Kisah Lala "Part 7" KETIKA PANGGUNG USAI SUNYI DIMULAI
Abel berlatih dengan penuh semangat. Melihat kesungguhan dan ketekunannya, hati Lala yang selama ini sunyi terasa terobati. Latihan kini telah memasuki pertemuan ketujuh. Sesuai rencana, latihan hanya dilakukan sepuluh kali.
Lala tidak melatih Abel seorang diri. Ia dibantu teman-temannya di luar kantor yang memiliki keahlian seni teater, seni musik, dan gerak tari. Mereka adalah dosen seni yang datang tanpa bayaran—hanya bermodal persahabatan dan kepercayaan pada Lala. Di luar kantor, Lala dikenal sebagai sosok yang hangat, mudah akrab, dan gemar berbagi.
Sore itu latihan berlangsung sejak pukul 14.00 WIB. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Abel tampak semakin percaya diri karena akan mewakili produk kantor Lala di tingkat provinsi.
“Semangatmu luar biasa, Bel,” puji Pak Kayo.
“Terima kasih, Pak.
Semua ini berkat Ibu Lala dan Bapak-Ibu yang sudah membimbing Abel,” jawabnya sopan.
Abel memang anak yang rendah hati. Ia masih duduk di kelas lima sekolah dasar.
“Hebat sekali, masih SD sudah mewakili tingkat provinsi,” ujar Bu Mimi bangga.
“Itu karena memang ada kategorinya, Bu,” jawab Abel polos.
Latihan pun selesai. Setelah Abel pamit, Lala tinggal bersama tiga sahabatnya: Erik, Pak Kayo, dan Mimi.
“Kenapa latihannya tidak di kantor saja, La? Kenapa di panggung Lapangan Putri Ayu?” tanya Erik tiba-tiba.
Lala tersenyum tipis. “Di sini lebih leluasa. Pemandangannya juga indah.”
“La, kamu menyembunyikan sesuatu, ya?” desak Erik pelan.
“Masih sama perlakuan mereka kepadamu?”
Lala menghela napas panjang. “Begitulah, Rik.”
“Kami tahu, La,” sela Pak Kayo. “Ada yang takut padamu. Kamu berbakat, mudah berkolaborasi. Mereka khawatir kamu akan melampaui mereka.”
Lala hanya tersenyum hambar. “Saya tidak sehebat itu, Pak.”
“Justru karena itu kamu ditekan,” ujar Erik tegas.
Lala mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah, yuk kita ngopi di Cafe Istimewa.”
Hari Perlombaan
Dua hari sebelum keberangkatan, Lala dan Abel menemui pimpinan mereka, Pak Anto, untuk meminta arahan.
“Bagaimana persiapannya, La? Bisa juara?” tanya Pak Anto singkat.
“Insyaallah, Pak. Kami sudah berusaha maksimal.”
Pak Anto menyetujui keberangkatan dan menunjuk Putri untuk mendampingi Lala. Biaya lomba memang sudah dianggarkan sejak awal tahun.
Hari yang ditunggu pun tiba. Dua puluh empat kabupaten/kota mengirimkan perwakilannya. Abel mendapat nomor undian tujuh.
Saat namanya dipanggil, ruangan terasa sunyi. Abel melangkah ke panggung dengan percaya diri. Ia menyapa juri dan penonton, lalu mulai menyampaikan materi dengan lancar dan penuh penghayatan.
Lala menggenggam tangan Putri. Hatinya bergetar antara cemas dan harap.
Alhamdulillah, penampilan Abel berjalan sempurna. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.
Namun saat pengumuman pemenang, kecemasan kembali menyergap Lala. Ia sadar peserta lain juga tampil sangat baik.
Ketika juara harapan telah diumumkan dan nama Abel belum disebut, harapan Lala mulai surut.
“Put, kita keluar saja,” bisiknya lirih.
Belum sempat mereka berdiri, terdengar suara juri, “Juara kedua diraih oleh peserta nomor tujuh.”
Putri spontan memeluk Lala. “La! Abel juara dua!”
Air mata Lala jatuh tanpa bisa ditahan. Ia memeluk Abel yang berseri-seri.
“Terima kasih, Bu Lala,” ucap Abel.
“Ini kerja tim, Bel,” jawab Lala haru.
Ia segera menghubungi Pak Anto.
“Pak, alhamdulillah Abel juara dua.”
“Ya, kami sudah menonton siaran langsungnya,” jawab Pak Anto datar.
Lala terdiam. Ia berharap ada sedikit apresiasi, sekadar ucapan bangga. Namun tak ada kalimat itu.
Badai yang Tertahan
Keesokan harinya Lala masuk kantor seperti biasa.
“Assalamualaikum,” sapanya.
Sebagian menjawab, sebagian hanya diam.
Ia berpapasan dengan Pak Anto di pintu masuk.
“Pak…” sapa Lala.
“Ya,” jawabnya singkat.
Tak ada ucapan selamat. Tak ada senyum.
Lala menuju ruangannya. Ia kembali menemui Pak Anto.
“Pak, terima kasih atas dukungannya. Abel juara dua.”
“Ya, kami sudah tahu,” jawab Pak Anto
singkat, lalu kembali menunduk pada berkas di mejanya.
Lala melangkah kembali ke kursinya. Hatinya terasa hampa.
Ia berpikir, mungkin badai telah berlalu. Namun sikap dingin itu menjadi pertanda lain.
Dari balik dinding ruangan, kembali terdengar bisik-bisik.
“Ah, cuma juara dua.”
“Paling juga kebetulan.”
Lala memejamkan mata. Kali ini ia tidak menangis.
Ia sadar, penghargaan tidak selalu datang dari tempat yang diharapkan. Namun kemenangan Abel adalah bukti nyata kerja kerasnya.
Perlahan ia membuka laptopnya. Ia mulai menyusun laporan kegiatan, lengkap dengan dokumentasi dan evaluasi. Ia tahu, satu-satunya cara menghadapi badai adalah tetap berdiri.
Dalam hatinya ia berbisik,
Badai memang belum berlalu. Tapi aku tidak akan lagi menunduk karena angin.
Di luar jendela, langit siang tampak cerah.
Dan untuk pertama kalinya, Lala tersenyum tanpa beban karena Erik, Mimi dan Pak Kayo memberikan apresiasi yang luar biasa atas perjaungan Lala membawa Abel ke peringkat ke dua.
Komentar
Posting Komentar