DI BALIK PINTU OPERASI , CINTA YANG TAK PERNAH BERPINDAH
Lampu di atas pintu ruang operasi menyala tanpa suara. Warnanya pucat, tapi bagi seorang bapak dan ibu, cahaya itu seperti matahari yang menggantung terlalu lama di ufuk—tak tenggelam, tak juga memberi hangat. Kami duduk berdampingan di bangku besi yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, tapi di telinga kami bunyinya seperti palu yang memukul-mukul dada. seakan menahan gelombang cemas yang tak ingin ia perlihatkan. Sesekali, di sela napas yang tertahan, terdengar lirih suaranya menyebut nama Allah—pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ingin didengar langit. Dalam diamnya, kami sedang berperang dengan rasa takut, dan dalam setiap asma yang terucap, kami menitipkan harap agar semuanya baik-baik saja.Sedangkan aku menunduk, bibirku komat-kamit, menyebut nama Tuhan di sela napas yang tidak teratur. Di balik pintu itu, anak perempuan ku sedang berjuang. Anak yang dulu digendong dengan dua tangan gemetar. Anak yang pertama kali memanggil kami “Ayah” dan “Ibu”. Anak yang...