Postingan

KETIKA KESABARAN DIUJI DI MEJA KERJA. "Part" 3 Kisah Lala

Gambar
Ketika Kesabaran diuji di Meja Kerja Kisah Lala belum berlalu "Part" 3 Ramadhan sudah memasuki  hari ke enam.  Lala tetap menjalani rutinitasnya sebagai karyawan di tempat ia bekerja, meski luka batin yang disimpannya belum sepenuhnya pulih. Setiap pagi ia datang tepat waktu, duduk di balik meja kerja yang sama, menata berkas dengan ketelitian yang menjadi ciri dirinya. Pagi itu, di atas meja kerjanya, tergeletak sebuah surat yang diteruskan kepadanya. Lala membacanya perlahan, memahami makna demi makna. Surat tersebut berisi pemberitahuan kunjungan instansi pusat ke salah satu lembaga binaan tempat ia bekerja. Perasaan Lala bercampur aduk. Hatinya bertanya-tanya, dengan siapa ia harus berkoordinasi. Apakah kisah pahit sebelumnya akan terulang kembali? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Lamunannya terhenti ketika seseorang memanggilnya dari luar ruangan. “Bu Lala, dipanggil Pak Kepala. Ditunggu di ruangannya.” Lala tersentak. “Oh iya, terima kasih,” ujarnya...

KEPADA SIAPA AKU MENGADU "Part" 2 kisah Lala

Gambar
Kepada Siapa Aku Mengadu Kisah Lala belum berakhir. "Part" 2 Pagi itu, Lala tetap melangkahkan kakinya menuju tempat kerja. Langkahnya goyah, namun dipaksakan tegak. Bisik-bisik halus dan tawa kecil yang sinis kembali menyambutnya—datang dari sekelompok rekan kerja yang berkumpul di sudut ruangan. Lala duduk di kursinya. Tangannya gemetar saat membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sesekali, rekan satu ruangan melirik dari balik alis, seolah bertanya tanpa suara, “Apakah kamu tidak malu?” Lala menarik napas panjang. Biarkan saja. Aku harus kuat. Sebentar lagi Ramadan akan datang. Semoga hati orang-orang bisa berubah. Namun, doa itu tak serta-merta mengusir sesak di dadanya. Perasaan tertekan justru semakin berat, apalagi setiap kali ingat perlakuan suaminya yang sejak kejadian itu berubah dingin.  Hubungan mereka membeku. Rumah yang dulu hangat kini terasa seperti diselimuti salju. Selama ini, Lala adalah istri yang patuh. Sem...

RUANG TANPA PINTU "Part" 1

Gambar
Catatan Redaksi: Seluruh nama tokoh, instansi, jabatan, dan detail peristiwa dalam cerpen ini telah disamarkan. Cerita ini tidak merujuk pada individu, lembaga, atau kejadian tertentu. Kesamaan dengan peristiwa nyata adalah kebetulan semata. "Part" 1 Lala bekerja di sebuah perusahaan yang, bagi sebagian orang, tampak biasa saja. Pekerjaannya tidak berat—bahkan bisa dibilang teratur dan jelas. Namun, yang paling melelahkan bukanlah tumpukan berkas atau jam kerja, melainkan tekanan batin yang setiap hari ditempa perlahan oleh sikap pimpinan dan lingkaran kecil yang sengaja dibentuk untuk menciptakan ketidaknyamanan bagi siapa pun yang dianggap menghalangi kepentingan mereka. Lala dikenal rajin. Ia bekerja dengan sepenuh hati dan kehati-hatian. Baginya, bekerja adalah ibadah. Dari keyakinan itulah ide-idenya mengalir tanpa diminta. Hampir seluruh waktunya di instansi dihabiskan untuk bekerja, bukan untuk berkumpul atau bergosip seperti sebagian sesama pegawai. Justru...

RUANGAN SUNYI KANTOR

Gambar
Lala seorang pekerja di salah satu kantor di kota yang kecil, dia dikenal rajin dan mempunyai setumpuk ide inovasi. Lala juga dikenal sosok yang  jujur, ramah dan suka menolong. Setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya selalu dikerjakannya dengan sepenuh hati. Ia tidak pernah mengeluh walaupun saat tugas menumpuk atau orang lain meminta bantuannya, Lala bekerja dengan iklas.  Bagi Lala, pekerjaan merupakan ibadah sedangkan membatu orang lain adalah suatu hal kecil dimana kebaikan itu akan kembali sendirinya nanti. Di luar kantor,  banyak orang menyukai Lala. Tetangga, teman - teman lama,  bahkan klien yang pernah berurusan dengannya dan orang yang baru kenal sama Lala merasa nyaman berada dekatnya karena kepribadiannya. Ia merupakan sosok yang mudah membuat orang merasa dihargai. Namun di kantor justru sebaliknya.  Di kantor ada beberapa rekan kerja yang tidak menyukai Lala. Entah karena iri, salah paham yang  tidak perna terselesaikan, yang je...

TITIPAN

Gambar
Hujan turun sejak subuh. Bukan hujan deras yang datang sekejap lalu pergi, melainkan hujan panjang—sabar, dingin, dan melelahkan. Jam demi jam tanah di perbukitan meneguk air hingga jenuh, hingga tak sanggup lagi menahan beban. Sungai yang biasanya jernih perlahan berubah warna menjadi cokelat pekat. Arusnya kian deras, membawa ranting, batang kayu, dan tanah dari hulu. Tanda-tanda itu nyata dan masuk akal, sebenarnya bisa dibaca. Namun kehidupan sering memaksa manusia bertahan pada harapan: bahwa semuanya akan baik-baik saja. Menjelang malam, suara sungai berubah. Ia tak lagi mengalir, tetapi menggeram. Dalam hitungan menit, galodo datang seperti murka yang dilepaskan. Lumpur, kayu-kayu besar, dan batu meluncur tanpa ampun, menghantam rumah-rumah di bantaran sungai. Teriakan minta tolong tenggelam oleh gemuruh air. Ada yang sempat berlari menyelamatkan diri, ada yang terjebak di dalam rumah, dan ada pula yang hilang begitu saja—diseret arus, lenyap tanpa jejak. Malam pun...

MEMGAPAI SURGA DARI LUKA YANG DALAM

Gambar
Dalam satu masa di hidupku, dunia terasa mengecil, menyempit menjadi lorong gelap tanpa pintu keluar. Hari-hari kulewati dengan dada yang sesak, air mata yang tak pernah benar-benar jatuh, dan senyum yang hanya menjadi topeng tipis untuk menutupi badai di dalam hati. Lukaku bukan berasal dari satu peristiwa, melainkan tumpukan kejadian yang perlahan mengikis tenangku. Aku dulu percaya hidup berjalan lurus; kerja keras dihargai, ketulusan dibalas baik. Namun kenyataan tak seindah itu. Ada kalanya kebaikan disalahpahami, niat baik dicurigai, dan usaha tulus justru dijadikan celaan. Ketika orang-orang yang kuanggap keluarga mulai menyudutkanku, aku merasa pondasi hidupku runtuh sedikit demi sedikit. Aku mencoba kuat, tapi pada akhirnya aku harus mengakui, aku terluka. Luka itu tak tampak di kulit, namun tajam menusuk dari dalam dada. Luka yang membuatku berhenti percaya bahwa hidup masih bisa membawa keajaiban. Suatu hari, teringat sebuah nasihat dari guruku waktu sekolah ...

AL QUR'AN SEBAGAI SOLUSI SPRITUAL

Gambar
Kecemasan, stres, kegelisahan hidup sering muncul pada manusia dizaman sekarang. Al Qur'an sudah menjawab kebutuhan tersebut melalui ayat yang menenangkan hati.  "Ketahuilah dengan mengingat Allah hati akan akan menjadi tenang"  (Qs- Ar ra'd 28) Dengan membaca, memahami dan mengamalkan kita bisa memperoleh  ketenangan batin dan kekuatan dalam menghadapi hidup. Al-Quran bukan sekedar dibaca tetapi perlu dipahami dan diamalkan. Bimbingan Nya mulai terasa apabila nilai - nilai terkandung di dalamnya di implementasikàn dalam kehidupan nyata sehari-hari. Apabila kita memikirkannya secara mendalam kita dapat menggali makna  yang lebih dalam sehingga  setiap ayat - ayat Nya menjadi cahaya penuntun dalam setiap keputusan dan tindakan. Al-Quran merupakan  pedoman hidup yang paling sempurnan dan lurus. Al-Quran  sebagai pedoman hidup bukan hanya kebutuhan spritual saja, tetapi juga solusi berbagai persoalan moral, sosial, pribadi. Dengan menj...