IBU BUKAN HANYA MILIKKU
Di sebuah rumah sederhana, tinggal seorang ibu bersama anak perempuannya, Ana. Dari lima bersaudara, hanya Ana satu-satunya perempuan. Empat lainnya laki-laki, sudah berumah tangga dan sibuk dengan kehidupan masing-masing. Sejak ayah mereka tiada, ibu lebih sering menyebut nama anak-anak lelakinya dalam doa. Hatinya selalu iba melihat mereka bekerja keras menafkahi istri dan anak-anaknya. “Kasihan adek adek mu itu, kerjanya berat,” begitu kata ibu hampir setiap hari. Ana hanya tersenyum. Ia tidak pernah membantah. Semasa sehatnya, ibu adalah sosok yang kuat dan dermawan. Setiap kali salah satu anak laki-lakinya kesulitan, ibu selalu hadir. Kadang dalam bentuk uang simpanannya yang diberikan diam-diam. Kadang dalam bentuk emas yang dijual tanpa sepengetahuan siapa pun. Kadang hanya doa dan dukungan moral yang tak pernah putus. “Tidak apa-apa, yang penting adek adekmu tenang,” begitu kata ibu setiap kali Ana mencoba mengingatkan. Ana pernah berkata pelan, “Bu, sisakan untuk i...