BERANI MENJADI DIRI SENDIRI

Nayla berdiri lama di depan cermin kamar kosnya.
Tangannya menarik pelan bagian baju yang terasa sempit di pinggang.

“Kenapa sih badanku nggak kayak Dita?” gumamnya pelan.

Ia memandangi tubuhnya dengan wajah kecewa. Menurutnya, tubuhnya terlalu berisi. Tidak gemuk, tetapi juga tidak kurus seperti perempuan-perempuan yang sering ia lihat di media sosial atau teman-temannya di kantor.

Padahal banyak orang mengatakan Nayla cukup menarik. Kulitnya bersih, wajahnya manis, dan senyumnya hangat. Namun, semua pujian itu seolah tidak pernah masuk ke dalam hatinya.

Yang Nayla lihat setiap bercermin hanyalah kekurangan.

Di kantor, Nayla bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta. Ia dikenal ramah dan teliti. Namun di balik itu, Nayla selalu kurang percaya diri, terutama soal penampilan.
Suatu pagi, pengumuman besar ditempel di papan informasi kantor.

“Acara Gathering Nasional Perusahaan akan dilaksanakan di Hotel Grand Mahkota…”

Sorak gembira terdengar di mana-mana.

“Wah, seru nih!”

“Katanya semua cabang hadir!”

“Bakalan ramai!”

Namun Nayla justru diam.
Sepanjang jam kerja, pikirannya tidak tenang. Ia membayangkan semua pegawai tampil cantik dan elegan di acara itu. Sedangkan dirinya? Ia bahkan bingung harus memakai pakaian apa.
Malam harinya, lemari pakaiannya terbuka lebar. Gaun dan baju kerja berserakan di atas tempat tidur.

“Yang ini bikin aku kelihatan gemuk…”

“Yang ini terlalu ketat…”

“Yang ini jelek…”

Satu per satu pakaian dicobanya lalu dilempar kembali.
Nayla menghela napas panjang.

“Aku nggak mau ikut…”

Keesokan harinya, ia mencoba mencari alasan agar tidak hadir. Namun ternyata seluruh karyawan diwajibkan datang.

“Tidak ada alasan ya, Nay,” kata manajernya sambil tersenyum. “Ini acara penting perusahaan.”

Nayla hanya mengangguk lesu.
Hari acara akhirnya tiba.
Hotel Grand Mahkota tampak mewah dan ramai. Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit ruangan utama. Para tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka.
Nayla turun dari mobil sambil menarik napas panjang.
Ia memakai gaun biru tua sederhana yang sebenarnya cukup cantik di tubuhnya. Namun tetap saja, rasa minder memenuhi pikirannya.

“Semua pasti lebih cantik dari aku,” batinnya.

Ia memilih duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya.
Di sisi lain ruangan, para panitia mulai panik.

“MC-nya belum datang?”

“Masih di jalan katanya!”

“Acara mau mulai lima belas menit lagi!”

Wajah pimpinan perusahaan mulai gelisah.

“Bagaimana ini?” ujar Pak Ardi, salah satu manager acara.

Di tengah kepanikan itu, seorang pria memperhatikan Nayla dari kejauhan. Namanya Anri, manager personalia yang ternyata kakak senior Nayla saat SMA.
Anri tiba-tiba teringat sesuatu.

“Pak… bagaimana kalau Nayla saja yang jadi MC?”

Beberapa manager menoleh heran.
“Nayla?”

“Iya,” jawab Anri yakin. “Dulu waktu SMA dia sering jadi pembawa acara.”

“Mana mungkin bisa mendadak begini?” celetuk seseorang.

“Daripada acara kacau karena nggak ada MC,” sahut Anri.

Semua akhirnya setuju.
Tak lama kemudian seorang staf menghampiri Nayla.

“Mbak Nayla, diminta ke ruang tamu VIP.”

“Hah? Saya?” Nayla terkejut.

Dengan bingung ia berjalan menuju ruang VIP. Di sana sudah ada Pak Ardi dan beberapa panitia.

“Nay,” kata Pak Ardi lembut, “kami butuh bantuan kamu jadi MC.”

“M-MC?” Nayla membelalak.

“Iya. MC utama belum datang. Acara harus segera dimulai.”

Jantung Nayla langsung berdegup kencang.

“Pak… saya nggak bisa…”

“Kata Pak Anri dulu kamu sering jadi pembawa acara.”

“Itu dulu, Pak… waktu sekolah… dan karena dipaksa guru.”

Pak Ardi tersenyum kecil.

“Kami percaya kamu bisa.”

Nayla menggenggam jemarinya sendiri. Telapak tangannya dingin.

“Tapi saya nggak pede, Pak…”

“Nggak apa-apa. Kamu nggak sendiri.”

Pak Ardi menunjuk ke arah seorang pria tinggi yang sedang membaca susunan acara.

“Nanti kamu berpasangan dengan Randi.”

Mata Nayla membesar.

“Oh… saya tahu beliau, Pak.”

Randi cukup terkenal di kantor pusat karena kemampuannya membawakan acara.
Dalam hati Nayla makin gugup.

“Apa saya mampu tampil bersama dia?”

Namun keadaan tidak memberinya banyak pilihan.

“Nayla, tolong bantu kami,” ucap Pak Ardi lagi.

Akhirnya Nayla mengangguk pelan.
Ia dibawa ke ruang rias.
Di sana beberapa penata rias langsung sibuk memilihkan gaun dan memperbaiki penampilannya.

“Mbak Nayla cocok pakai model begini,” ujar salah satu tim tata rias.

Rambut Nayla ditata sederhana namun elegan. Make up tipis membuat wajahnya terlihat segar.
Nayla memandangi dirinya di cermin.
Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat buruk seperti yang selama ini ia pikirkan.
Tak lama kemudian Randi menghampirinya sambil tersenyum ramah.

“Halo, Nayla ya?”

“Iya…”

“Santai aja. Nanti kita bagi bagian acara sama-sama.”

Randi mulai menjelaskan susunan acara dengan tenang. Sikapnya membuat Nayla perlahan merasa nyaman.

“Kamu pasti bisa,” kata Randi menyemangati.

Kalimat sederhana itu membuat hati Nayla sedikit lebih tenang.
Lampu ruangan mulai diredupkan.
Musik pembuka terdengar.

“Lima detik lagi!” bisik panitia.

Napas Nayla terasa berat.

“Empat…”

Tangannya dingin.

“Tiga…”

Ia memejamkan mata sebentar.

“Dua…”

Randi tersenyum padanya.

“Satu!”

Mereka berjalan naik ke atas panggung.
Sorot lampu langsung mengarah ke wajah mereka.
Awalnya suara Nayla sedikit gemetar.

“Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua…”

Namun semakin lama, ia mulai menikmati suasana. Suaranya terdengar jelas dan hangat memenuhi ruangan.
Randi beberapa kali tersenyum kagum melihat Nayla.
Para tamu juga mulai terpukau.

“Siapa MC perempuan itu?”

“Bagus banget suaranya.”

“Elegan ya.”

Rekan-rekan kantor yang biasanya melihat Nayla sebagai perempuan pendiam kini memandangnya berbeda.
Gaun yang dipilihkan tim tata rias ternyata sangat cocok untuk bentuk tubuh Nayla. Tubuhnya yang sedikit berisi justru terlihat anggun.
Untuk pertama kalinya, Nayla berdiri di depan banyak orang tanpa merasa malu pada dirinya sendiri.
Ia tertawa, berbicara, dan membawakan acara dengan percaya diri.
Rasa minder yang selama ini menghantuinya perlahan hilang.
Acara malam itu berjalan sukses.
Saat acara selesai, tepuk tangan panjang terdengar memenuhi ruangan.

Nayla tersenyum lega.
Rasa hangat memenuhi dadanya.

“Terima kasih, Nayla,” kata Pak Ardi bangga. “Kamu menyelamatkan acara malam ini.”

Randi juga ikut tersenyum.

“Tuh kan, kamu sebenarnya hebat.”

Nayla tertawa kecil.

“Mungkin… selama ini saya terlalu sibuk melihat kekurangan diri sendiri.”

Malam itu, sebelum tidur, Nayla kembali berdiri di depan cermin.
Wajah yang sama masih ada di sana.
Tubuh yang sama juga masih ada.
Namun ada satu hal yang berubah.
Cara Nayla memandang dirinya sendiri.
Ia akhirnya sadar bahwa cantik bukan soal menjadi kurus seperti orang lain. Cantik adalah saat seseorang mampu menerima dirinya dengan percaya diri.
Sejak malam itu, Nayla tidak lagi membenci tubuhnya.
Ia mulai memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuhnya, bukan memaksakan diri terlihat seperti orang lain.

Ia juga mulai berani tampil di berbagai kegiatan kantor.
Dan yang paling penting…
Kini Nayla tidak lagi takut menjadi dirinya sendiri.


                           *****

Jangan terlalu sibuk mencari kekurangan diri hingga lupa mensyukuri apa yang telah dimiliki. Kepercayaan diri tidak datang karena memiliki tubuh sempurna, tetapi karena mampu menerima dan menghargai diri sendiri. Setiap orang akan terlihat indah ketika ia percaya pada dirinya dan berani menunjukkan kemampuannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REUNI YANG MENGHIDUPKAN CINTA TERLARANG

HARAPAN YANG TUMBUH DI TENGAH PUING - PUING

SABAR