"Part 9" Kisah Lala SAAT PANGGUNG HAMPIR SEMPURNA

Persiapan demi persiapan acara promosi internasional itu berjalan sesuai dengan rencana. Waktu pelaksanaan tinggal satu setengah bulan lagi. Setiap hari Lala memeriksa kembali daftar pekerjaan yang telah disusunnya: konfirmasi narasumber, desain undangan, susunan acara, hingga koordinasi teknis dengan tim multimedia.
Balasan email dari para pembicara luar negeri sudah diterima. Jadwal sementara pun telah disepakati. Lala membuat tabel perbedaan waktu agar tidak terjadi kekeliruan saat rapat daring. Ia tak ingin ada satu pun detail yang terlewat.
Di ruang kerjanya, map-map berwarna tersusun rapi di atas meja. Putri sesekali menghampiri, membantu mengecek data peserta dan daftar tamu undangan.

“La, untuk pembicara dari Malaysia sudah di kirim biodata lengkap,” ujar Putri pelan.

“Baik, nanti kita serahkan ke tim publikasi untuk dibuatkan poster digital,” jawab Lala sambil tetap fokus pada layar laptopnya.

Meski pekerjaan berjalan lancar, Lala tetap merasakan tekanan yang tak kasatmata. Beberapa rekan hanya memantau dari jauh, sebagian lagi seolah menunggu celah kesalahan. Lala memilih diam. Ia sadar, semakin besar acara yang ditangani, semakin besar pula sorotan yang mengarah kepadanya.

Suatu siang, Pak Anto datang ke mejanya.
“Bagaimana progresnya, La?” tanyanya singkat.

“Alhamdulillah, sesuai timeline, Pak. Minggu depan kita mulai publikasi resmi,” jawab Lala tenang sambil menyerahkan laporan perkembangan.

Pak Anto membaca sekilas, lalu mengangguk. “Pastikan tidak ada kendala teknis. Ini acara internasional.”

“Siap, Pak.”

Setelah Pak Anto berlalu, Lala menarik napas panjang. Ia tahu, satu setengah bulan ke depan akan menjadi waktu yang menentukan. Bukan hanya tentang suksesnya acara, tetapi juga tentang pembuktian.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Lala kembali membuka daftar pekerjaannya. Ia memberi tanda centang pada beberapa poin yang telah selesai. Hatinya sedikit lega. Di luar ruangan, angin berembus pelan. Lala menatap kalender di dinding.
Waktu terus berjalan. Dan bersamaan dengan itu, tekadnya semakin kuat.
Ia tidak ingin sekadar menyelenggarakan sebuah acara. Ia ingin membuktikan bahwa kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berbicara lebih lantang daripada prasangka apa pun. acara 

Waktu pelaksanaan tinggal satu bulan lagi. Persiapan hampir mencapai tahap akhir. Susunan panitia telah dibentuk sesuai arahan Kepala Kantor. Nama-nama yang ditunjuk menerima surat tugas resmi sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Pak Anto pun telah melaporkan seluruh rangkaian kegiatan kepada atasan.

 Keesokan harinya, Kepala Kantor memanggil seluruh panitia untuk menghadiri rapat koordinasi perdana.
Rapat digelar di ruang utama. Pembagian tugas dijelaskan satu per satu. Lala memaparkan alur acara, teknis penyambutan tamu luar negeri, hingga simulasi pelaksanaan pada hari-H. Suaranya tenang, penjelasannya runtut.
Kepala Kantor tampak puas. Beberapa kali beliau mengangguk kecil.

“Baik. Saya senang dengan paparan yang disampaikan Bu Lala. Semoga semua berjalan sesuai rencana,” ujarnya menutup rapat.

Setelah rapat selesai, para panitia kembali ke ruangan masing-masing. Namun sebelum itu, Kepala Kantor menahan Lala, Putri, dan Pak Anto.

“Lala, Putri, Pak Anto, mohon tunggu sebentar di ruangan ini.”

“Baik, Pak,” jawab Pak Anto.

Setelah ruangan kembali sepi, Kepala Kantor menyampaikan arahan tambahan.

“Bu Lala, untuk kebutuhan konsumsi, ATK, dan perlengkapan lainnya segera diproses. Kalau memungkinkan, pemilik toko atau pihak penyedia kita undang saja ke kantor agar bisa dibicarakan langsung mengenai kebutuhan dan anggarannya.”

“Siap, Pak,” jawab Lala.

Putri segera mencatat poin-poin yang perlu ditindaklanjuti. Siang itu juga ia menghubungi beberapa pihak ketiga yang biasa bekerja sama dengan kantor: penyedia konsumsi, percetakan, serta toko perlengkapan acara.
Keesokan harinya, pertemuan kecil digelar bersama para penyedia kebutuhan. Lala memimpin pembahasan dengan rinci—mulai dari jumlah tamu, jenis konsumsi, hingga waktu pengiriman. Semua dibicarakan secara terbuka dan profesional.

Akhirnya, kesepakatan pun dicapai. Harga disetujui, jadwal pengadaan ditentukan, dan masing-masing pihak memahami tanggung jawabnya.

Saat senja mulai turun, Lala merapikan berkas-berkas di mejanya. Satu lagi tahapan besar telah terlewati.

Acara semakin dekat.
Dan detik demi detik, rasa tegang itu kembali menyelinap—bukan karena ia tidak siap, melainkan karena ia tahu, semakin dekat hari pelaksanaan, semakin besar pula ujian yang mungkin menantinya.

Keesokan harinya, Lala berangkat ke kantor seperti biasa. Langkahnya ringan, meski pikirannya masih dipenuhi berbagai persiapan acara. Begitu memasuki ruangan, ia melihat Putri sudah duduk di depan meja kerjanya.
Senyum tipis terbit di wajah Lala. Setidaknya pagi itu ia disambut oleh sosok yang selalu menjadi penguatnya.

“Pak Bos kita ke mana, Put? Dan yang lainnya?” tanya Lala sambil meletakkan tasnya.

“Pak Anto di ruangan Pak Kepala. Ada Kepala Ruangan Pelayanan, Sekretaris, dan Kepala Keuangan juga di sana,” jawab Putri pelan.

Entah mengapa, dada Lala tiba-tiba terasa sesak. Ia teringat percakapannya dengan Sekretaris kantor kemarin sore.
“La, anggaran promosi ini besar sekali, ya. Tidak bisakah kita dapat sedikit percikan rezeki sebagai panitia?” tanya Sekretaris dengan nada yang sulit ditebak.

“Pak, di dalam anggaran tidak ada honor panitia. Peraturannya memang membatasi,” jawab Lala hati-hati.

“Itu kami sudah tahu. Tidak perlu dijelaskan,” potongnya singkat.

Sejak percakapan itu, hati Lala terasa tidak tenang. Ia memahami arah pembicaraan yang tidak diucapkan secara terang-terangan.

Tak lama kemudian, Pak Anto masuk ke ruangan. Ia duduk tenang sambil memainkan pena di tangannya. Dari luar terdengar suara kursi digeser-geser di ruang rapat.

“Ada acara apa, Pak Anto? Ramai sekali di luar,” tanya Lala.

“Pak Kepala menyuruh kita rapat semua,” jawabnya sambil membuka laptop.

“Rapat tentang apa, Pak?” sela Putri.

“Nanti juga tahu. Siap-siap saja kalau dipanggil,” jawab Pak Anto singkat.

Terdengar tawa beberapa rekan kerja di luar ruangan. Lala dan Putri saling berpandangan. Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Tak lama, ponsel Pak Anto bergetar. Pesan di grup WhatsApp masuk: seluruh panitia diminta segera ke ruang Kepala Kantor.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju ruangan itu. Hampir semua peserta rapat telah hadir. Pak Anto duduk di sebelah kanan Kepala Kantor. Lala dan Putri memilih kursi kosong di bagian tengah.
Rapat dibuka oleh Sekretaris kantor, lalu dipimpin langsung oleh Kepala Kantor.
Ternyata, rapat itu membahas pelaksanaan promosi produk internasional.

