Kisah Lala "Part 6" KETIKA HATI RAPUH, TANGGUNG JAWAB TETAP MENUNGGU

Malam telah melewati separuhnya. Rumah kecil itu tenggelam dalam sunyi. Suami dan anak-anak Lala terlelap dalam mimpi yang tenang. Hanya satu jiwa yang masih terjaga—Lala.
Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi terasa berat. Lala mencoba memejamkan mata, melafalkan doa-doa pengantar tidur, melanjutkannya dengan zikir pelan yang hampir tak terdengar. Namun semakin Lala berusaha tidur, semakin jelas bayangan wajah pimpinan berputar-putar dalam pikirannya. Kata-kata, tekanan, tanggung jawab—semuanya seperti menari tanpa henti.
Dada Lala sesak.
Dalam gelap, Lala berbisik lirih.

“Ya Allah… lindungi hamba-Mu ini dari orang-orang yang zalim. Kuatkan hati dan iman hamba untuk menghadapi ujian-Mu. Jika ini jalan yang harus hamba lalui, jangan biarkan hamba berjalan sendirian.”

Air mata Lala mengalir tanpa suara.
Entah karena lelah atau karena doa yang mulai menenangkan, akhirnya Lala terlelap. Pukul tiga dini hari, alarm berbunyi. Lala terbangun. Ini adalah waktunya—waktu yang selalu Lala tunggu sekaligus ia butuhkan. Di atas sajadah, dalam sepi yang hanya dimengerti langit, Lala mengadukan semuanya. Tentang rasa takutnya. Tentang ketidakadilan yang ia rasakan. Tentang hatinya yang lelah namun tak ingin menyerah.

Subuh datang bersama azan yang menggema. Lala bangkit. Suaminya bersiap ke masjid, sementara Lala menunaikan sholat di rumah. 

Pagi bagi orang lain mungkin dimulai dengan secangkir kopi. Bagi Lala, pagi dimulai dengan doa dan keteguhan.
Seperti biasa, ia membersihkan rumah, mencuci, memasak—semuanya ia selesaikan sebelum berangkat kerja. Tak ada yang tahu bahwa di balik kesibukan itu, ada hati yang sedang berjuang.

“Lala, di mana baju kerja Mas?”  suaminya bertanya dari kamarnya.

“Di kamar sebelah, Mas,” jawabnya lembut.

Namun ketika ia bersiap berangkat, jantungnya kembali berdebar. Kantor. Tekanan. Tanggung jawab.
Ia menarik napas panjang.

“Aku harus kuat,” bisik Lala dalam hati.

Di kantor, suasana terasa biasa. Terlalu biasa. Seolah tak ada yang tahu badai apa yang sedang ia tahan sendirian.

“Lala, ke sini sebentar,” panggil Pak Anto.
Ia duduk di hadapan atasannya.

“Bagaimana persiapan lomba? Waktu tinggal satu bulan. Kalau bukan Lala, siapa lagi?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Lala, itu seperti beban yang kembali diletakkan di pundaknya.

“Yang lain saja, Pak… mungkin Rara?” ucapnya pelan.

“La, ini sudah di-SK-kan atas nama Lala. Pimpinan meminta Lala yang melaksanakan.”

Lala terdiam.

Namanya memang tertulis di sana. Tanggung jawab itu memang melekat padanya. Ia ingin menolak. Ia ingin berkata, “Saya lelah.” Namun yang keluar hanya kalimat yang tertahan rapi.

“Baik, Pak. Saya laksanakan.”

Ia kembali ke mejanya. Layar komputer masih gelap. Seperti perasaannya yang sempat meredup. Di antara keraguan, tiba-tiba terlintas satu nama: Abel. Anak temannya yang mulai menunjukkan bakat luar biasa dalam berbicara di depan umum. Matanya berbinar setiap kali diberi kesempatan. Suaranya penuh keyakinan.
Mungkin… ini bukan hanya tentang beban.
Mungkin ini tentang kesempatan.
Lala mengambil ponselnya dan menelepon Mama Abel.

“Abel terpilih menjadi perwakilan kantor kami untuk lomba produk baru. Bisakah nanti sore dibawa ke kantor untuk latihan?”

Di seberang sana terdengar suara bahagia.

“Alhamdulillah… terima kasih, Bu Lala.”

Untuk pertama kalinya hari itu, hati Lala terasa lebih ringan.
Ketika ia kembali ke ruangan, Putri bertanya,

 “Jadi bagaimana, La?”

“Lala tetap laksanakan Put. Nanti jam dua Abel datang latihan.”
Putri tersenyum. “Semangat ya, La. Putri akan  bantu Lala.”


“Putri siap di belakang Lala. Kalau ada yang perlu dibantu, kabari saja,” ujar Putri tulus.

Lala menoleh dan tersenyum hangat. Senyum kecil itu sederhana, tetapi cukup untuk menguatkan hatinya yang sejak pagi menahan gelisah.

Jam pulang kerja pun tiba. Satu per satu penghuni kantor mulai bersiap meninggalkan ruangan. Kursi-kursi didorong pelan, berkas dimasukkan ke dalam tas, dan suara mesin absen mulai terdengar bergantian.

“La, ayo pulang,” ajak Putri sambil melangkah cepat menuju mesin absen.

“Ya, sebentar,” jawab Lala pelan.

Ia masih merapikan berkas latihan bersama Abel. Tangannya sibuk menyusun kertas, tetapi pikirannya terasa lelah. Saat itulah, dari kejauhan, matanya menangkap sekelompok rekan kerja yang sedang tertawa kecil.
Tawa itu awalnya terdengar biasa. Namun perlahan, kata-kata yang terbawa angin sampai ke telinganya.

“He… he… tadi si Lala melatih si Abel untuk lomba produk. Sok hebat, sok pintar,” ujar Yani dengan nada mengejek.

Teman-temannya tertawa, menimpali dengan kalimat-kalimat yang tak kalah menyakitkan. Langkah Lala terhenti sesaat. Seperti ada sesuatu yang menekan dadanya. Ingin rasanya ia menoleh dan bertanya, 
“Apa salahku?” 

Namun yang keluar dari bibirnya hanya doa yang lirih dalam hati.

“Ya Allah, lindungi hamba-Mu ini.”

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Lala menarik napas panjang, merapikan tasnya, lalu melangkah melewati mereka dengan wajah yang berusaha tetap tenang. Ia memilih diam. Bukan karena tak merasa sakit, tetapi karena ia tahu tidak semua hal harus dibalas dengan kata-kata.

Di perjalanan pulang, senja menggantung pucat di langit. Lala menatap jalanan yang mulai ramai. Ia mencoba mengusir kecemasan yang kembali mengendap. Ia tahu, setibanya di rumah, keluarga menunggunya dengan wajah-wajah yang tak pantas menerima beban dari dunia kerjanya.

Maka ia belajar lagi satu hal sore itu:
Menelan luka dalam diam, dan tetap tersenyum demi orang-orang yang ia cintai.

Dan perjuangan Lala… masih terus berjalan.

Dan di situlah Lala sadar—ia memang tidak sepenuhnya sendiri.
Tak semua perjuangan terlihat.
Tak semua air mata terdengar.
Tak semua doa diketahui orang lain.
Kadang yang membuat kita tetap berdiri bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena kita memilih untuk tetap berjalan—meski pelan, meski tertatih.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu