KETIKA KESABARAN DIUJI DI MEJA KERJA. "Part" 3


Ketika Kesabaran diuji di Meja Kerja
Kisah Lala belum berlalu "Part" 3

Ramadhan sudah memasuki  hari ke enam.  Lala tetap menjalani rutinitasnya sebagai karyawan di tempat ia bekerja, meski luka batin yang disimpannya belum sepenuhnya pulih. Setiap pagi ia datang tepat waktu, duduk di balik meja kerja yang sama, menata berkas dengan ketelitian yang menjadi ciri dirinya.

Pagi itu, di atas meja kerjanya, tergeletak sebuah surat yang diteruskan kepadanya. Lala membacanya perlahan, memahami makna demi makna. Surat tersebut berisi pemberitahuan kunjungan instansi pusat ke salah satu lembaga binaan tempat ia bekerja.

Perasaan Lala bercampur aduk. Hatinya bertanya-tanya, dengan siapa ia harus berkoordinasi. Apakah kisah pahit sebelumnya akan terulang kembali? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

Lamunannya terhenti ketika seseorang memanggilnya dari luar ruangan.

“Bu Lala, dipanggil Pak Kepala. Ditunggu di ruangannya.”

Lala tersentak. “Oh iya, terima kasih,” ujarnya pelan. Ia bangkit dari kursi, melangkah dengan hati-hati, membawa kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan.

“Izin, Pak. Bapak memanggil saya?” katanya sopan.

“Iya, duduklah.”

Lala duduk di samping atasannya yang telah lebih dulu berada di ruangan kepala kantor.

“Apakah surat dari kantor pusat sudah dibaca?” tanya pimpinan itu dengan suara datar.

“Sudah, Pak. Apa yang harus saya kerjakan?”

“Tolong buatkan surat tugas panitia sesuai nama yang ada di kertas ini. Hubungi pimpinan instansi pusat dan siapkan acaranya sebaik mungkin. Acaranya empat hari lagi. Semoga bisa terlaksana dengan baik.”

Hati Lala mencelos. Janji kepala kantor untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan tak pernah benar-benar ditepati. Ia ingin menolak tugas itu. Luka lama belum sepenuhnya sembuh. Namun ia masih seorang karyawan. Tugas tetaplah tugas. Dengan menahan perasaan, Lala menerimanya.

Ia mulai menyusun surat tugas. Dari daftar nama yang diberikan, Lala ditunjuk sebagai ketua koordinator kegiatan. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan rapi dan teliti. Sayangnya, nama-nama yang tercantum dalam surat hanya hadir sebagai tulisan. Tidak satu pun benar-benar datang untuk mempersiapkan acara yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya di instansi binaan mereka.

Lala memilih berpikir positif, meski hatinya kerap teriris.

Di kantor, ia dikucilkan. Di luar sana, ia dihargai dan disegani.

Bantuan justru datang dari luar kantor.

“Bu Lala, ada acara ya? Kami dapat informasi dari lokasi binaan kantor ibu. Katanya ibu koordinatornya?” suara di seberang telepon terdengar akrab.

“Iya, Dek,” jawab Lala.

Percakapan singkat itu berlanjut. Intinya, komunitas menyatakan siap membantu menyukseskan acara tersebut. Mereka adalah orang-orang yang selama ini membantu Lala bangkit dan kembali berkarya sesuai hobinya—tanpa pamrih.

Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi itu, Lala datang ke kantor dengan perasaan sedikit lega. Ia berharap pimpinannya mulai membuka mata dan hati.

Sementara rekan kerja yang namanya tercantum dalam surat tugas sudah bersiap menuju lokasi, Lala masih berada di ruangan, menyiapkan berkas.

“Izin, Pak. Ini berkasnya,” kata Lala sambil menyerahkan map.

“Terima kasih,” jawab atasannya singkat, lalu masuk ke ruangan kepala kantor.

Lala bersiap untuk berangkat. Namun ponselnya bergetar.

“Bu Lala di mana? Peserta sudah hadir. Banyak yang menanyakan ibu,” suara Andi, salah satu panitia, terdengar cemas.

“Ibu masih di kantor. Ini sudah siap untuk berangkat,” jawab Lala.

Tak lama kemudian, telepon lain masuk. Dari Bu Yenni, ajudan ketua rombongan kantor pusat.

“Bagaimana persiapan di sana, Bu Lala?”

“Sudah baik, Bu. Undangan sudah pada hadir. Panitia dari kantor juga sudah di lokasi. Kepala kantor sedang menuju ke sana.”

"Begitu informasi dari panitia di lokasi sebentar ini bu."

“Bu Lala di mana?”

“Saya masih di kantor. Akan menyusul.”

“Oke, kita bertemu di lokasi.”

Lala menyampaikan percakapan itu kepada atasannya yang berada di luar kantor. Setelah itu, ia kembali ke ruangan untuk mengambil keperluan. Tidak lama berselang, atasannya pun kembali masuk dan duduk di kursi kerjanya.

Salah seorang rekan kerja membuka suara.

“Pak, mau berangkat lagi ke lokasi? Kalau saya tidak ikut, karena tidak tergabung dalam kepanitiaan.”

“Oh ya. Rencananya mau berangkat lagi bersama Lala,” jawab atasannya.

“Lala tidak usah ke lokasi saja, Pak. Pekerjaan di kantor masih banyak,” sahut rekan lain.

“Kenapa saya tidak ikut? Koordinatornya kan saya,” ujar Lala, berusaha mempertahankan haknya.

Namun atasannya mudah dipengaruhi. Pikiran yang semula jernih mendadak keruh. Yang benar dapat menjadi salah. Ke mana angin berembus, ke sana pula ia condongnya.

Luka lama hampir pulih, luka baru datang lagi, gumam Lala dalam hati.

“Lala, sebaiknya kamu di kantor saja. Kalau ada tamu, siapa yang melayani? Hampir semua pegawai sudah berada di lokasi,” kata atasannya akhirnya.

Dada Lala sesak. Kelopak matanya panas menahan air mata. Rasa malu menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia duduk termenung, lalu menyalakan komputer untuk menutupi wajahnya yang memerah. Rekan yang memberi saran itu bersenandung ringan, seolah merasa menang.

Ponsel Lala berdering berkali-kali. Ia mengabaikannya. Telepon itu dari atasannya.

Tak lama, ponsel Rizki—rekan di sebelahnya—berdering.

“Rizki, Lala di mana? Pertanyaan atasannya.

"Masih di ruangan kerja pak."

Berikan ponselmu ke Lala!”

"Baik pak."

Rizki memberikan ponselnya ke Lala.

Lala mengambil ponsel itu.

“Ada apa, Pak?”

“La, cepat ke lokasi.”

“Ada apa, Pak?”

“Tamu banyak menanyakan kamu. Tim pusat juga banyak bertanya. MC tidak ada.”

Dimana setiap acara selama ini yang menjadi MC adalah Lala.

Dengan perut yang mulai melilit, Lala menjawab tegas.

“Maaf, Pak. Perut saya sakit. Saya tidak sanggup ke lokasi.”

Telepon ditutup dengan sopan.

Beberapa menit kemudian, komunitas kembali menelepon.

“Bu Lala, acaranya tidak sesuai skenario.”

"Ibu dimana?"

“Ibu di kantor. Ada tamu,” jawab Lala lirih.

“Tidak mungkin, Bu. Kami dapat informasi dari seseorang, ibu dilarang hadirkan?"

“Bukan, itu tidak benar" ucap Lala, meski hatinya perih.

Lala berusaha menutupi peristiwa di kantor, walaupun hatinya tersayat.

Jam di dinding menunjukkan waktu istirahat. Seperti biasanya, sejak kasus yang menimpa Lala sebulan lalu, suaminya selalu menyempatkan diri datang menjemput, menatap wajah istrinya yang tampak letih, sedih, dan menyimpan kelelahan yang tak terucap, suaminya bertanya.

“Ada apa, La?” tanyanya lembut.

Lala menceritakan semuanya secara singkat. Beban perasaan berat yang dirasakan Lala sedikit mulai berkurang. Lala sudah mulai merasakan kehadiran teman hidupnya lagi untuk berbagi suka dan duka.

“Sabar ya, La. Ini ujian,” kata suaminya, menahan sedih.

Sesampainya di rumah, mereka menunaikan sholat Zuhur berjemaah. Usai berdoa, Lala berkata pelan, “Aku tidak sanggup kembali ke kantor. Perutku sakit sekali.”

“Istirahat saja. Jangan lupa izin sakit,” jawab suaminya.

Lala masuk ke kamar. Rintihan sakit tak tertahankan. Maagnya kambuh. Ia memilih bertahan tanpa obat hingga waktu berbuka.

Menjelang senja, azan magrib berkumandang. Lala membuka mata dengan napas yang masih tertahan. Dalam lemah, ia berbisik dalam doa.

Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak mampu kuucapkan. Jika manusia menutup pintu keadilan, jangan Engkau tutup pintu-Mu. Kuatkan aku untuk tetap jujur, meski disisihkan; tetap ikhlas, meski disakiti.

Lala menyadari, tidak semua luka harus dibalas dengan amarah. Sebagian cukup diserahkan kepada Tuhan. Sebab di hadapan-Nya, air mata tidak pernah sia-sia, dan kesabaran selalu menemukan jalannya sendiri. 


Kisah Lala belum berlalu. 

Namun kini Lala tak lagi merasa sendiri. Sejak peristiwa bulan lalu, suaminya semakin banyak memberikan perhatian; ke mana pun Lala pergi, ia selalu menawarkan diri untuk menemani dan menjaganya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR

Bahagia Dalam Pengasuhan Ibu