“Bu Lala,” suara Kepala Kantor terdengar datar.

“Ya, Pak,” jawab Lala, meski jantungnya berdegup kencang.
“Susunan panitia yang telah dibagikan sebelumnya kita cabut. Sudah ada susunan baru. Untuk kegiatan inti, Bu Lala dan Putri tidak lagi menjadi panitia utama. Nama-nama yang baru sudah tertera dalam surat tugas yang akan dibagikan.”

Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam diri Lala.

“Maaf, Pak… apa alasannya?” suaranya terdengar pelan.

“Untuk penanggung jawab anggaran tetap Bu Lala, sesuai Surat Keputusan dari pusat. Namun untuk pengurusan rangkaian kegiatan dan belanja, bukan lagi Bu Lala dan Putri.”

Beberapa rekan kerja saling melempar senyum tipis. Lala menunduk. Air matanya menggenang, nyaris jatuh, namun ia tahan sekuat tenaga.

“Pak Kepala,” suara Putri terdengar tegas, “mengapa seperti ini, Pak? Persiapan sudah sembilan puluh persen dikerjakan Bu Lala. Tiba-tiba diganti tanpa penjelasan?”

“Putri, biarkan Bu Lala beristirahat. Nanti laporan kegiatan tetap Bu Lala yang membuat,” jawab Kepala Kantor.

“Itu tidak adil, Pak,” sahut Lala, akhirnya bersuara.

“Apanya yang tidak adil?” sela Sekretaris.

“Bu Lala dan saya sudah hampir menyelesaikan semuanya. Kenapa justru dikeluarkan?”

Sekretaris tersenyum tipis.

“Selama ini setiap event anggarannya besar, yang dikelola Bu Lala panitia tidak pernah mendapat bonus.”

Lala menatapnya, kali ini tanpa ragu.

“Bonus apa, Pak? Di dalam anggaran tidak ada honor panitia karena itu merupakan  tugas kita  yang sudah ada di  dalam aturan. Dari mana saya harus mengambilnya?”

“Kita bisa saja mencari cara lain,” jawabnya ringan.

Putri kembali angkat suara.

“Selama ini kegiatan transparan, Pak. Saya yang memegang administrasi anggaran. Setelah acara selesai, Bu Lala selalu mengadakan pembubaran panitia dan menjelaskan laporan keuangan secara terbuka. Pak Anto juga tahu.”

Semua mata beralih pada Pak Anto. Namun ia hanya diam, menunduk pada layar laptopnya.

Akhirnya keputusan diketuk.
Bu Lala dan Putri tidak lagi menjadi panitia inti. Seluruh rekanan yang sebelumnya telah disepakati bersama dibatalkan. Penanganan kegiatan diserahkan kepada tim baru yang menamakan diri mereka Kelompok Kencana.

Rapat ditutup.
Lala bangkit dari kursinya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kehilangan jabatan dalam kepanitiaan, melainkan karena merasa dikhianati oleh proses yang telah ia bangun dengan kejujuran.

Di luar ruangan, cahaya matahari masih bersinar seperti biasa.
Namun bagi Lala, hari itu terasa redup.
Ia belajar satu hal: dalam dunia kerja, bukan hanya kompetensi yang diuji, tetapi juga integritas. Dan tidak semua orang siap berdiri tegak ketika kejujuran tidak sejalan dengan kepentingan.

Putri menggenggam tangan Lala pelan.
“Yang benar tetap benar, La.”

Lala menarik napas panjang.

Ia tidak kalah.
Ia hanya sedang dipindahkan dari panggung yang selama ini ia bangun sendiri


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu