bukan karena tak ada kurma. Bukan karena tak ada kolak.

Tetapi karena rumah kami kembali berdua.

Sebulan lalu, putri kami duduk di hadapan kami.

“Pa, Ma… kami ingin mencoba tinggal di rumah sendiri. Kami ingin belajar membangun keluarga kecil kami.”
Kalimatnya lembut. Sopan. Penuh hormat.

Namun sebagai orang tua, setiap kata seperti menarik sesuatu dari dada.
Bukankah sejak kecil kami yang mengajarinya berjalan? Bukankah dulu ia tak bisa tidur tanpa memeluk saya? Kini ia ingin belajar hidup… tanpa kami.
Saya tahu, sejak akad nikah itu, ia telah menjadi tanggung jawab suaminya. Saya tahu, anak memang harus dilepas. Tetapi mengetahui dan merelakan adalah dua hal yang berbeda.

Ada rasa kehilangan yang tak bisa dijelaskan. Bukan karena ia tak sayang. Tetapi karena untuk pertama kalinya, saya sadar… saya bukan lagi pusat dunianya.

Dan itu perih.

Ramadan pun datang.
Biasanya dapur riuh menjelang magrib. Cucu berlarian. Meja penuh hidangan. Ada yang mau gorengan sebelum azan. Ada yang protes kenapa esnya kurang manis.

Sekarang?

Hanya dua piring. Dua gelas air putih. Beberapa butir kurma.
Suami meneguk air saat azan magrib.

“Alhamdulillah,” katanya pelan.
Lalu ia menatap kosong ke depan.

“Sepi ya…” kata saya

Ia, mengangguk.

Tiga puluh duah tahun kami membesarkan anak-anak. Bekerja keras. Menyisihkan keinginan demi kebutuhan mereka. Rumah ini dulu penuh suara.
Kini, suara itu tumbuh… dan pergi.

Begitulah hidup orang tua. Kita memulai berdua.

 Rumah menjadi ramai. 
Lalu satu per satu anak pergi mengejar takdirnya. Dan kita kembali ke titik awal: berdua.

Ramadan kali ini mengajarkan saya sesuatu.

Anak adalah titipan. Pasangan adalah teman perjalanan.

Di masa muda kita sibuk menjadi orang tua. Di masa tua, yang tersisa adalah orang yang dulu kita ikrarkan dalam akad.
Karena itu, jangan abaikan pasanganmu. Suatu hari nanti, saat rumah kembali sunyi, dialah yang duduk di hadapanmu saat azan magrib berkumandang.

Ramadan kami mungkin lebih sepi. Tetapi di antara dua piring sederhana itu, ada cinta yang tetap tinggal.

Dan mungkin, itulah yang paling penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu