Kisah Lala "Part 5" DIANTARA LEBARAN DAN LUKA

Cuti bersama Lebaran tinggal satu hari lagi. Kecemasan Lala datang tiba-tiba, tanpa diundang. Tubuhnya lunglai, detak jantungnya berdebar keras saat membayangkan kakinya kembali melangkah ke kantor—tempat yang selalu membuatnya merasa tidak aman.
Dalam hati, Lala bergumam, andai ada sandaran untuk bersandar, agar keberanian ini punya penopang. Namun tak ada sandaran. Ia merasa seperti kapal kecil di tengah laut, dihantam badai yang tak kunjung reda.
Detak jantungnya semakin kencang. Dalam kegelisahan itu, ingatannya melayang kepada Sang Pencipta. Dengan hati yang galau, Lala bertanya dalam doa, rahasia apakah ini, ya Allah? Ujian, cobaan, atau hukuman?
Ia bangkit dari kursinya dan masuk ke dapur, membereskan peralatan makan bekas tamu Lebaran yang baru saja pulang. Tangannya bergerak, tetapi pikirannya tertinggal jauh.
Hari kerja pun tiba. Seperti biasa, pagi-pagi Lala menyiapkan seluruh keperluan keluarga yang ditinggalkannya di rumah. Saat waktu berangkat kerja hampir lewat, Lala masih berada di dalam kamar—menata hati, menata semangat, dan berusaha menenangkan kecemasan.

“Lala…”

Suara itu datang dari luar kamar. Suara suaminya.

“Ya,” sahut Lala pelan.
“Cepat, kita hampir terlambat.”

Suami Lala bekerja di perusahaan yang sama, meski berbeda unit. Sejak ia melihat rekaman CCTV kejadian yang menimpa Lala di kantor, perhatiannya menjadi jauh lebih besar. Lala merasakannya, tetapi rasa cemas itu tetap tak berkurang, terutama saat membayangkan ruang kerjanya.

“La, cepat. Mas antar. Jangan pergi sendiri".

Lala keluar dari kamar. Dari ruang depan, ia melihat suaminya duduk di balik kemudi mobil, menunggunya dengan sabar. Lala menarik napas panjang, lalu melangkah menghampiri mobil. Ia duduk di samping suaminya. Mobil melaju perlahan. Sepanjang perjalanan, tak satu kata pun keluar dari mulut Lala. Suaminya pun memilih diam—ia tahu, kecemasan itu sedang memenuhi istrinya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kantor. Lala turun dari mobil dengan perasaan gundah. Di depan kantor, beberapa rekan terlihat tertawa dan saling berebut bicara. Lala melangkah menuju pintu kantor sambil mengucap salam.

“Assalamualaikum.”

Ada yang menjawab, ada pula yang memilih diam.
Lala menuju ruangannya. Pak Anto, kepala bidangnya, langsung memanggil.

“La…”
“Ya, Pak.”
“Selamat Lebaran, ya, La.”
“Terima kasih, Pak. Selamat Lebaran juga.”

Tiba-tiba Putri datang dari luar dengan wajah tergesa-gesa. 

“Ada apa, Put?” tanya Lala spontan.

Pak Anto ikut menoleh. “Ada apa, Put?”

“Sebentar, Pak. Sebentar, La,” jawab Putri singkat sambil mengambil catatannya, lalu menghilang begitu saja.

Ruangan kembali sunyi. Hanya ada Lala dan Pak Anto. Rekan kerja lain izin mengantar anak ke sekolah.
Pak Anto memecah keheningan.

“La, bagaimana persiapan lomba produk kita bulan depan? Waktunya tinggal satu bulan. Surat dari kantor pusat sudah datang lima hari lalu.”

Lala menatap Pak Anto.

“Belum terpikirkan lagi, Pak.”

“La, jangan dimasukkan ke hati perlakuan teman-teman. Mereka sering juga menyalahkan Lala ke Bapak, tapi Bapak tidak mau tertipu.”

Lala hanya tersenyum tipis. Ia tahu, Pak Anto kerap condong ke arah angin yang lebih kencang. Kalimat barusan terdengar seperti basa-basi yang menutup peran dirinya sendiri karena pekerjaan kedepannya sangat berat dan penting.
Tak lama kemudian, Putri kembali. Suasana kembali normal.
Keesokan harinya, di ruangan kerja hanya ada Lala dan Putri. Mereka sarapan pagi, membawa bekal masing-masing dari rumah.

“La, kemarin Putri dipanggil Pak Kepala,” ujar Putri hati-hati. “Beliau minta Putri membujuk Lala supaya kembali melaksanakan tugas seperti biasa. Lomba promosi produk tinggal sebulan. Katanya, hanya Lala yang bisa melatih peserta—bahasa, gaya, mimik, sampai nilai jual produk. Akhir tahun juga akan ada seminar besar dengan narasumber nasional dan internasional. Beliau khawatir melihat Lala sekarang, katanya kamu terlihat cuek dan tidak peduli.”

Lala terdiam.

“Put, Lala sudah lelah,” ucapnya akhirnya. “Biarlah orang lain saja. Selama ini setiap kegiatan sudah hampir selesai, selalu saja ada tuduhan. Dan tak pernah ada yang membela.”

Putri terdiam, matanya berkaca-kaca.
“La, kamu mau tahu jawaban Putri ke pimpinan?”

Lala tersenyum kecil.

“Putri bilang begini: Pak, untuk membujuk Lala, Putri tidak sanggup. Karena Lala tidak seperti yang diceritakan orang-orang. Banyak fitnah. Dulu, sebelum Bapak memimpin, kegiatan besar selalu dipercayakan ke Lala dan hasilnya bagus. Tapi setelah sukses, selalu ada laporan yang dibesar-besarkan tanpa klarifikasi. Akhirnya Lala yang jadi korban. Kasihan, Pak.”

Putri menghela napas.

“Kata beliau, nanti Lala akan dipanggil bersama Pak Anto.”

“Terima kasih, Put,” ucap Lala lirih.

Lala mengaku putus asa. Namun ia tetap bertahan—ia masih butuh pekerjaan itu untuk keluarga dan orang tuanya.
Seminggu setelah Lebaran berlalu, semangat Lala belum juga kembali. Akhirnya, pimpinan memanggil Lala dan Pak Anto.
Pak Anto duduk berhadapan dengan Pak Ardi, pimpinan kantor. Lala duduk di kursi tamu.

“Pak Anto,” ujar Pak Ardi, “banyak kegiatan ke depan. Kalau gagal, nama kita dipertaruhkan.”

“Ya, Pak,” jawab Pak Anto. “Kegiatan ini dari awal tanggung jawab Lala, tapi kondisinya sedang kurang sehat.”

“Pak Anto harus cari solusi,” tegas Pak Ardi.

“Lala,” Pak Ardi menoleh, “sebenarnya ada apa? Semangat kerja kamu tidak seperti dulu.”

“Adaapanya Pak?” tanya Lala datar.

“Lala yang dulu ke mana?” sahut Pak Ardi

Hati Lala teriris. Ia tahu Pak Ardi mengetahui semua kejadian, bahkan sempat membenarkan pengaduan yang tak pernah diklarifikasi.

“La,” sela Pak Anto, “sabar saja. Jangan dimasukkan ke hati.”

“Selama ini saya sabar, Pak,” jawab Lala pelan. “Termasuk saat Pak Anto membalikkan fakta soal rapat luar kota dua bulan lalu.” 

Lala menceritakan semuanya dihadapan Pak Ardi tanpa jedahnya.

Pak Anto terdiam.

“Oh begitu kenyataannya.” kata Pak Ardi. 

“Dan mana janji Pak Ardi untuk menyelesaikan masalah kejadian yang lalu yang buktinya sudah di CCTV?” tanya Lala.

“Kita anggap selesai saja. Sudah lama.”
Kalimat singkat dan padat yang keluar dari mulut Pak Ardi.

Dan Pak Ardi melanjutkan pembicaraannya

 Kita minta sama Lala, mulailah untuk merancang kegiatan yang sudah terencanakan dan ditunggu laporannya.

“Baik, Pak,” jawab Lala kecewa.

Namun dalam hati, Lala berkata: Beginilah nasib orang biasa. Tak punya kuasa, tak punya posisi. Kebenaran sering kalah oleh jabatan dan koneksi.
Pertemuan berakhir. Lala dan Pak Anto kembali ke ruangan tanpa sepatah kata pun. Hingga sore tiba, Lala tetap diam—menyimpan luka yang belum sembuh, di meja kerja yang seharusnya menjadi tempatnya bertumbuh.


Lala melangkah pulang dengan hati yang masih terluka, namun belum menyerah. Ia tahu, tidak semua keadilan datang seketika, dan tidak semua luka harus dijelaskan hari ini. Dalam diam, ia menitipkan lelah dan harapannya kepada Tuhan.

Kisah Lala belum berakhir.

Selama ia masih bertahan dan percaya, langkahnya akan terus berjalan—menuju hari yang kelak menjawab segalanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu