Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

DI BALIK PINTU OPERASI , CINTA YANG TAK PERNAH BERPINDAH

Gambar
Lampu di atas pintu ruang operasi menyala tanpa suara. Warnanya pucat, tapi bagi seorang bapak dan ibu, cahaya itu seperti matahari yang menggantung terlalu lama di ufuk—tak tenggelam, tak juga memberi hangat. Kami duduk berdampingan di bangku besi yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, tapi di telinga kami  bunyinya seperti palu yang memukul-mukul dada. seakan menahan gelombang cemas yang tak ingin ia perlihatkan. Sesekali, di sela napas yang tertahan, terdengar lirih suaranya menyebut nama Allah—pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ingin didengar langit. Dalam diamnya, kami sedang berperang dengan rasa takut, dan dalam setiap asma yang terucap, kami menitipkan harap agar semuanya baik-baik saja.Sedangkan aku menunduk, bibirku komat-kamit, menyebut nama Tuhan di sela napas yang tidak teratur. Di balik pintu itu, anak perempuan ku sedang berjuang. Anak yang dulu digendong dengan dua tangan gemetar. Anak yang pertama kali memanggil kami “Ayah” dan “Ibu”. Anak yang...

BERANI BENAR, MESKI HARUS SENDIRIAN

Gambar
Di sebuah kantor pelayanan masyarakat, Rahma dikenal sebagai pegawai yang tegas namun lembut. Senyumnya ramah, tutur katanya santun. Tetapi siapa pun tahu, ketika menyangkut keputusan, ia tak pernah bermain-main dengan kebenaran. Suatu siang, berkas penting mendarat di mejanya. Nama yang tertera membuat jantungnya berdegup lebih cepat—pamannya sendiri. Ia mengajukan bantuan dengan data yang “dirapikan”. Tidak sepenuhnya benar. “Rahma,” bisik rekan kerjanya, “ini keluargamu. Tak apa sedikit dilonggarkan.” Rahma menatap lembar demi lembar kertas itu. Ia teringat firman Allah dalam Al-Qur'an, pada Surah An-Nisa ayat 135—perintah untuk menjadi penegak keadilan, bahkan jika itu terhadap diri sendiri atau kaum kerabat. Di dalam hatinya terjadi pergulatan. Ia mencintai keluarganya. Ia tak ingin dianggap durhaka atau tak tahu balas budi. Namun ia juga sadar, jabatan adalah amanah. Dan amanah bukan milik keluarga—ia milik Allah. Sore itu, Rahma mendatangi pamannya dengan wajah t...

DI BAWAH MEJA BESAR

Gambar
Di sebuah kantor , ada sebuah meja besar di ujung ruangan. Di belakangnya duduk seorang pimpinan yang merasa dirinya adalah arah mata angin. Apa pun yang ia ucapkan adalah perintah, dan apa pun yang terjadi adalah kesalahan bawahan. Jika suasana hatinya baik, ruangan terasa terang. Jika hatinya keruh, awan tebal menggantung di langit-langit kantor. Suaranya bisa berubah tajam, menunjuk siapa saja yang dianggap tidak sejalan. Anehnya, bila keputusan yang ia buat keliru, kesalahan itu selalu jatuh ke kursi-kursi kecil di hadapannya. Di antara kursi-kursi kecil itu, duduklah Raka. Raka bukan pegawai yang paling vokal. Ia bekerja rapi, datang tepat waktu, dan jarang membantah. Namun entah mengapa, ketika ada berkas yang terlambat, ketika ada laporan yang tidak sesuai, namanya sering disebut lebih dulu. “Ini tanggung jawab kamu,” kata sang pimpinan suatu hari, di depan rekan-rekannya. Padahal Raka tahu, instruksi berubah-ubah tanpa arahan jelas. Ia juga tahu, keputusan diambil t...

JANGAN TERTIPU ANGAN-ANGAN

Gambar
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Fikri. Ia dikenal pendiam dan rajin beribadah. Namun, di balik sikap tenangnya, Fikri menyimpan luka yang tak banyak orang tahu. Sejak kecil, ia sering menjadi sasaran ejekan teman-temannya. Tubuhnya yang kurus, suaranya yang lembut, dan sifatnya yang tidak suka melawan membuatnya mudah dibully. Ejekan demi ejekan ia telan sendiri. Lama-kelamaan, kata-kata itu menetap di kepalanya. “Kamu lemah.” “Kamu tidak akan jadi apa-apa.” Ucapan itu terus terngiang, bahkan saat ia sedang sendiri. Dari situlah angan-angan kosong mulai tumbuh. Ia melamun tentang menjadi seseorang yang hebat hanya untuk membalas ejekan mereka. Di waktu lain, ia justru tenggelam dalam pikiran gelap—merasa dirinya tidak berharga, merasa Allah tidak adil padanya. Setan memanfaatkan luka itu. Ia menambahkan perasaan sedih dan takut dalam hati Fikri. Ia menyemai benih-benih pertentangan di antara dirinya dan orang lain. Fikri menjadi mudah curiga, mudah ters...

RUMAH YANG KEMBALI BERDUA

Gambar
Ramadan kali ini terasa berbeda. Bukan karena tak ada azan. Bukan karena tak ada kurma. Bukan karena tak ada kolak. Tetapi karena rumah kami kembali berdua. Sebulan lalu, putri kami duduk di hadapan kami. “Pa, Ma… kami ingin mencoba tinggal di rumah sendiri. Kami ingin belajar membangun keluarga kecil kami.” Kalimatnya lembut. Sopan. Penuh hormat. Namun sebagai orang tua, setiap kata seperti menarik sesuatu dari dada. Bukankah sejak kecil kami yang mengajarinya berjalan? Bukankah dulu ia tak bisa tidur tanpa memeluk saya? Kini ia ingin belajar hidup… tanpa kami. Saya tahu, sejak akad nikah itu, ia telah menjadi tanggung jawab suaminya. Saya tahu, anak memang harus dilepas. Tetapi mengetahui dan merelakan adalah dua hal yang berbeda. Ada rasa kehilangan yang tak bisa dijelaskan. Bukan karena ia tak sayang. Tetapi karena untuk pertama kalinya, saya sadar… saya bukan lagi pusat dunianya. Dan itu perih. Ramadan pun datang. Biasanya dapur riuh menjelang magrib. Cucu berlarian. M...

"Part 9" Kisah Lala SAAT PANGGUNG HAMPIR SEMPURNA

Gambar
Persiapan demi persiapan acara promosi internasional itu berjalan sesuai dengan rencana. Waktu pelaksanaan tinggal satu setengah bulan lagi. Setiap hari Lala memeriksa kembali daftar pekerjaan yang telah disusunnya: konfirmasi narasumber, desain undangan, susunan acara, hingga koordinasi teknis dengan tim multimedia. Balasan email dari para pembicara luar negeri sudah diterima. Jadwal sementara pun telah disepakati. Lala membuat tabel perbedaan waktu agar tidak terjadi kekeliruan saat rapat daring. Ia tak ingin ada satu pun detail yang terlewat. Di ruang kerjanya, map-map berwarna tersusun rapi di atas meja. Putri sesekali menghampiri, membantu mengecek data peserta dan daftar tamu undangan. “La, untuk pembicara dari Malaysia sudah di kirim biodata lengkap,” ujar Putri pelan. “Baik, nanti kita serahkan ke tim publikasi untuk dibuatkan poster digital,” jawab Lala sambil tetap fokus pada layar laptopnya. Meski pekerjaan berjalan lancar, Lala tetap merasakan tekanan yang tak k...

"Part 8" Kisah Lala DIANTARA TUDUHAN DAN TANGGUNG JAWAB

Gambar
Sebulan telah berlalu sejak Abel mengikuti lomba promosi produk tingkat provinsi. Namun, bagi Lala, tugas belum benar-benar usai. Masih ada satu pekerjaan besar yang menantinya: promosi produk internasional perusahaan, dengan pembicara dari Malaysia, Eropa, dan juga dari dalam negeri. Malam itu mata Lala tak kunjung terpejam. Waktu sudah larut, tetapi pikirannya terus berkelana pada rangkaian kegiatan yang harus ia susun. Semakin diingat, tubuhnya terasa tidak nyaman. Hingga akhirnya, menjelang subuh, Lala tertidur dalam lelah yang belum benar-benar reda. Pagi tiba. Seperti biasa, Lala memulai harinya di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga. “Ma, ada telepon,” ujar anaknya “Ini, Ma, sudah Dino angkat,” tambah Dino sambil menyerahkan telepon genggam. Lala mengambil ponsel itu. “Terima kasih, Nak,” sapanya lembut. Dari seberang terdengar suara Putri. “Assalamualaikum, La.” “Waalaikumsalam, Put.” “La, soal kegiatan promosi internasional itu jangan lupa, ya. Kemarin sore ak...

Kisah Lala "Part 7" KETIKA PANGGUNG USAI SUNYI DIMULAI

Gambar
Abel berlatih dengan penuh semangat. Melihat kesungguhan dan ketekunannya, hati Lala yang selama ini sunyi terasa terobati. Latihan kini telah memasuki pertemuan ketujuh. Sesuai rencana, latihan hanya dilakukan sepuluh kali. Lala tidak melatih Abel seorang diri. Ia dibantu teman-temannya di luar kantor yang memiliki keahlian seni teater, seni musik, dan gerak tari. Mereka adalah dosen seni yang datang tanpa bayaran—hanya bermodal persahabatan dan kepercayaan pada Lala. Di luar kantor, Lala dikenal sebagai sosok yang hangat, mudah akrab, dan gemar berbagi. Sore itu latihan berlangsung sejak pukul 14.00 WIB. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Abel tampak semakin percaya diri karena akan mewakili produk kantor Lala di tingkat provinsi. “Semangatmu luar biasa, Bel,” puji Pak Kayo. “Terima kasih, Pak.  Semua ini berkat Ibu Lala dan Bapak-Ibu yang sudah membimbing Abel,” jawabnya sopan. Abel memang anak yang rendah hati. Ia masih duduk di kelas lima sekolah d...

Kisah Lala "Part 6" KETIKA HATI RAPUH, TANGGUNG JAWAB TETAP MENUNGGU

Gambar
Malam telah melewati separuhnya. Rumah kecil itu tenggelam dalam sunyi. Suami dan anak-anak Lala terlelap dalam mimpi yang tenang. Hanya satu jiwa yang masih terjaga—Lala. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi terasa berat. Lala mencoba memejamkan mata, melafalkan doa-doa pengantar tidur, melanjutkannya dengan zikir pelan yang hampir tak terdengar. Namun semakin Lala berusaha tidur, semakin jelas bayangan wajah pimpinan berputar-putar dalam pikirannya. Kata-kata, tekanan, tanggung jawab—semuanya seperti menari tanpa henti. Dada Lala sesak. Dalam gelap, Lala berbisik lirih. “Ya Allah… lindungi hamba-Mu ini dari orang-orang yang zalim. Kuatkan hati dan iman hamba untuk menghadapi ujian-Mu. Jika ini jalan yang harus hamba lalui, jangan biarkan hamba berjalan sendirian.” Air mata Lala mengalir tanpa suara. Entah karena lelah atau karena doa yang mulai menenangkan, akhirnya Lala terlelap. Pukul tiga dini hari, alarm berbunyi. Lala terbangun. Ini adalah waktunya—w...

Kisah Lala "Part 5" DIANTARA LEBARAN DAN LUKA

Gambar
Cuti bersama Lebaran tinggal satu hari lagi. Kecemasan Lala datang tiba-tiba, tanpa diundang. Tubuhnya lunglai, detak jantungnya berdebar keras saat membayangkan kakinya kembali melangkah ke kantor—tempat yang selalu membuatnya merasa tidak aman. Dalam hati, Lala bergumam, andai ada sandaran untuk bersandar, agar keberanian ini punya penopang. Namun tak ada sandaran. Ia merasa seperti kapal kecil di tengah laut, dihantam badai yang tak kunjung reda. Detak jantungnya semakin kencang. Dalam kegelisahan itu, ingatannya melayang kepada Sang Pencipta. Dengan hati yang galau, Lala bertanya dalam doa, rahasia apakah ini, ya Allah? Ujian, cobaan, atau hukuman? Ia bangkit dari kursinya dan masuk ke dapur, membereskan peralatan makan bekas tamu Lebaran yang baru saja pulang. Tangannya bergerak, tetapi pikirannya tertinggal jauh. Hari kerja pun tiba. Seperti biasa, pagi-pagi Lala menyiapkan seluruh keperluan keluarga yang ditinggalkannya di rumah. Saat waktu berangkat kerja ha...

"Part"4 kisah Lala (SAAT KEBENARAN DIPINGGIRKAN)

Gambar
Esok harinya, Lala kembali ke tempat kerjanya. Di ruang kerja, baru Putri yang datang. Belum sempat Lala duduk, Putri sudah lebih dulu membuka suara. “Lala, kemarin pimpinan di lokasi menelepon. Mereka meminta kamu hadir ke lokasi. Kenapa tidak datang? Rombongan dari pusat juga ingin bertemu denganmu.” “Oh… iya, Put,” jawab Lala singkat. Ia duduk di kursinya sambil menarik napas panjang. Ada sedikit kelegaan yang menyelinap ke dadanya—ternyata, di luar sana masih ada yang mengharapkan kehadirannya. “Apa alasannya, La?” tanya Putri pelan, khawatir didengar rekan kerja lain. “Bukan saya tidak mau datang. Saya sudah bersiap berangkat, tapi pimpinan ruangan kita Pak Anto meminta saya tetap di sini karena ada usulan dari teman sebelah dudukmu itu,” kata Lala lirih. Putri menghela napas pendek. Ia tahu betul situasi yang dialami Lala. Putri adalah satu dari sedikit orang di kantor yang tulus bersikap baik kepadanya. Saat hanya berdua, mereka sering berbagi cerita—tentang keluarga ...