"Part"4 kisah Lala (SAAT KEBENARAN DIPINGGIRKAN)
Esok harinya, Lala kembali ke tempat kerjanya. Di ruang kerja, baru Putri yang datang. Belum sempat Lala duduk, Putri sudah lebih dulu membuka suara.
“Lala, kemarin pimpinan di lokasi menelepon. Mereka meminta kamu hadir ke lokasi. Kenapa tidak datang? Rombongan dari pusat juga ingin bertemu denganmu.”
“Oh… iya, Put,” jawab Lala singkat.
Ia duduk di kursinya sambil menarik napas panjang. Ada sedikit kelegaan yang menyelinap ke dadanya—ternyata, di luar sana masih ada yang mengharapkan kehadirannya.
“Apa alasannya, La?” tanya Putri pelan, khawatir didengar rekan kerja lain.
“Bukan saya tidak mau datang. Saya sudah bersiap berangkat, tapi pimpinan ruangan kita Pak Anto meminta saya tetap di sini karena ada usulan dari teman sebelah dudukmu itu,” kata Lala lirih.
Putri menghela napas pendek. Ia tahu betul situasi yang dialami Lala.
Putri adalah satu dari sedikit orang di kantor yang tulus bersikap baik kepadanya. Saat hanya berdua, mereka sering berbagi cerita—tentang keluarga dan ibadah, bukan gosip. Namun ketika ruangan mulai dipenuhi karyawan, mereka memilih menjaga jarak. Bukan karena tak peduli, melainkan demi menjaga suasana kerja tetap aman.
“Sabar ya, La. Apa yang kamu ceritakan itu sebenarnya sudah disampaikan Andri ke aku. Aku hanya ingin memastikan,” ujar Putri.
“Terima kasih, Put. Waktu kejadian itu Andri memang ada di ruangan ini. Dia bahkan menyarankan Pak Anto agar aku tetap ke lokasi,” ucap Lala, lalu menirukan perkataan Andri dengan hati-hati.
Putri tersenyum kecil. “Berani juga Andri membelamu. Sebenarnya, La, banyak pimpinan takut pada karyawan yang pintar, jujur, dan mau bekerja.”
“Bisa jadi,” sahut Lala lirih. “Takut tersaingi jabatannya.”
Lala tersenyum tipis. Kalimat demi kalimat dari Putri terasa seperti air yang menyirami ruang hatinya yang hampir kering. Ia mulai sadar, tidak semua orang membencinya. Masih ada yang peduli—hanya saja, tidak semuanya berani menunjukkan.
“La, itu suara bos kita,” bisik Putri sambil memutar kursinya, lalu berpura-pura sibuk membuka berkas di atas meja.
Tak lama kemudian, Pak Anto melangkah masuk ke ruangan.
“Assalamualaikum,” sapanya.
“Waalaikumsalam,” jawab Putri dan Lala hampir bersamaan.
Pak Anto duduk di kursinya dan menyalakan laptop. Sambil menunggu proses memuat, ia bertanya dengan nada formal namun berusaha ramah, “Bagaimana kondisi kamu, La? Sudah sehat?”
“Alhamdulillah, Pak,” jawab Lala singkat.
Ruangan kembali sunyi. Masing-masing tenggelam dalam layar laptopnya. Sepuluh menit kemudian, Erni datang—orang yang sebelumnya mengusulkan agar Lala tetap berada di ruangan.
“Pak Anto, bagaimana acara kemarin? Sukses, kan?” tanya Erni sambil tersenyum kecil, seolah ingin menegaskan bahwa acara berjalan baik tanpa kehadiran Lala.
“Begitulah, Bu Erni,” jawab Pak Anto datar.
Topik pun segera dialihkan, seakan semua urusan telah ditutup rapi.
Meski ruangan kini penuh, hati Lala justru terasa kosong. Sesekali terdengar canda Erni dengan Pak Anto. Canda yang dibungkus pekerjaan, namun ujungnya kerap terasa menyentil perasaannya.
Hari demi hari berlalu. Lala tetap bekerja, meski kelelahan batin kian menumpuk. Demi kecukupan ekonomi keluarga, ia bertahan. Orang tua dan adiknya masih bergantung padanya. Di hadapan anak-anak dan orang tua, Lala selalu berusaha tampak bahagia, menyembunyikan beban yang sesungguhnya.
Puasa tinggal tiga hari lagi. Banyak karyawan mulai pulang lebih awal dengan beragam alasan. Di sudut ruangan tempat Lala duduk, Lala termenung. Dada nya terasa sakit, kakinya nyeri tak tertahankan.
“La… La…,” panggil Putri.
Lala tersentak dan sadar ketika Putri memanggilnya.
"Kenapa La, kenapa melamun"
“Dadaku terasa sakit sekali, Put,” jawab Lala pelan.
“Kurangi stres, La. Kita di sini hanya mencari rezeki,” kata Putri lembut
“Aku cemas, Put,” ucap Lala sambil menghela napas panjang. “Setelah lebaran, masih banyak pekerjaan besar menunggu. Padahal kamu sendiri melihat, setiap pekerjaanku hampir selesai, selalu saja muncul fitnah.”
Putri mengangguk pelan. “Iya, La. Entah kenapa bisa seperti itu.”
Mereka pun beranjak pulang, mencoba menyambut lebaran dengan hati yang masing-masing masih menyimpan resah.
Ucapan Idulfitri memenuhi grup WhatsApp kantor. Lala ikut mengirimkan pesan yang sama, namun tak satu pun atasan merespons. Beberapa rekan justru mengirim kartu ucapan secara pribadi. Diam-diam, masih ada yang peduli—namun keberanian mereka mencair di luar kantor dan kembali membeku saat berada di dalamnya.
Penderitaan Lala belum berakhir.
Namun, di balik sunyi yang kerap menyesakkan, Lala percaya satu hal: tidak ada ujian yang datang tanpa batas. Ia memilih menyimpan lelahnya dalam doa, menyerahkan segala fitnah, luka, dan air mata kepada Pemilik kehidupan. Baginya, bertahan adalah bentuk ibadah paling sunyi.
Lala tahu, hari-hari ke depan mungkin belum akan ramah. Tapi ia juga yakin, kebenaran tak selamanya terkubur. Suatu waktu, kejujuran akan menemukan jalannya sendiri. Hingga saat itu tiba, Lala memilih tetap berdiri—meski tertatih—dengan iman sebagai sandaran terakhir.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar